Mengapa Industri Swiss Dipercaya? Kadin: Kuncinya Vokasi dan SDM

Mengapa Industri Swiss Dipercaya? Kadin: Kuncinya Vokasi dan SDM

Kepercayaan terhadap industri Swiss dibangun melalui pendidikan vokasi, kualitas produk, dan sumber daya manusia yang disiapkan sesuai kebutuhan indus

(Kompas.com) 25/06/26 06:26 259082

BERN, KOMPAS.com — Kepercayaan atau trust yang melekat pada produk-produk Swiss dinilai bukan lahir dari promosi atau pemasaran semata. Reputasi tersebut dibangun melalui kualitas yang dijaga secara konsisten, didukung pendidikan vokasi yang terhubung dengan kebutuhan industri serta pengembangan sumber daya manusia (SDM). Contoh

Pandangan itu disampaikan Ketua Komite Hubungan Bilateral Swiss dan Liechtenstein Kadin Indonesia Francis Wanandi dalam bincang santai bersama Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya dan delegasi jurnalis Kompas Gramedia di Bern, Swiss, Senin (22/6/2026), dalam rangkaian peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Swiss.

"Kalau Swiss itu mereka selalu mulainya dari trust and quality. Karena mereka percaya itu yang menjadi sustainable di kemudian hari," kata Francis.

Menurut Francis, filosofi tersebut membuat perusahaan-perusahaan Swiss selalu membangun bisnis dengan pandangan jangka panjang. Banyak perusahaan di negara itu mampu bertahan hingga lebih dari 200 tahun karena menjaga kualitas produk dan kepercayaan pasar.

Selain itu, Swiss sejak awal tidak membangun produk hanya untuk pasar domestiknya yang kecil. Sebaliknya, industri di negara tersebut dikembangkan agar mampu bersaing di pasar global.

"Swiss enggak pernah melihat sesuatu itu untuk satu tahun atau dua tahun. Mereka selalu melihatnya minimal satu dekade," ujar Francis.

Ia menambahkan, kekuatan industri Swiss tidak hanya bertumpu pada inovasi, tetapi juga pada kemampuan menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri.

"Yang paling penting sukses satu negara bukan dari apa yang Tuhan berikan ke kita dengan sumber alam yang banyak atau lokasi geografis yang strategis, tapi human capital," kata Francis.

Menurut dia, Indonesia tidak bisa terus mengandalkan kekayaan sumber daya alam sebagai modal pembangunan. Yang jauh lebih menentukan adalah kemampuan menyiapkan tenaga kerja terampil yang sesuai dengan arah pembangunan industri.

Vokasi Disiapkan Sesuai Kebutuhan Industri

Francis menilai salah satu kekuatan utama Swiss adalah pendidikan vokasi yang menjadi pilihan utama masyarakat.

Di Swiss, sekitar 60 persen pelajar memilih jalur vokasi, sedangkan sekitar 40 persen melanjutkan pendidikan akademik.

"Di Indonesia vokasi masih dilihat sebagai the last education. Kalau tidak diterima di universitas, ya lari ke vokasi," ujarnya.

Menurut dia, persoalan terbesar pendidikan vokasi di Indonesia bukan hanya jumlah sekolah, tetapi belum kuatnya hubungan antara lembaga pendidikan dan dunia industri.

Ia mencontohkan pengembangan Pelabuhan Patimban sebagai pelabuhan kontainer laut dalam. Menurut Francis, pembangunan pelabuhan tersebut semestinya dibarengi penyediaan pendidikan vokasi yang menyiapkan operator crane, operator kontainer, hingga tenaga teknis lainnya.

"Kalau itu dilatih, itu jadi betul-betul jadi produksi," katanya.

KOMPAS.com/Aprillia Ika Ketua Kadin Indonesia untuk Swiss dan Liechtenstein Francis Wanandi (Kanan).

Pandangan tersebut diperkuat Ngurah Swajaya. Menurut dia, sistem pendidikan vokasi di Swiss menerapkan sistem ganda (dual system) yang menggabungkan pembelajaran teori di sekolah dengan praktik langsung di perusahaan.

"Teorinya sekitar 40 persen, praktiknya langsung di tempat kerja sesuai bidang pekerjaannya," ujar Ngurah.

Dengan sistem tersebut, perusahaan sudah mengenal kemampuan peserta didik bahkan sebelum mereka lulus.

"Begitu mendapat diploma dari pelatihan profesi (professional training), mereka bisa melanjutkan ke pendidikan akademik (academic education), baik diploma, sarjana, maupun jenjang berikutnya," kata Ngurah.

Ia menjelaskan, kurikulum vokasi di Swiss juga dievaluasi setiap lima tahun agar selalu mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.

"Setiap lima tahun mereka review kurikulumnya. Mereka sudah tahu lima tahun ke depan kebutuhan industrinya seperti apa," ujarnya.

Selain itu, tenaga pengajar vokasi berasal dari kalangan praktisi sehingga materi pembelajaran selalu mengikuti perkembangan di lapangan.

Francis mengatakan Indonesia perlu menentukan arah pembangunan industri lebih dahulu agar pendidikan vokasi dapat disiapkan sesuai kebutuhan.

"Kalau kita mau unggul di otomotif, berarti harus ada sekolah yang menuju industri otomotif sehingga ketika pabrik membutuhkan ribuan pekerja, semuanya sudah siap," ujarnya.

Ia menilai negara-negara seperti Swiss, Jepang, Korea Selatan, China, hingga Singapura memiliki arah pembangunan industri yang jelas sehingga mampu membangun ekosistem industri secara berkelanjutan.

Investasi Tidak Hanya Diukur dari Nilai

Selain pendidikan vokasi, Francis menilai Indonesia juga perlu mengubah cara pandang terhadap investasi.

Menurut dia, keberhasilan investasi tidak cukup diukur dari besarnya komitmen investasi, tetapi juga dari nilai tambah yang diberikan kepada masyarakat.

"Bagi saya lebih penting daripada angka adalah value apa yang diberikan kepada Indonesia," katanya.

Ia menilai investasi perusahaan kecil dan menengah berbasis teknologi justru mampu memperkuat ekosistem industri sekaligus menciptakan lapangan kerja.

"Investasi satu billion, rakyat merasakan apa? Kalau investasi 10 juta atau 20 juta, mungkin rakyat bisa merasakan secara langsung karena employment generation," ujar Francis.

Menurut dia, perusahaan-perusahaan Swiss juga tidak mencari tenaga kerja murah, melainkan tenaga kerja terampil.

"Swiss is never talk about cheap labors. They are talking about skilled labors," katanya.

Francis mengungkapkan sekitar 500 perusahaan manufaktur Swiss sedang mencari basis produksi baru di kawasan ASEAN sebagai bagian dari diversifikasi rantai pasok global.

Namun, kata dia, pertanyaan yang selalu muncul adalah apakah Indonesia mampu menyediakan tenaga kerja terampil dalam jumlah yang memadai.

"Swiss companies need skilled workers, kita punya enggak? Nah, ini yang selalu menjadi kesulitan jawaban kita," ujarnya.

Ngurah mengatakan momentum 75 tahun hubungan Indonesia-Swiss dapat dimanfaatkan untuk memperluas kerja sama pendidikan vokasi.

Ia mengusulkan setiap provinsi memiliki lembaga vokasi berbasis sistem Swiss yang disesuaikan dengan keunggulan ekonomi masing-masing daerah.

"Saya bilang setiap tahun satu lembaga vokasi sistem Swiss di setiap provinsi sesuai dengan apa yang menjadi keunggulan ekonomi di provinsi itu," kata Ngurah.

Menurut dia, pendekatan pelatihan bagi para pelatih (training for trainers) lebih efektif dibanding mengirim banyak pelajar ke Swiss karena ilmu yang diperoleh dapat ditularkan kembali kepada tenaga pengajar di Indonesia.

"Paling ideal tidak membawa mereka sekolah ke sini, kita bikin training for trainers," ujarnya.

Francis menambahkan pemerintah daerah juga perlu lebih aktif dalam menyiapkan tenaga kerja karena peningkatan pendapatan asli daerah bergantung pada terciptanya lapangan kerja baru.

"Bagaimana caranya meningkatkan PAD kalau employment generation-nya mereka tidak bisa meningkatkan?" kata Francis.

Menurut dia, pembangunan industri, pendidikan vokasi, dan pengembangan SDM perlu berjalan dalam arah yang sama agar Indonesia mampu meningkatkan daya saing industrinya di masa depan.

#RICH_75indonesiaswiss

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#vokasi #kadin #bern #francis-wanandi

https://money.kompas.com/read/2026/06/25/062610126/mengapa-industri-swiss-dipercaya-kadin-kuncinya-vokasi-dan-sdm