Telkom (TLKM) Pastikan Bisnis Satelit Absen dari Agenda Streamlining
Telkom Indonesia (TLKM) tidak akan memasukkan bisnis satelit ke dalam program streamlining, menjadikannya prioritas strategis untuk mendukung infrastruktur digital.
(Bisnis.Com) 22/06/26 10:04 255921
Bisnis.com, JAKARTA — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) menjadikan bisnis satelit sebagai prioritas strategis infrastruktur digital perusahaan, sehingga tidak berencana memasukkannya ke dalam program perampingan (streamlining).
Program Streamlining Telkom adalah inisiatif strategis PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk untuk menata ulang, menyederhanakan, dan merampingkan portofolio bisnis serta entitas anak usahanya.
Program ini merupakan pilar penting dalam kerangka transformasi jangka menengah TLKM 3.0. Tujuannya agar Telkom bertransformasi dari sekadar perusahaan operasional (operating holding) menjadi induk perusahaan strategis (strategic holding digital) yang lebih lincah (agile), kompetitif, dan efisien.
Adapun performa PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) pada kuartal I/2026 cukup positif pertumbuhan pendapatan sekitar 6,75% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp534 miliar, naik dari posisi periode yang sama tahun lalu sebesar Rp500 miliar.
SVP Group Sustainability and Corporate Communication Telkom Ahmad Reza menjelaskan pertumbuhan ini justru ikut didorong oleh meningkatnya pendapatan dari layanan Starlink yang dikerjasamakan, kontribusi proyek on-the-counter (OTC) dan data center, serta kinerja bisnis downstream yang tetap solid.
“Pencapaian tersebut mencerminkan ketahanan bisnis Telkomsat dalam mengoptimalkan berbagai sumber pertumbuhan di tengah dinamika industri yang terus berkembang,” ujar Ahmad Reza kepada Bisnis, Senin (22/6/2026).
Sebagai gambaran komparasi di ceruk pasar korporasi, Telkom membukukan total pendapatan sebesar Rp2,4 triliun untuk segmen B2B infrastruktur pada kuartal I/2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp2,3 triliun disumbangkan oleh PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel, sementara NeutraDC menyumbang Rp399 miliar. Kontribusi Telkomsat yang berada di kisaran setengah triliun rupiah mempertegas posisi penting lini bisnis ini dalam menyokong portofolio konsolidasi induk usaha.
Mengenai kelanjutan bisnis satelit, Ahmad Reza menerangkan Telkom saat ini tengah menjalankan program streamlining untuk memperjelas fokus bisnis dan meningkatkan sinergi antaraset infrastruktur.
Melalui penataan ini, manajemen berupaya agar seluruh lini dapat dikelola lebih efisien, menciptakan nilai yang lebih besar, dan mendukung pertumbuhan jangka panjang. Namun, bisnis satelit dipastikan memiliki ruang tersendiri yang tidak diganggu gugat.
Strategi raksasa telekomunikasi ini adalah memperkuat peran bisnis satelit sebagai bagian dari solusi konektivitas end-to-end yang terintegrasi dengan jaringan kabel serat optik (fiber), jaringan terestrial (terrestrial network), pusat data (data center), hingga komputasi awan (cloud).
Fokus integrasi tersebut memungkinkan Telkomsat untuk melayani kebutuhan konektivitas di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), sektor maritim, industri energi, instansi pemerintahan, serta berbagai sektor yang memerlukan cakupan jaringan luas dan andal.
“Sehingga, bisnis satelit tetap menjadi bagian penting dari portofolio Digital Infrastructure Telkom,” kata Ahmad Reza.
Melihat lanskap kompetisi dan peluang yang ada hingga akhir tahun, perusahaan optimistis lini bisnis ini mampu mempertahankan trajektorinya. Transformasi portofolio diproyeksikan berjalan beriringan dengan ekspansi kapasitas layanan digital.
“Ke depan, Telkomsat akan terus memperkuat portofolio layanan konektivitas dan solusi digital untuk menangkap peluang pasar yang semakin meningkat.,” pungkasnya.
#telkom-satelit #bisnis-satelit #telkom-indonesia #telkom-streamlining #infrastruktur-digital #telkomsat-pertumbuhan #layanan-starlink #telkom-b2b #telkomsat-kontribusi #telkom-transformasi #solusi-kon