Langkah PTP Nonpetikemas Perkuat Ekonomi Nasional

Langkah PTP Nonpetikemas Perkuat Ekonomi Nasional

PTP Nonpetikemas terus melakukan peningkatan kapasitas serta berbagai terobosan untuk meningkatkan efisiensi logistik nasional.

(Bisnis.Com) 14/06/26 19:19 249779

Bisnis.com, JAKARTA — Ekonomi Indonesia yang mencatatkan pertumbuhan positif sampai dengan kuartal I/2026, tak terlepas dari kontribusi kinerja bongkar muat barang di pelabuhan yang tersebar di Tanah Air.

Aktivitas bongkar muat yang terus tumbuh positif dan terjaga di tengah dinamika arus logistik nasional ini menjadi bukti kegiatan ekonomi terus berlangsung dan menguat.

Tak hanya tecermin dari arus kontainer atau peti kemas yang tumbuh 7% secara tahunan pada periode Januari—April 2026, kinerja bongkar muat komoditas melalui nonpetikemas turut mentereng.

Pada kuartal I/2026, PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas), anak usaha dari PT Pelindo Multi Terminal, mencatat total throughput nonpetikemas yang meliputi general cargo, curah kering, curah cair, dan bag cargo sebesar 12,84 juta ton.

Perinciannya, realisasi curah cair mencapai 3,09 juta ton, tumbuh 16% year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 2,67 juta ton. Pertumbuhan ini utamanya terdongkrak oleh aktivitas ekspor minyak kelapa sawit (CPO) di Teluk Bayur, keberlanjutan bongkar muat di Pontianak, serta meningkatnya aktivitas komoditas di Tanjung Priok.

Sementara itu, curah kering sebagai tulang punggung operasional mencatat realisasi sebesar 5,76 juta ton. Untuk segmen lainnya, general cargo terealisasi sebanyak 2,92 juta dan bag cargo tercatat sebesar 656.000 ton atau turun 3,3% secara tahunan.

Tantangan Biaya Logistik

Meski demikian, kinerja positif lini nonpetikemas masih dibayangi oleh tingginya biaya logistik nasional yang memengaruhi daya saing industri dalam negeri.

Salah satu indikator yang umum digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi logistik suatu negara adalah rasio biaya logistik terhadap produk domestik bruto (PDB).

Berdasarkan data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), upaya peningkatan efisiensi rantai pasok dan logistik nasional telah menunjukkan hasil yang positif. Dalam periode 2018-2022, biaya logistik nasional berhasil ditekan sekitar 2,1 poin persentase sehingga mencapai 14,3% terhadap PDB pada 2022.

Biaya logistik nasional sejatinya terdiri atas tiga komponen utama, yaitu biaya transportasi dan pergudangan, biaya inventori, serta biaya administrasi. Dari ketiga komponen tersebut, biaya transportasi dan pergudangan merupakan kontributor terbesar.

Pelabuhan menjadi salah satu unsur dalam komponen transportasi, memiliki kontribusi setara dengan 1,14%–1,76% dari total biaya logistik nasional.

Meski minim kontribusinya, PTP Nonpetikemas menyoroti belum optimalnya kinerja pelabuhan menjadi tantangan dalam memangkas biaya tersebut.

Senior Manager Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas Fiona Sari Utami menyampaikan, layanan Pelindo maupun PTP Nonpetikemas terus melakukan peningkatan kapasitas serta berbagai terobosan untuk mengatasi tantangan tersebut.

“Fokus perusahaan adalah mempercepat pelayanan kapal dan barang sehingga turnaround time semakin kompetitif,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (12/6/2026).

Harapannya, hal tersebut dapat meningkatkan waktu berlayar karena pengurangan waktu tinggal di pelabuhan. Selain itu, juga memberikan biaya yang lebih rendah bagi shipping line, sejalan dengan penghematan biaya untuk bahan bakar dan awak kapal.

Berdasarkan Logistic Performance Index (LPI) 2022, rata-rata waktu putar kapal di pelabuhan Indonesia memakan waktu sekitar 1,8 hari. Jauh lebih lama ketimbang di Singapura dan Vietnam, yang masing-masing hanya membutuhkan waktu 1,2 hari dan 0,9 hari.

Fiona menuturkan, PTP Nonpetikemas dalam mengelola seluruh terminal yang tersebar di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan, selalu mengedepankan prinsip efisiensi operasional, produktivitas, keselamatan, dan kualitas layanan.

Berdasarkan data operasional, beberapa cabang yang konsisten mencatat kinerja positif dan melampaui target, antara lain Cabang Pontianak–Terminal Kijing, Cabang Tanjung Priok, Cabang Teluk Bayur, dan Cabang Bengkulu.

PTP Nonpetikemas pun terus melakukan efisiensi logistik melalui beberapa inisiatif, antara lain digitalisasi layanan operasional melalui sistem yang disebut dengan Pelindo Terminal Operating System Multipurpose (PTOS-M).

Kemudian, melalui optimalisasi peralatan bongkar muat, standardisasi proses operasional, serta pengembangan terminal strategis seperti Terminal Kijing yang mampu melayani hingga 15 kapal tanpa perlu transshipment melalui pelabuhan lain.

Fiona mengungkapkan, dampak yang dirasakan pelanggan lebih banyak berupa peningkatan produktivitas layanan, pengurangan waktu tunggu kapal dan barang, serta pemangkasan rantai distribusi.

“Peningkatan efisiensi operasional secara langsung berkontribusi pada pengurangan biaya logistik pengguna jasa,” tambahnya.

Terobosan Terminal Kijing

Salah satu contoh upaya menciptakan efisiensi pelabuhan tecermin di Terminal Kijing yang hadir sejak 2022 dan diresmikan langsung oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Terminal ini memiliki kedalaman kolam mencapai 15 meter dan panjang dermaga lebih dari 1.900 meter.

Hingga 2026, kinerja terminal ini menunjukkan pertumbuhan dan memberikan dampak yang sangat signifikan bagi Kalimantan Barat.

Pada 2025, Cabang Pontianak-Terminal Kijing mencatat pertumbuhan tahunan throughput tertinggi di lingkungan PTP Nonpetikemas, yakni sebesar 46% dengan total throughput mencapai 4,5 juta ton.

Terminal Kijing merupakan salah satu simpul logistik strategis nasional yang berada di Kalimantan Barat dan terintegrasi dengan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I, serta dekat dengan jalur perdagangan internasional Selat Malaka.

“Kehadiran Terminal Kijing mengurangi ketergantungan arus logistik Kalimantan Barat terhadap pelabuhan-pelabuhan utama di Pulau Jawa sehingga distribusi barang menjadi lebih efisien,” tambah Fiona.

Pada kuartal I/2026, Terminal Kijing mencerminkan dinamika arus logistik yang dipengaruhi oleh pergerakan komoditas utama di wilayah Kalimantan Barat. Misalnya, beras, semen, bauksit, alumina, bungkil, cangkang, dan pupuk.

Total throughput tercatat sekitar 1,5 juta ton, dengan kontribusi terbesar berasal dari komoditas curah kering sebesar 845.000 ton dan curah cair sebesar 662.000 ton.

Branch Manager PTP Nopetikemas Cabang Pontianak Suwanda menyampaikan bahwa Terminal Kijing memiliki posisi strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan.

“Terminal Kijing menjadi urat nadi ekonomi Kalimantan Barat yang tidak hanya mendukung kelancaran arus barang, tetapi juga memperkuat ekosistem logistik nasional,” ujarnya.

Pihaknya pun terus mendorong optimalisasi layanan guna mendukung ekspor komoditas unggulan serta menjaga ketahanan rantai pasok.

Adapun, selain melayani curah kering dan curah cair, Terminal Kijing juga mulai melayani peti kemas pada Juni 2026 sehingga memperluas konektivitas logistik Kalimantan Barat, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.

Ke depan, pemerintah melihat arah pengembangan pelabuhan di Indonesia saat ini sudah berjalan cukup efisien dan berbasis kebutuhan (industry-driven development).

Pemerintah pun tengah meninjau ulang Rencana Induk Pelabuhan Nasional melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 432 Tahun 2017 untuk mengembangkan pintu masuk barang tersebut lebih baik lagi.

Direktur Kepelabuhanan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Muhammad Anto Julianto menyampaikan, pengembangan kapasitas nantinya tidak lagi dilakukan dengan pendekatan yang bersifat umum di seluruh pelabuhan.

“Melainkan difokuskan pada pelabuhan-pelabuhan strategis yang memiliki tingkat utilisasi tinggi, pertumbuhan arus barang yang kuat, serta peran penting dalam jaringan logistik nasional,” tutupnya.

#ptp-nonpetikemas #pelindo #logistik

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260614/98/1980802/langkah-ptp-nonpetikemas-perkuat-ekonomi-nasional