Benarkah Muharram atau Suro Bulan Keramat? Begini Pandangan Islam

Benarkah Muharram atau Suro Bulan Keramat? Begini Pandangan Islam

Khusus di masyarakat Jawa, bulan Muharram yang dikenal dengan sebutan Bulan Suro kerap dikaitkan dengan berbagai mitos dan keyakinan tertentu. Benarkah demikian?... | Halaman Lengkap

(SINDOnews Ekbis) 14/06/26 11:25 249552

Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriyah dan termasuk salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Namun di tengah masyarakat, khususnya masyarakat Jawa, bulan Muharram yang dikenal dengan sebutan Bulan Suro kerap dikaitkan dengan berbagai mitos dan keyakinan tertentu.

Sebagian masyarakat meyakini Bulan Surosebagai bulan keramat sehingga dianggap kurang baik untuk menyelenggarakan hajatan besar seperti pernikahan, pindah rumah, atau memulai usaha baru. Bahkan ada anggapan bahwa siapa saja yang melangsungkan pernikahan pada bulan ini akan mengalami kesulitan dan musibah dalam kehidupan rumah tangganya.

Selain itu, muncul pula berbagai tradisi yang dilakukan untuk mencari keselamatan atau keberkahan pada malam 1 Suro. Di antaranya tirakatan, semedi, berendam di tempat-tempat tertentu, hingga ritual larung sesaji ke laut. Di sejumlah daerah juga dikenal tradisi kirab pusaka, jamasan keris, dan kirab kerbau bule yang diyakini sebagian masyarakat membawa keberuntungan.

Lantas, benarkah Muharram merupakan bulan keramat yang harus ditakuti?

Muharram adalah Bulan Mulia

Mengutip tulisan Ustaz Abu Nu’aim Al-Atsari, dijelaskan bahwa dalam ajaran Islam, Muharram memang memiliki kedudukan istimewa. Namun kemuliaannya bukan karena dianggap membawa kesialan atau petaka, melainkan karena termasuk salah satu dari empat bulan haram (suci) yang dimuliakan Allah SWT.

Allah Ta\'ala berfirman:

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu pada bulan-bulan itu." (QS At-Taubah: 36)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa empat bulan haram tersebut adalah Zulqa\'dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Imam Ath-Thabari menerangkan bahwa sejak zaman Arab Jahiliyah, bulan-bulan tersebut telah dihormati dan dimuliakan. Bahkan peperangan dihentikan selama bulan-bulan haram berlangsung.

Sementara Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa Allah secara khusus menyebut empat bulan tersebut sebagai bentuk pemuliaan. Oleh karena itu umat Islam diperintahkan menjauhi segala bentuk kezaliman dan kemaksiatan pada bulan-bulan tersebut.

Tidak Ada Larangan Menikah di Bulan Muharram

Keyakinan bahwa menikah pada bulan Muharram akan mendatangkan kesialan tidak memiliki dasar dalam syariat Islam.

Islam tidak pernah melarang pernikahan pada bulan Muharram maupun bulan lainnya. Bahkan dalam Islam, semua waktu pada dasarnya baik untuk melaksanakan akad nikah selama memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.

Karena itu, anggapan bahwa pernikahan pada Bulan Suro pasti membawa petaka termasuk keyakinan yang tidak memiliki landasan dari Al-Qur\'an maupun hadis.

Tradisi Boleh, Keyakinan Menyimpang Harus Dihindari

Islam tidak melarang tradisi budaya selama tidak bertentangan dengan aqidah dan syariat. Tradisi kirab budaya, doa bersama, atau kegiatan sosial dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan masyarakat.

Namun apabila sebuah tradisi disertai keyakinan bahwa benda tertentu, hewan tertentu, atau ritual tertentu dapat mendatangkan berkah, menolak bala, atau menentukan nasib seseorang, maka hal tersebut perlu diluruskan.

Seorang muslim meyakini bahwa hanya Allah SWT yang mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat. Tidak ada benda, pusaka, hewan, maupun tempat tertentu yang memiliki kekuatan gaib secara mandiri.

(wid)

#tahun-baru-islam #sura-muharram #bulan-muharram #bulan-suro #keutamaan-bulan-muharram

https://kalam.sindonews.com/read/1717385/69/benarkah-muharram-atau-suro-bulan-keramat-begini-pandangan-islam-1781406361