#30 tag 24jam
Jelang 1 Muharram, Ulama Anjurkan Minum Susu Putih Sebelum Subuh, Ini Alasannya
Banyak kebiasaan orang-orang saleh yang bisa ditiru karena faedah dan manfaatnya, termasuk amalan menjelang Tahun Baru Islam (hijriyah), yang tahun ini akan jatuh... | Halaman Lengkap [258] url asal
#tahun-baru-islam #muharram #bulan-muharram #minum-susu-di-awal-tahun-hijriyah #tahun-baru-1-muharram
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 14/06/26 19:30
v/249783/
Banyak kebiasaan orang-orang saleh yang bisa ditiru karena faedah dan manfaatnya, termasuk amalan menjelang Tahun Baru Islam(hijriyah), yang tahun ini akan jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.Di antara amalan orang-orang saleh ini, yakni meminum susu putih pada malam 1 Muharram (malan Tahun Baru). Kebiasaan ini selalu diamalkan Ulama besar Makkah, Abuya As-Sayyid Muhammad Bin Alawy Al Maliki (1944-2004).
Pengasuh Ponpes Ash-Shidqu Kuningan Al-Habib Quraisy Baharun dilansir dari kajiannya mengatakan, As-Sayyid Muhammad Bin Alawy apabila masuk 1 Muharram beliau membagikan susu kepada santri-santrinya.
Di dalam minuman susu terdapat anugerah yang telah disiapkan Allah untuk umat Rasulullah SAW. Selain air rendaman kurma, Nabi Muhammad diketahui paling menyukai susu kambing.
Doa dan Faedah Minum Susu
Adapun waktu yang dianjurkan minum susu adalah pada malam 1 Muharram sebelum Subuh. Faedahnya adalah Tafa'ulan (melakukan sesuatu dengan harapan mirip dengan sesuatu itu).Tafa'ulan meminta agar sepanjang tahun dijadikan tahun yang putih, tahun yang bersih, tahun melakukan kebaikan-kebaikan.
Doa Ketika Minum Susu
Allahumma Baarik Lanaa Fiihi wa Zidnaa Minhu
"Ya Allah, berikanlah kepada kami keberkahannya (susu), dan tambahkanlah kepada kami darinya."
Oleh sebab itu dalam doa ditambah kata وزدنا منه.Tambahan doa ini hanya khusus pada minuman susu, tidak pada minuman lainnya meskipun madu.
Faedah susu di antaranya:
1. Menumbuhkembangkan pertumbuhan Anak.2. Susu mencukupi (mengenyangkan) kebutuhan makan minum anak.
3. Susu tidak bikin perut mules.
4. Saat Isra' Mikraj, susu adalah minuman pilihan Rasulullah SAW yakni saat Malaikat Jibril menyuguhkan Khomr dan Susu. Dan Susu adalah tanda kefitrahan umat Rasulullah SAW.
Asal-usul Nama Suro = Asyura? Simak Penjelasannya di Sini!
Benarkah asal-usul nama Suro sama dengan Asyura atau hari ke-10 Muharram? Simak ulasan dan penjelasannya dalam artikel berikut ini. Benarkah asal-usul nama Suro sama... | Halaman Lengkap [215] url asal
#tahun-baru-islam #muharram #1-suro #bulan-muharram #bulan-suro
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 14/06/26 14:40
v/249649/
Benarkah asal-usul nama Surosama dengan Asyura atau hari ke-10 Muharram? Simak ulasan dan penjelasannya berikut ini.Menurut peneliti budaya Jawa Muhammad Solikhin dalam bukunya Misteri Bulan Suro: Perspektif Islam Jawa, kata "Suro" berasal dari bahasa Arab "Asyura" yang berarti "sepuluh".
Istilah tersebut merujuk pada tanggal 10 Muharram atau Hari Asyurayang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam. Pada hari itu terdapat berbagai peristiwa penting yang disebutkan dalam literatur Islam. Dalam tradisi sebagian masyarakat Muslim, Hari Asyura juga dikenal sebagai hari yang dianjurkan untuk berpuasa sebagaimana dicontohkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.
Perspektif Islam tentang Bulan Muharram
Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Allah SWT menyebutnya sebagai bagian dari empat bulan haram atau bulan suci bersama Rajab, Zulkaidah, dan Zulhijjah.Karena itu, para ulama menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak amal saleh pada bulan ini, seperti berpuasa, bersedekah, membaca Al-Qur'an, dan memperbanyak zikir.
Adapun berbagai tradisi budaya yang berkembang di masyarakat tentang tradisi malam 1 Suro, dapat dipandang sebagai bagian dari warisan sejarah dan kearifan lokal, selama tidak bertentangan dengan ajaran tauhid dan syariat Islam.
Malam 1 Suro pada akhirnya bukan sekadar peristiwa pergantian tahun dalam kalender Jawa. Di baliknya tersimpan sejarah panjang akulturasi budaya dan Islam yang diwariskan sejak masa Sultan Agung hingga terus dikenang oleh masyarakat Jawa sampai sekarang.
Benarkah Muharram atau Suro Bulan Keramat? Begini Pandangan Islam
Khusus di masyarakat Jawa, bulan Muharram yang dikenal dengan sebutan Bulan Suro kerap dikaitkan dengan berbagai mitos dan keyakinan tertentu. Benarkah demikian?... | Halaman Lengkap [471] url asal
#tahun-baru-islam #sura-muharram #bulan-muharram #bulan-suro #keutamaan-bulan-muharram
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 14/06/26 11:25
v/249552/
Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriyah dan termasuk salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Namun di tengah masyarakat, khususnya masyarakat Jawa, bulan Muharram yang dikenal dengan sebutan Bulan Suro kerap dikaitkan dengan berbagai mitos dan keyakinan tertentu.Sebagian masyarakat meyakini Bulan Surosebagai bulan keramat sehingga dianggap kurang baik untuk menyelenggarakan hajatan besar seperti pernikahan, pindah rumah, atau memulai usaha baru. Bahkan ada anggapan bahwa siapa saja yang melangsungkan pernikahan pada bulan ini akan mengalami kesulitan dan musibah dalam kehidupan rumah tangganya.
Selain itu, muncul pula berbagai tradisi yang dilakukan untuk mencari keselamatan atau keberkahan pada malam 1 Suro. Di antaranya tirakatan, semedi, berendam di tempat-tempat tertentu, hingga ritual larung sesaji ke laut. Di sejumlah daerah juga dikenal tradisi kirab pusaka, jamasan keris, dan kirab kerbau bule yang diyakini sebagian masyarakat membawa keberuntungan.
Lantas, benarkah Muharram merupakan bulan keramat yang harus ditakuti?
Muharram adalah Bulan Mulia
Mengutip tulisan Ustaz Abu Nu’aim Al-Atsari, dijelaskan bahwa dalam ajaran Islam, Muharram memang memiliki kedudukan istimewa. Namun kemuliaannya bukan karena dianggap membawa kesialan atau petaka, melainkan karena termasuk salah satu dari empat bulan haram (suci) yang dimuliakan Allah SWT.Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu pada bulan-bulan itu." (QS At-Taubah: 36)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa empat bulan haram tersebut adalah Zulqa'dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Imam Ath-Thabari menerangkan bahwa sejak zaman Arab Jahiliyah, bulan-bulan tersebut telah dihormati dan dimuliakan. Bahkan peperangan dihentikan selama bulan-bulan haram berlangsung.
Sementara Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa Allah secara khusus menyebut empat bulan tersebut sebagai bentuk pemuliaan. Oleh karena itu umat Islam diperintahkan menjauhi segala bentuk kezaliman dan kemaksiatan pada bulan-bulan tersebut.
Tidak Ada Larangan Menikah di Bulan Muharram
Keyakinan bahwa menikah pada bulan Muharram akan mendatangkan kesialan tidak memiliki dasar dalam syariat Islam.Islam tidak pernah melarang pernikahan pada bulan Muharram maupun bulan lainnya. Bahkan dalam Islam, semua waktu pada dasarnya baik untuk melaksanakan akad nikah selama memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.
Karena itu, anggapan bahwa pernikahan pada Bulan Suro pasti membawa petaka termasuk keyakinan yang tidak memiliki landasan dari Al-Qur'an maupun hadis.
Tradisi Boleh, Keyakinan Menyimpang Harus Dihindari
Islam tidak melarang tradisi budaya selama tidak bertentangan dengan aqidah dan syariat. Tradisi kirab budaya, doa bersama, atau kegiatan sosial dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan masyarakat.Namun apabila sebuah tradisi disertai keyakinan bahwa benda tertentu, hewan tertentu, atau ritual tertentu dapat mendatangkan berkah, menolak bala, atau menentukan nasib seseorang, maka hal tersebut perlu diluruskan.
Seorang muslim meyakini bahwa hanya Allah SWT yang mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat. Tidak ada benda, pusaka, hewan, maupun tempat tertentu yang memiliki kekuatan gaib secara mandiri.
3 Puasa Sunnah Muharram yang Pahala Tidak Main-main!
Mengenal 3 jenis puasa sunnah yang dianjurkan di bulan Muharram. Pahala puasa sunnah ini tidak main-main, yang sayang bila dilewatkan begitu saja. Puasa apa saja?... | Halaman Lengkap [909] url asal
#puasa-sunnah #puasa-muharram #puasa-di-bulan-muharram #amalan-bulan-muharram #keutamaan-bulan-muharram
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 13/06/26 17:23
v/244924/
Mengenal 3 jenis puasa sunnahyang dianjurkan di bulan Muharram. Pahala puasa sunnah ini tidak main-main, yang sayang bila dilewatkan begitu saja. Puasa apa saja?Ada banyak amalan yang dianjurkan di bulan Muharram ini, yakni memperbanyak amal saleh , bertaubat dan melaksanakan beberapa puasa sunnah Muharram. Khusus puasa sunnah, ada beberapa dalil yang menguatkan anjuran melakukan beberapa puasa sunnah di bulan Muharram ini, di antaranya:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)
Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: “Saya tidak pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih satu hari untuk puasa yang lebih beliau unggulkan dari pada yang lainnya kecuali puasa hari Asyura’, dan puasa bulan Ramadan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Dulu hari Asyura’ dijadikan orang yahudi sebagai hari raya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasalah kalian.” (HR. Al Bukhari)
Dari Abu Qatadah Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Asyura’, kemudian beliau menjawab: “Puasa Asyura’ menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat.” (HR. Muslim dan Ahmad).
Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:
Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang yahudi berpuasa Asyura’. Mereka mengatakan: Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat: “Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang yahudi), karena itu berpuasalah.” (HR. Al Bukhari)
Puasa Sunnah di Bulan Muharram
1. Puasa Asyura
Ini adalah kewajiban puasa pertama dalam Islam sebelum puasa Ramadan. Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:Suatu ketika, di pagi hari Asyura’, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang mendatangi salah satu kampung penduduk Madinah untuk menyampaikan pesan: “Siapa yang di pagi hari sudah makan maka hendaknya dia puasa sampai maghrib. Dan siapa yang sudah puasa, hendaknya dia lanjutkan puasanya.” Rubayyi’ mengatakan: Kemudian setelah itu kami puasa, dan kami mengajak anak-anak untuk berpuasa. Kami buatkan mereka mainan dari kain. Jika ada yang menangis meminta makanan, kami memberikan mainan itu. Begitu seterusnya sampai datang waktu berbuka. (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Setelah Allah wajibkan puasa Ramadan, puasa Asyura’ menjadi puasa sunnah. Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan: "Dulu hari Asyura’ dijadikan sebagai hari berpuasa orang Quraisy di masa jahiliyah. Setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melaksanakan puasa Asyura’ dan memerintahkan sahabat untuk berpuasa. Setelah Allah wajibkan puasa Ramadan, beliau tinggalkan hari Asyura’. Siapa yang ingin puasa Asyura’ boleh puasa, siapa yang tidak ingin puasa Asyura’ boleh tidak puasa. (HR. Al Bukhari dan Muslim)
2. Puasa Tasu’a (puasa tanggal 9 Muharram)
Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan:"Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura’ dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. Kemudian ada sahabat yang berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan orang yahudi dan nasrani . Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahun depan, kita akan berpuasa di tanggal sembilan.” Namun, belum sampai tahun depan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah diwafatkan. (HR. Al Bukhari)
3. Puasa tiga hari di tanggal 9,10,11 Muharram
Jika awal bulan Muharram tidak jelas maka sebaiknya puasa tiga hari: (tanggal 9, 10, dan 11 Muharram), Ibnu Sirrin menjelaskan demikian. Beliau mempraktekkan hal itu agar lebih yakin untuk mendapatkan puasa tanggal 9 dan 10. (Al Mughni)Disamping itu, melakukan puasa 3 hari, di tanggal 9, 10, dan 11 Muharram, masuk dalam cakupan hadis yang menganjurkan untuk memperbanyak puasa selama di bulan Muharram. Sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)
Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa puasa terkait hari Asyura ada tiga tingkatan:
- Tingkatan paling sempurna, puasa tiga hari. Sehari sebelum Asyura, hari Asyura, dan sehari setelahnya.
- Tingkatan kedua, puasa tanggal 9 dan tanggal 10 Muharram. Ini berdasarkan banyak hadis.
- Tingkatan ketiga, puasa tanggal 10 saja. (Zadul Ma’ad)
Lalu, bolehkah puasa tanggal 10 saja? Pendapat Syaikh Ibn Baz rahimahullahmenyebutkan, puasa tanggal 10 saja hukumnya makruh. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berencana untuk puasa tanggal 9, di tahun berikutnya, dengan tujuan menyelisihi model puasa orang yahudi.
Sementara itu, ulama yang lain berpendapat bahwa melakukan puasa tanggal 10 saja tidak makruh. Akan tetapi yang lebih baik, diiringi dengan puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, dalam rangka melaksanakan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam kitab majmu’ fatawa, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: "Bolehkah puasa tanggal 10 Muharam saja, tanpa puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. Mengingat ada sebagian orang yang mengatakan bahwa hukum makruh untuk puasa tanggal 10 muharram telah hilang, disebabkan pada saat ini, orang yahudi dan nasrani tidak lagi melakukan puasa tanggal 10.
Beliau menjawab: Makruhnya puasa pada tanggal 10 saja, bukanlah pendapat yang disepakati para ulama. Diantara mereka ada yang berpendapat tidak makruh melakukan puasa tanggal 10 saja, namun sebaiknya dia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Dan puasa tanggal 9 lebih baik dari pada puasa tanggal 11.
Maksudnya, yang lebih baik, dia berpuasa sehari sebelumnya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jika saya masih hidup tahun depan, saya akan puasa tanggal sembilan (muharram).” maksud beliau adalah puasa tanggal 9 dan 10 muharram….. Pendapat yang lebih kuat, melaksanakan puasa tanggal 10 saja hukumnya tidak makruh. Akan tetapi yang lebih baik adalah diiringi puasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. (Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin)
Ini Amalan Terbaik bagi Wanita Haid dan Nifas di Bulan Muharram
Banyak amalan sunnah di bulan Muharram yang dianjurkan diamalkan, tak terkecuali bagi wanita yang sedang haid dan nifas. Apa saja amalan untuk muslimah yang sedang... | Halaman Lengkap [588] url asal
#amalan-muslimah #tahun-baru-islam #amalan-wanita-haid #amalan-bulan-muharram #keutamaan-bulan-muharram
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 13/06/26 14:13
v/249158/
Banyak amalan sunnah di bulan Muharramyang dianjurkan diamalkan, tak terkecuali bagi wanita yang sedang haid dan nifas. Beberapa amalan yang dianjurkan untuk dilakukan di bulan pertama Hijriah ini antara lain, memperbanyak puasa sunnah, menghidupkan puasa 'Asyura dan Tasu'a (9-10 Muharram) dan memperbanyak sedekah.Sebagaimana keutamaan bulan Muharram, Allah juga akan melipatgandakan pahala setiap amal saleh, maka memperbanyak sedekah termasuk menyantuni anak yatim merupakan amalan yang disukai Allah.
Allah Ta'ala berfirman :
"Perumpamaan orang-orang yang mendermakan (sodaqah) harta bendanya di jalan Allah, seperti (orang yang menanam) sebutir biji yang menumbuhkan tujuh untai dan tiap-tiap untai terdapat seratus biji dan Allah melipat gandakan (balasan) kepada orang yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas (anugrah-Nya) lagi Maha Mengetahui". (QS. Al-Baqarah: 261)
Amalan Wanita Haid
Setiap muslimah yang taat beragama tentu akan bersedih ketika dia tidak mampu beribadah karena terhalang kodratnya. Siklus datang bulan (haid), yang terkadang tidak bisa dikendalikan.Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan, ada amal hati yang memberi peluang bagi muslimah untuk mendulang pahala. Amal itu adalah ridha terhadap ketetapan Allah.
"Ketika anda merasa sedih karena terhalang untuk bisa menjalani ibadah bersama yang lain, kemudian anda bersabar dan ridha terhadap apa yang Allah tetapkan, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal Anda,"ungkapnya.
Ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan haji wada’, beliau berangkat bersama para istrinya. Sebelum masuk kota Makkah, beliau singgah di Saraf. Di tempat ini, Aisyah menangis karena mengalami haid, sehingga beliau tidak bisa Umrah untuk tamattu’.
Sang suami yang baik – Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam – menjenguknya, menjumpai istrinya tercinta dalam keadaan menangis,
“Kamu kenapa? Apa kamu haid?” tanya suami.
“Ya.” Jawab Aisyah.
“Haid merupakan keadaan yang Allah tetapkan untuk para putri Adam. Lakukan seperti yang dilakukan jamaah haji, selain thawaf di Ka’bah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalimat pertama yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghibur istrinya, ‘Haid merupakan keadaan yang Allah tetapkan untuk para putri Adam’. Beliau ingatkan Aisyah agar tidak terlalu bersedih memikirkan keadaannya. Padahal itu satu-satunya kesempatan berhaji bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kesempatan yang tidak mungkin akan berulang. Namun sang suami mengatasi kesedihan istrinya, dengan nasehat agar ridha terhadap ketetapan Allah.
Tetap Bisa Dapat Pahala?
Allah Ta'ala Maha Kaya dan Allah Maha Pemurah. Hingga ketika kita menginginkan untuk melakukan amal saleh, namun itu tidak terwujud karena ada halangan di luar kesengajaannya, Allah catat niatnya sebagai amal saleh.
Allah berfirman,
"Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. (QS. an-Nisa: 100).
Menurut Ustadz Ammi, penyebutan hijrah dalam ayat di atas bukan berarti membatasi hanya masalah hijrah. Karena aturan ini juga berlaku untuk amal saleh lainnya. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kaidah umum ,
"Siapa yang berniat melakukan kebaikan, kemudian dia tidak bisa mengamalkannya, Allah catat untuknya satu amal kebaikan yang sempurna. (HR. Bukhari, Muslim).
Muslimah yang sedang haid dan tidak dapat melaksanakan puasa, akan tetap dapat pahala. Karena andaikan tidak ada halangan, dia akan mengerjakannya. Allah tidak sia-siakan amal hambanya.
Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Apabila seorang hamba itu sakit atau musafir, maka dicatat untuknya seperti melakukan amal saleh ketika dia mukim atau sehat. (HR. Bukhari)
Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan, Sabda beliau, ‘dicatat untuknya seperti melakukan amal saleh ketika dia mukim atau sehat’ ini berlaku bagi orang yang terbiasa melakukan amal soleh, kemudian dia terhalangi. Sementara niatnya ingin terus istiqamah mengamalkannya – andai tidak ada penghalang. (Fathul Bari)
Amalan Sunnah 1 Muharram: Puasa, Sedekah, Tobat hingga Silaturahim
Tanggal 1 Muharram 1448 hijriah bertepatan dengan 16 Juni 2026. Dalam kalender Hijriah , pergantian hari dihitung sejak terbenamnya matahari pada waktu Maghrib... | Halaman Lengkap [593] url asal
#tahun-baru-islam #amalan-muharram #bulan-muharram #amalan-bulan-muharram #tahun-baru-1-muharram
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 13/06/26 12:35
v/249109/
Tanggal 1 Muharram 1448 hijriah bertepatan dengan 16 Juni 2026. Dalam kalender Hijriyah, pergantian hari dihitung sejak terbenamnya matahari pada waktu Maghrib (pada tanggal 15 Juni 2026).Di Tahun Baru Islamini, ada amalan sunnah 1 Muharram yang memiliki banyak keutamaan dan pahala. Muharram merupakan satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah (Asyhurul Hurum).
Saking mulianya bulan Muharramdisebut sebagai Syahrullah (bulan Allah). Salah satu amalan sunnah paling utama dan dianjurkan adalah berpuasa. Rasulullah ﷺ bersabda:
Artinya: "Puasa yang paling utama setelah Ramadan ialah puasa di bulan Allah, Muharram. Dan salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah salat malam." (HR Muslim)
5 Amalan Sunnah 1 Muharram:
1. Puasa Sunnah
Puasa merupakan amalan yang sangat dianjurkan pada 1 Muharram. Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menghidupkan puasa di bulan-bulan haram termasuk Muharram.Diriwayatkan dari Al-Bahili: "Aku mendatangi Rasulullah lalu berkata: "Wahai Rasulullah, Aku adalah lelaki yang pernah mendatangimu pada tahun pertama?" Rasulullah bersabda: "Dulu aku tidak melihat tubuhmu lemah?" Al-Bahili menjawab: "Wahai Rasulullah, Aku tidak mengonsumsi makanan di siang hari, aku tidak memakannya kecuali di waktu malam." Rasulullah bersabda: "Siapa yang menyuruhmu menyiksa dirimu?" Aku menjawab: "Wahai Rasulullah, sungguh Aku mampu berpuasa (terus-menerus)." Rasulullah bersabda: "Puasalah di bulan Ramadan dan tiga hari setelahnya, dan puasalah pada bulan-bulan mulia (bulan haram)." (HR Abu Dawud, Ibnu Majah)
2. Berdoa Menyambut Bulan Muharram
Amalan berikutnya adalah berdoa dan berzikir menyambut bulan Muharram yang merupakan bulan pertama dalam kalender Islam. Dari Qatadah bahwa Nabi Muhammad ﷺ apabila melihat hilal (bulan baru), beliau berdoa: "Semoga bulan ini membawa kebaikan dan petunjuk. Semoga bulan ini membawa kebaikan dan petunjuk. Semoga bulan ini membawa kebaikan dan petunjuk. Aku beriman kepada Allah yang telah menciptakanmu." (Dibaca sebanyak tiga kali), kemudian berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah membawa pergi bulan ini, dan datang dengan bulan ini." (HR Abu Dawud)Atau bisa membaca doa yang diajarkan Rasululah berikut:
Allahumma Ahillahu 'alainaa bil Yumni wal iimaani was Salaamati wal Islaami Robbi wa Rabbukallah.
Artinya: "Ya Allah, perlihatlah bulan ini kepada kami dengan kebahagiaan, keimanan, keselamatan dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah." (HR ad-Darimi, at-Tirmidzi)
Selain itu memperbanyak bacaan dzikir Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir sebagai bentuk rasa syukur. Atau membaca Al-Qur'an pada malam 1 Muharram dan pagi harinya.
3. Bertobat dan Muhasabah
1 Muharram juga hendaknya dijadikan sebagai momentum untuk bertobat dan muhasabah. Dalam riwayat disebutkan bahwa Allah menerima taubat Nabi Adam 'alaihissalam pada bulan Muharram tepatnya di Hari Asyura (10 Muharram). Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman :Artinya: "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS Al-Baqarah Ayat 222)
Dari Abu Hurairah ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah terbenamnya (barat) niscaya Allah akan menerima taubatnya." (HR Muslim)
4. Bersedekah
Selain berpuasa, amalan utama yang pada bulan Muharram adalah bersedekah. Terutama kepada anak yatim dan fakir miskin. Dalam satu Hadis yang diriwayatkan Imam ath- Thabrani dikatakan barangsiapa bersedekah pada bulan Muharram maka akan pahalanya dilipatgandakan 70 kali lebih banyak dari sedekah pada bulan lain.5. Menyambung Silaturrahim
Menyambung silaturrahim dengan keluarga dan kerabat tak hanya mempererat tali persaudaraan, tetapi juga mendatangkan ridho Allah. Apalagi jika dilakukan pada bulan Muharram, salah satu bulan yang diagungkan Allah. Rasulullah bersabda:"Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia bersilaturahim." (HR Al-Bukhari, Muslim)
Itulah lima amalan sunnah yang dapat kita kerjakan pada 1 Muharram. Bagi yang ingin melaksanakan puasa Muhharam besok hari berikut lafaz niatnya:
Nawaitu shoumal Muharrami lillaahi Ta'aala.
Artinya: "Aku niat puasa bulan Muharram sunnah karena Allah Ta'ala."
Dalil Hadis tentang Keutamaan Muharram dan Amalannya
Banyak dalil yang bersumber dari hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam tentang keutamaan dan amalan bulan Muharram. Bagaimana bunyi dalilnya dan apa saja amalan-amalan... | Halaman Lengkap [712] url asal
#hadis-nabi #tahun-baru-islam #amalan-muharram #bulan-muharram #keutamaan-bulan-muharram
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 13/06/26 11:24
v/249072/
Banyak dalil yang bersumber dari hadis NabiShallallahu Alaihi Wassalam tentang keutamaan dan amalan bulan Muharram . Salah satu hadis perihal keutamaan bulan Muharram,diriwayatkan dari Abi Bakrah dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda:“Sesungguhnya waktu itu berputar seperti hari dimana Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun adalah 12 bulan, di antaranya ada empat bulan yang mulia. Yang tiga secara beriringan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram, dan Rajab yang terletak antara Jumada dan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim)
Amalan Muharram dan Dalilnya
1. Puasa di tanggal 1 Muharram
Bagi umat Islam dianjurkan berpuasa pada pada hari pertama bulan Muharram dan pada hari-hari setelahnya pula sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah dalam hadisnya yang berbunyi,Diriwayatkan dari Sayyidah Hafshah dari Rasulullah bahwasannya Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di hari terakhir dari bulan Dzulhijjah dan hari pertama dari bulan Muharram, maka Allah akan menjadikan (puasa)nya itu sebagai pelebur (dosa) selama 50 tahun. Dan puasa sehari di bulan Muharram sama dengan puasa 30 hari di bulan selainnya.”(HR. Ad-Dailami)
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling utama pasca bulan Ramadhan ialah puasa bulan Muharram.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kemudian hadis:
Rasulullah bersabda, “Puasa satu hari di Bulan Muharram itu lebih utama daripada puasa 30 hari di bulan lainnya, dan puasa satu hari di Bulan Ramadan itu lebih utama daripada puasa 30 hari di Bulan Muharram.” (HR. Bukhari, Ahmad dan Ibnu Majah)
2. Baca doa akhir tahun
Membaca doa akhir tahun ini hendaknya dibaca tiga kali ba’da Maghrib di hari terakhir bulan Dzulhijjah. Pembacaan ini di awali dengan membaca surat Yasin sebanyak 3 kali kemudian dilanjutkan dengan doa di bawah ini:Artinya, “Wahai Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu-sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Wahai Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah kau membuatku putus asa. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.” (Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Kudus, Kanzun Najah Was Surur Fi Ad’iyyah Al-Ma’tsur Al-Lati Tasyrah As-Shudur, hal: 298-299)
3. Baca doa awal tahun
Dalam tahun Islam, perhitungan tanggal berpedoman pada peredaran Bulan bukan Matahari, maka doa awal tahun ini hendaknya dibaca setelah melaksanakan salat Maghrib (saat itulah tanggal 1 Muharram telah tiba). Dimulai dengan membaca surat Yasin dan kemudian dilanjutkan dengan doa di bawah ini sebanyak 3 kali:Artinya, “Wahai Tuhanku, Engkau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Engkau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.” (Abdullah bin Muhammad Al-Khayyath Al-Harusyi, Al-Fathul Mubin Wad Durrut Tsamin, hal: 318-319)
4. Membaca zikir dan doa Asyura’ (10 Muharram)
Menurut Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Kudus dalam kitabnya yaitu Kanzun Najah Was Surur pada hari Asyura’ kita dianjurkan untuk membaca dzikirSebanyak 70 kali pada waktu ba’da Maghrib. Setelah itu dilanjutkan membaca doa di bawah ini sebanyak tujuh kali,
بسم الله الرحمن الرحيم. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ, لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنَ اللهِ إِلَّاَ إِلَيْهِ, سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَآمَّاتِ كُلِّهَا, نَسْأَلُكَ السَّلَا مَةَ كُلَّهَا بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلّاَ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَهُوَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ, نِعمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
5. Puasa Tasu’a dan Asyura’
Dari Abu Qatadah, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Puasa hari Arafah saya berharap kepada Allah dapat menghapuskan (dosa) tahun sebelum dan tahun sesudahnya. Dan puasa hari Asyura saya berharap kepada Allah dapat menghapus (dosa) tahun sebelumnya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)Di samping melakukan puasa Asyura ini juga dianjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram (hari Tasu’a). Anjuran ini dengan alasan agar amalan umat Islam di bulan Muharram tersebut tidak menyerupai puasa kaum Yahudi, seperti diceritakan dari sahabat Ibnu Abbas, beliau berkata,
“Ketika Rasulullah datang ke Madinah, beliau melihat orang Yahudi yang sedang berpuasa pada hari Asyura’. Kemudian Rasulullah bertanya kepadanya, ‘Hari apa ini?’ Mereka pun menjawab, ‘Hari ini adalah hari yang baik. Hari di mana Allah menyelamatkan kaum Bani Israil dari musuhnya, kemudian Nabi Musa berpuasa pada hari itu.’ Rasulullah menanggapi seraya berkata, ‘Aku lebih berhak daripada kalian.’” (HR. Bukhari)
Siap-siap Memasuki Muharram, Ini 4 Keutamaan Bulan Haram Tersebut!
Tahun baru Islam atau hijriyah tinggal beberapa hari lagi, yakni bulan Muharram 1448 H, dan bertepatan dengan tanggal 16 Juni 2026 nanti. BUlan Muharram memiliki... | Halaman Lengkap [362] url asal
#kalender-hijriyah #bulan-haram #muharram #bulan-muharram #keutamaan-bulan-muharram
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 13/06/26 05:15
v/242878/
Tahun baru Islam atau hijriyah tinggal beberapa hari lagi, yakni bulan Muharram 1448 H, dan bertepatan dengan tanggal 16 Juni 2026 nanti.Ustaz Rikza Maulan, Dai yang juga Dewan Dewan Pengawas Syariah Rumah Zakat menyebutkan ada 4 keutamaan bulan Muharram. Apa saja keutamaannya? berikut ulasan dan penjelasannya:
Keutamaan Bulan Muharram
1). Bulan Muharram merupakan satu di antara bulan-bulan yang haram (Asyuhurul Hurum) yaitu bulan-bulan yang dimuliakan dan disucikan.
Karena di bulan tersebut berbagai bentuk perbuatan yang terlarang semakin ditekankan pelarangannya, seperti berperang, mengambil hak orang lain, mencederai kehormatan orang lain dan sebaginya.Dalam riwayat disebutkan, bahwa Nabi SAW bersabda:
"Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati, 3 bulan berturut-turut Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan Muharram serta satu bulan yang terpisah yaitu Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada Akhir dan Sya’ban.” (HR. Muslim)
2). Bulan Muharram merupakan bulan yang secara penamaannya dinisbatkan kepada Allah Ta'ala .
Sebagaimana digambarkan dalam hadis: "Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah Al-Muharram..." (HR. Muslim)3). Bulan Muharram , khususnya pada hari 10 Muharram merupakan hari dimana Allah Swt menyelamatkan dari Bani Israil dari musuhnya, sehingga Nabi Musa AS berpuasa pada hari tersebut.
Dalam riwayat disebutkan, "Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang Yahudi berpuasa pada hari 'Asyura, maka Beliau bertanya: "Hari apa ini? Mereka menjawab, 'Ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Maka Rasulullah SAW bersabda: "Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian". Maka beliau berpuasa dan memerintahkan sahabatnya untuk berpuasa di tahun yang akan datang." (HR. Muslim)4). Bulan Muharram merupakan bulan dimana kaum muslimin melaksnakan puasa sebelum diwajibkannya puasa Ramadan.
Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Abdullah bin Umar RA. Kaum Jahiliyah dulu berpuasa 'Asyura dan Rasulullah SAW serta kaum muslimin juga berpuasa sebelum diwajibkan puasa Ramadhan". (HR. Muslim)Karena itu, di bulan Muharram ini anjuran untuk melakukan amal saleh sangat ditekankan dan sebaliknya perbuatan terlarang sangat ditekankan. Karena pahala amal saleh akan dilipatgandakan, sementara dosa dari perbuatan nista juga akan berlipatganda pula.
Perlukah Melakukan Resolusi Hidup di Tahun Baru Islam?
Istilah resolusi pun sering kali muncul pada awal tahun baru, termasuk dalam tahun baru Islam. Nah, berkaitan dengan awal tahun baru hijriyah ini, bolehkah umat... | Halaman Lengkap [729] url asal
#resolusi-tahun-baru #muharram #bulan-muharram #amalan-bulan-muharram #keutamaan-bulan-muharram
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 12/06/26 19:28
v/243646/
Istilah resolusipun sering kali muncul pada awal tahun baru, termasuk dalam tahun baru Islamatau hijriyah ini. Kata itu digunakan sebagian besar orang untuk mencapai impian di tahun baru. Makna resolusi saat ini berarti harapan yang sungguh-sungguh dari pribadi seseorang. Dengan makna itu, banyak orang memakai istilah itu untuk membuat rencana agar mencapai tujuan-tujuan.Nah, berkaitan dengan awal tahun baru hijriyahini, bolehkah umat muslim membuat resolusi? Bagaimana hukumnya menurut syariat?
Sebagai umat Islam, kita idealnya menetapkan tujuan tidak hanya bagi kesejahteraan materiil kita saja, tetapi yang lebih penting bagi spiritual kita. Artinya, bukan berarti kita tidak peduli dengan materiil, namun kita harus terus mengingat bagaimana keberlanjutan hidup yang terbentang di depan, begitu mata kita tertutup dari tempat fana yang sementara ini.
Allah Ta'ala berfirman :
"Ya Tuhan kami! Berikan kami kebaikan di dunia ini dan kebaikan dalam kehidupan yang akan datang dan jauhkan kami dari siksaan neraka, (QS Al-Baqarah : 201)
Juga firman Allah Ta'ala :
"Allah Maha Tinggi menyebutkan dalam Alquran: ...dan saya tidak menciptakan jin dan manusia kecuali bahwa mereka harus menyembah saya..." (QS Az-Zariyat : 56)
Membuat resolusi sebenarnya dapat membantu menunjukkan dengan tepat apa yang ingin kita capai, sehingga memudahkan untuk membuat rencana untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Ada beberapa hal yang perlu diingat ketika membuat resolusi, salah satunya adalah niat dan tindakan .
Niat adalah proses berpikir yang dimiliki orang, dan tindakan adalah apa yang dilakukan orang secara fisik/merupakan manifestasi dari pikiran ini. Allah menghakimi niat dan tindakan kita. Hadis Qudsi yang terkenal mengatakan:
“Sesungguhnya, Allah telah mencatat perbuatan baik dan buruk dan Allah menjelaskannya. Siapa pun yang berniat melakukan perbuatan baik tetapi tidak melakukannya, maka Allah akan mencatatnya sebagai perbuatan baik sepenuhnya. Jika mereka berniat melakukannya dan melakukannya, maka Allah Ta’ala akan mencatatnya sebagai sepuluh perbuatan baik hingga tujuh ratus kali lipat atau bahkan lebih. Jika mereka berniat melakukan perbuatan buruk dan tidak melakukannya, maka Allah akan mencatat bagi mereka satu perbuatan baik. Jika mereka melakukannya, maka Allah akan mencatat bagi mereka satu perbuatan buruk.” (HR Bukhari dan Muslim)
Jika seseorang membuat resolusi untuk melakukan perbuatan baik, seperti memberi amal, dan mereka akhirnya tidak melakukannya, mereka masih akan menerima pahala untuk itu karena mereka memiliki niat baik.
Dalam hukum Islam, ada berbagai tingkat keinginan untuk melakukan sesuatu. Sumpah, misalnya. Sumpah melibatkan seseorang yang bersuara keras bahwa mereka bersumpah bahwa jika suatu peristiwa yang diinginkan terjadi, mereka akan melakukan tindakan ibadah. Sumpah dan sumpah, karena mereka dikatakan keras dan melibatkan bersumpah kepada Allah untuk melakukan sesuatu, dianggap mengikat secara hukum dan masuk ke dalam semacam kontrak dengan Allah. Jika seseorang melanggar sumpah atau sumpah mereka, mereka diharuskan membayar penebusan untuknya, yang bervariasi tergantung kasus per kasus.
Ketika membuat resolusi, terutama sesuatu yang biasa seperti resolusi tahun baru yang tidak dapat ditindaklanjuti, penting untuk memastikan bahwa seseorang tidak terjerumus ke dalam sumpah, kecuali mereka yakin bahwa mereka dapat menjaga resolusi mereka dan siap untuk menawarkan penebusan jika mereka tidak dapat menyimpannya.
Meskipun merasa bersemangat dan termotivasi tentang rencana peningkatan diri sangat mengagumkan, kadang-kadang orang terlalu antusias dan menetapkan tujuan untuk diri mereka sendiri yang tidak realistis.
Ketika orang mencoba untuk mengambil terlalu banyak hasil dengan terlalu cepat, atau tanpa strategi, mereka mungkin akan berkecil hati dan menyerah pada tujuan mereka sama sekali.
Ini dapat dihindari dengan mengikuti saran Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana disebutkan dalam hadis ini:
“Perbuatan paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten, meskipun kecil.” (HR Bukhari dan Muslim)
Sebaiknya pilih tujuan yang tidak terlalu sulit dan dapat dilakukan secara teratur, dan berpegang teguhlah sebaik mungkin. Misalnya, alih-alih memutuskan untuk salat tahajjud setiap hari, mulailah dengan hanya melakukannya seminggu sekali, atau bahkan sekali setiap dua minggu. Setelah Anda melakukannya, maka Anda dapat menambah jumlah hari Anda melakukannya dan jumlah waktu yang dihabiskan untuk melakukannya. Dengan cara ini ia menjadi kebiasaan yang berkelanjutan , alih-alih mencoba melakukannya sekaligus dan kemudian dengan cepat kehilangan tenaga.
Dengan demikian, buatlah daftar resolusi yang luas, realistis dan sistematis . Dedikasikan waktu bersama keluarga untuk membuat resolusi ini. Jadikan keluarga kita mengambil bagian dan ikut menentukan tujuan secara bersama. Selain itu, ada baiknya menuliskan maksud dan meninjau secara teratur niat tersebut dalam mencapai komitmen.
Akhirnya, resolusi yang paling penting adalah pastikan Pencipta alam semesta, Allah Yang Maha Tinggi menyukai kita. Jadi, apapun yang kita inginkan, lakukan, katakan, dan lainnya, harus bertujuan hanya untuk menyenangkan Tuhan kita! Allah Subhanahu wa ta'ala. Wallahu A'lam
Khotbah Jumat : 5 Pelajaran dalam Pergantian Tahun Baru Hijriyah
Khotbah Jumat kali ini mengangkat tema tentang hikmah di balik pergantian Tahun Baru Hijriyah . Tahun baru Islam 1 Muharam 1445 Hijriyah insya Allah jatuh pada... | Halaman Lengkap [923] url asal
#khotbah-jumat #tahun-baru-islam #kalender-hijriyah #bulan-muharram
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 12/06/26 11:44
v/248160/
Khotbah Jumat kali ini mengangkat tema tentang hikmah di balik pergantian Tahun Baru Hijriyah. Tahun baru Islam 1 Muharam 1445 Hijriyah insya Allah jatuh pada Selasa 16 Juni 2026.Pergantian tahun ini hendaknya kita maknai dan syukuri. Berikut Khotbah Jumat tentang hikmah tahun baru disampaikan oleh Dr Iswahyudi MA, ketua Aswaja Center NU Ponorogo.
Khotbah Pertama
قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
وقَالَ اللهُ تَعَالى ااِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Kaum Muslimin Sidang Jumat rahimakumullah!
Pada kesempatan berharga ini, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Caranya adalah dengan imtisaalu al-awaamir wa ijtinaabu an-nawaahi (melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya). Ketahuilah! tidak ada bekal yang paling bagus kita bawa di hadapan Allah kecuali takwa kita kepada Allah SWT.
Kaum Muslimin Sidang Jumat rahimakumullah!
Kita patut bersyukur kepada Allah SWT, karena diberi amanah umur yang panjang, diberi amanah kesehatan sehingga kita bisa menemui kembali tahun baru umat Islam. Ini menandakan bahwa secara kuantitatif umur kita semakin banyak dan secara kalkulatif ini menunjukkan bahwa kematian semakin dekat. Pergantian Tahun Baru Hijriyah ini harus kita beri makna. Makna ini penting agar pergantian tahun baru tidak hanya sekadar regularitas yang terjadi setiap tahun, tetapi pergantian tahun yang mengandung hikmah dan pelajaran berharga.
Pertama, sejarah mencatat bahwa Tahun Baru Hijriyah diawali bukan dari hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, bukan pula dari peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW, atau yang lainnya. Tetapi diawali dari peristiwa Hijrahnya Baginda Nabi Muhammad SAW. Hal ini disebabkan karena banyaknya ayat Al-Qur'an yang berbicara tentang Hijrah. Di antaranya terdapat dalam Surat An-Nisa ayat 100:
Artinya: "Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa: 100)
Ayat Hijrah tersebut mengandung makna yang dalam yaitu memotivasi umat Islam untuk berhijrah di jalan Allah. Di antaranya adalah umat Islam tidak akan mengalami kemiskinan dan jika ia berhijrah karena Allah. Ingin kebaikan Akhirat dan dunia lalu meninggal akan mendapatkan pahalanya Allah. Ayat-ayat lain yang bicara Hijrah banyak memotivasi manusia untuk hidup lebih baik dari sebelumnya.
Agar tahun baru Hijriyah ini bermakna bagi kita, monggo kita berubah lebih baik dari sebelumnya. Jika sebelumnya jarang baca Al-Qur'an, tahun baru ini kita tingkatkan baca Al-Qur'annya. Pun demikian jika tahun sebelumnya jarang berjamaah ayo di tahun baru ini kita tingkatnya sholat jamaah kita. Intinya di tahun baru ini, ibadah individual dan ibadah sosial harus lebih meningkat dari tahun sebelumnya.
Kedua, peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah untuk membangun tatanan kehidupan yang lebih baik. Peristiwa Hijrah ini tidak dilakukan secara sembarangan. Akan tetapi dilakukan dengan strategi yang matang dan teknis perjalanan yang cermat. Semisal adanya perencanaan rute perjalanan yang jarang dilalui oleh orang kafir, perbekalan yang cukup, kendaraan yang kuat, adanya mata-mata perjalanan dan lain-lain. Ini adalah peristiwa sangat penting.
Rasulullah SAW melalui peristiwa Hijrah mengajarkan kepada umatnya untuk berpikir perencanaan yang matang. Jika umat Islam ingin jaya, maju dan umat Islam selalu terdepan, maka perencanaan haruslah matang. Jika tidak matang, maka umat Islam bisa dikalahkan oleh musuh.
Ketiga, setelah Nabi Muhammad SAW Hijrah dan menempati Yastrib, Nabi mengubah daerah itu menjadi Madinah yang berarti bisa tempat yang berbudaya, bisa juga kota. Dua makna ini sama maksudnya yaitu suatu daerah yang maju. Jika kita mengikuti pelajaran ini, ayo umat Islam menjadi umat yang berbudaya tinggi contohnya adalah disiplin, taat aturan, menjadi teladan, saling menghormati, saling menghargai, tepat waktu, dan lain-lain. Sungguh, jika ini dilakukan umat Islam akan menjadi jaya dan maju.
Keempat, setelah Nabi Muhammad SAW sampai di tempat Hijrah, Beliau pertama kali membangun masjid. Ini artinya Rasulullah SAW mengajarkan kepada umat Islam untuk menjadikan masjid sebagai tempat pemersatu. Caranya adalah ayo memakmurkan masjid dengan aktivitas jamaah. Sholat 5 waktu berjamaah serta menjadikan masjid semarak pengajian dan kegiatan keagamaan. Jika salah ditegur, dan jika benar pemimipin diikuti hingga selesai. Jika ini dilakukan niscaya masyarakat Islam akan damai, tentram dan sejahtera.
Kelima, ada amalan yang bagus dilakukan pada Bulan Muharram yaitu berpuasa tanggal 9 Muharram yang disebut dengan puasa Tasu'a dan 10 Muharram disebut Puasa Asyura. Puasa tanggal 10 disebut sebagai puasanya Nabi Musa dan Rasulullah SAW berkeinginan untuk puasa tanggal 9 untuk membedakan agar tidak sekadar tanggal 10 saja sebagaimana orang Yahudi dan Narani. Puasa tanggal 9 dan 10 bulan Muharram dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
Artinya: "Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, semoga Allah SWT meridhoi keduanya. Abdullah berkata, "Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram) dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, para sahabat bertanya, 'Ya Rasulallah, itu adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah SAW bersabda, "Kalau ada kesempatan pada tahun depan, insya Allah kita akan berpuasa Tasua (9 Muharram)." Abdullah Ibnu Abbas berkata, "Belum datang tahun depan, tetapi Rasulullah sudah terlebih dulu wafat." (HR Muslim)
Mumpung kita masih hidup dan masih sehat, ayo puasa pada dua hari tersebut. Disebutkan dalam hadis, puasa bulan Muharram adalah puasa paling bagus setelah puasa Ramadhan. Puasa itu akan menghapus dosa satu tahun yang lalu.
Kaum Muslimin Sidang Jumat rahimakumullah!
Semoga Tahun Baru Hijriyah ini, kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya. Di antaranya menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya (rajin sholat berjamaah, sedekah, membaca Al-Qur'an dan lain-lain), melakukan perencanaan kegiatan, menjadikan masjid sebagai basis perkumpulan umat Islam, memperbanyak amal kebaikan (di antaranya adalah Puasa Tasua dan Puasa 'Asyura). Selamat Tahun Baru Hijriyah dan selamat berubah menjadi lebih baik.
اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَمَنْ يَشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ, وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ
Khotbah Kedua
اَمَّابَعْدُ : فَيَااَيُّهَا النَّاسُ
اِتَّقُوا اللهَ وَاَبْدِلُوا الْفَسَادَ بِا لرَّشَادِ. وَاَصْلِحُوا شُؤُوْنَكُمْ وَقُوْمُوْا عَلى قَدَمِ السَّدَادِ. فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْا اَنَّما عَلى رَسُوْلِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِيْنُ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ.
اللّهُمَ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ وَارْفَعْ لَهُمُ الدَّرَجَاتِ وَضَاعِفْ لَهُمُ الْحَسَنَاتِ وَكَفِّرْ عَنْهُمُ السَّيِّئَاتِ وَبَلِّغْ جَمِيْعَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ خَيْرَيِ الدَّارَيْنِ مَا يُؤَمِّلُوْنَ وَانْشُرْ وَافِرَ اِحْسَانِكَ عَلٰى بَلْدَتِنَا هذِهِ وَسَائِرِ بِلَادِ الْاِسْلَامِ.
رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِا لْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ امَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيْمٌ.
عباد الله ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبى وَيَنْهى عَنِ الْفَخْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Mengapa Muharram Menjadi Bulan Pertama Tahun Hijriah? Ini Sejarah dan Keistimewaannya
Mengapa Muharram menjadi bulan pertama di tahun baru hijriah? Tahun baru Islam sendiri akan jatuh pada tanggal 16 Juni 2026 dalam kalender Masehi. Mengapa Muharram menjadi... | Halaman Lengkap [464] url asal
#muharram #bulan-muharram #kalender-hijriyah #tahun-baru-islam #sejarah-tahun-baru-islam
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 12/06/26 11:07
v/248129/
Mengapa Muharrammenjadi bulan pertama di tahun baru hijriah? Tahun baru Islamsendiri akan jatuh pada tanggal 16 Juni 2026 dalam kalender Masehi.Dalam Islam, Muharram merupakan salah satu bulan-bulan yang diagungkan Allah ( Asyhurul Hurum ). Dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 36, Allah Ta'ala mengabarkan 4 bulan yang wajib dimuliakan yaitu zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Pada bulan-bulan ini umat Islam dilarang menganiaya diri sendiri dan sebaliknya dianjurkan memperbanyak amal saleh.
Dalam surah lain (Surah Al Fajar ayat 1-3), Allah Ta'ala berfirman dengan kalimat sumpah: "Wal-Fajri (demi waktu Fajar), wa laya lin 'Asyrin (demi malam yang sepuluh), wassyaf'i wal-watri (demi yang genap dan yang ganjil). Para mufassir menjelaskan ayat "demi malam yang sepuluh" itu adalah 10 hari terakhir bulan Ramadan, 10 hari pertama bulan zulhijjah dan 10 hari pertama bulan Muharram .
Sebelum kalender hijriah mulai digunakan, umat Islam menggunakan 'Am Al-Fil’ (tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW untuk menentukan tanggal dan waktu. Tetapi Khalifah kedua, Sayyidina Umar bin Khattab (RA) membuat kalender baru dengan mengumumkan bahwa tahun Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah menjadi tahun pertama dalam Kalender Hijriyah.
Merujuk kepada firman Allah dalam Al-Qur'an , para sahabat dan salafunassaleh (ulama terdahulu) menjadikan Muharram sebagai bulan memperbanyak amal saleh. Di bulan ini mereka menghidupkan puasa sunnah, berzikir dan memperbanyak amal kebaikan. Mereka tau bahwa keutamaan Muharram begitu mulia di sisi Allah sehingga tidak mau lewat begitu saja.
Keistimewaan Bulan Muharram
Di dalam bulan Muharram terdapat satu hari yang sangat agung yaitu hari ke-10 yang dikenal dengan nama 'Asyura . Dalam catatan islamicfinder disebutkan, awalnya puasa 10 Muharram merupakan suatu kewajiban. Namun kemudian puasa diwajibkan hanya di bulan Ramadhan saja dan puasa 10 Muharram dibuat opsional. Sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyidah 'Aisyah RA bahwa Nabi SAW bersabda: "Barang siapa yang berniat puasa (pada hari Asyura ) maka lakukanlah; dan barang siapa yang berniat meninggalkannya dapat melakukannya." (Sahih Al-Bukhari)Akan tetapi, perlu diingat berpuasa selama bulan Muharram merupakan amalan mulia dan paling berpahala di antara puasa opsional (Nafil) merujuk pada hadis Nabi berikut: "Puasa terbaik (paling afdhol) setelah bulan Ramadan adalah puasa pada bulannya Allah, Al-Muharram ." (HR An-Nasai)
Asyura merupakan hari paling suci di antara semua hari pada bulan tersebut. Ketika Nabi SAW datang ke Madinah, beliau berpuasa pada hari 'Asyura dan mengarahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari ini. Tetapi ketika puasa Ramadan diwajibkan, puasa pada hari ini dibuat opsional. Namun, menurut banyak hadis otentik, puasa pada hari Asyura adalah sunnah Nabi SAW .
Keistimewaan puasa 'Asyura ini sebagaimana sabda Beliau SAW: "Dan puasa di hari 'Asyura saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu." (HR Muslim)
Demikian ulasan singkat keutamaan Muharram dan keistimewaan Hari Asyura . Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada umat muslim agar dimudahkan dalam beramal saleh. Wallahu A'lam
Jangan Salah Kaprah! Begini Cara Menyambut Tahun Baru Islam Menurut Syariat
Tahun baru Islam atau 1 Muharram 1448 Hijriyah akan segera tiba. Umumnya masyarakat akan merayakan pergantian tahun ini dengan suka cita dan kemeriahan. Bolehkah,... | Halaman Lengkap [724] url asal
#kalender-hijriyah #tahun-baru-islam #muharram #kalender-islam #bulan-muharram
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 12/06/26 05:15
v/247822/
Tahun baru Islam atau 1 Muharram 1448 Hijriyah akan segera tiba. Umumnya masyarakat akan merayakan pergantian tahun ini dengan suka cita dan kemeriahan. Bolehkah, tahun baru hijriyah ini dirayakan? Bagaimana pandangan syariat terhadapnya?Para ulama mengingatkan, dalam memperingati tahun baru Hijriyah tidak boleh meniru-niru ( tasyabbuh ) tradisi orang-orang non muslim yang merayakan tahun baru Masehi. Tasyabbuh bil kuffar (meniru-niru tradisi nonmuslim) ini yang dilarang, karena tak memberi manfaat apa-apa, kecuali kesan bangga menjadi bagian dari tradisi itu.
Hendaknya kedatangan 1 Muharramini yang bertepatan dengan tanggal 16 Juni 2026 disambut dengan kegiatan kegiatan syar'i, tanpa dentang lonceng, tak ada pesta, tak ada kembang api, maupun hiruk pikuk terompet.
Saat ini masih ada salah kaprah antusiasme warga dunia dalam hal ini umat Islam justru lebih pada perayaan tahun baru Masehi. Mereka ikut-ikutan berpawai yang dimulai sejak dini hari 00.00 setiap tahunnya. Kalaupun ada pawai, hendaknya didahului dengan edukasi Islami dan dilakukan di jam-jam sewajarnya (tidak harus jam 00.00).
Imam Adz Dzahabi dalam Tartib Al Mawdhu’at menukil Imam Ibnu Rajab yang mengatakan bahwa : ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab."
Penegasan Imam Ibnu Rajab itu adalah menjelaskan tentang firman Allah dalam surat At Taubah ayat 36. Allah berfirman :
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu...” (QS. At Taubah: 36)
Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabishallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan.Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari).
Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqa’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab. Oleh karena itu bulan Muharram termasuk bulan haram . Sehingga dalam agama ini, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan Suro), merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram.
Dalam buku 'Zaadul Masiir', karangan Ibnul Jauziy, dijelaskan juga bahwa pada bulan Muharram larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.
Hal itu untuk meminimalisasi kekeliruan dan kesalahan kaum muslimin saat memperingati tahun baru Hijriyah atau 1 Muharram. Sebab kaum musliminasih banyak yang salah dalam menyikapinya. Bila tahun baru Masehi disambut begitu megah dan meriah, dan hura-hura. Harusnya umat Islam tidak menyambut tahun baru Islam semeriah tahun baru masehi dengan perayaan berlebihan.
Karena sebenarnya, tidak ada amalan tertentu yang dikhususkan untuk menyambut tahun baru Hijriyah. Dan kadang amalan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam menyambut tahun baru Hijriyah adalah amalan yang tidak ada tuntunannya karena sama sekali tidak berdasarkan dalil atau jika ada dalil, dalilnya pun lemah.
Ulama menjelaskan bahwa umat Islam yang memasuki tahun baru Hijriyah ini, akan menjadi hari-hari yang baru atau asing ke depannya. Umat harus instropeksi apakah tahun baru Hijriyah ini makin meningkat thalibul ilmi-nya (menuntut ilmu), thalibul haq (mencari hidayah dan kebenaran), dan thalibul akhirat (penuntut ilmu, pencari kebenaran dan orang yang menginginkan akhirat)?
Di tahun yang baru ini, amalan-amalan kebaikan harus diperhatikan, sebagai upaya untuk menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan upaya untuk memperoleh pahala.
Saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan. Sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”
Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)