#30 tag 24jam
WNI di Swiss Bertambah, KBRI Bern Perkuat Layanan Digital
Jumlah WNI di Swiss terus bertambah. KBRI Bern membangun smart embassy untuk mempercepat layanan dan menjangkau warga. [1,108] url asal
#wni #swiss #kbri-bern #75-tahun-indonesia-swiss #bern
(Kompas.com - Money) 28/06/26 18:42
v/262100/
BERN, KOMPAS.com — Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bern, Swiss, membangun ekosistem layanan digital atau Smart Embassy Service Ecosystem untuk meningkatkan pelayanan bagi warga negara Indonesia (WNI) di Swiss dan Liechtenstein. Transformasi ini dilakukan seiring bertambahnya jumlah WNI di Swiss yang berdasarkan data resmi State Secretariat for Migration (SEM) mencapai 2.685 orang per 31 Maret 2026.
Data KBRI Bern juga mencatat jumlah WNI yang melakukan registrasi mencapai 2.782 orang per Januari 2026. Namun, KBRI menggunakan data SEM sebagai acuan karena mencatat WNI yang memiliki izin tinggal aktif di Swiss.
"WNI kita itu sebanyak 2.685, ini data terbaru. Tapi memang menurut catatan lapor diri itu lebih banyak, 2.782. Tapi yang jadi pegangan adalah yang dari SEM," ujar Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Swiss Purnowidodo kepada delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Grup, termasuk Kompas.com di Bern, Swiss, Jumat (26/6/2026).
"Karena kalau lapor diri itu kadang-kadang lapor diri pas masuk, tapi pulangnya enggak lapor diri," lanjutnya.
Berdasarkan data KBRI Bern, jumlah WNI di Swiss meningkat dari 2.250 orang pada 2021 menjadi 2.685 orang pada Maret 2026, atau tumbuh 19,3 persen dalam periode tersebut dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 3,8 persen per tahun.
Sebagian besar WNI di Swiss merupakan pemegang izin tinggal B sebanyak 1.665 orang atau 62,0 persen, disusul izin tinggal permanen C sebanyak 690 orang atau 25,7 persen, izin tinggal jangka pendek L sebanyak 212 orang atau 7,9 persen, izin lintas batas F sebanyak 80 orang atau 3,0 persen, serta kategori izin lainnya sebanyak 38 orang atau 1,4 persen.
Dilihat dari persebarannya, komunitas WNI terbesar berada di Zurich sebanyak 809 orang atau 30,1 persen, disusul Kanton (Provinsi) Vaud atau Lausanne 412 orang (15,3 persen), Jenewa 371 orang (13,8 persen), Bern 246 orang (9,2 persen), Basel-Stadt 167 orang (6,2 persen), dan kanton lainnya 680 orang (25,4 persen).
Menurut profil umum KBRI Bern, komunitas Indonesia di Swiss didominasi kalangan profesional dan tenaga ahli, akademisi, peneliti, mahasiswa, pegawai organisasi internasional, tenaga kesehatan, pelaku usaha dan UMKM, serta keluarga hasil perkawinan Indonesia-Swiss.
Purnowidodo mengatakan, secara umum permasalahan WNI di Swiss tidak tergolong berat karena mayoritas mematuhi hukum. Namun, lebih dari 50 persen layanan kekonsuleran yang ditangani berkaitan dengan kehilangan paspor.
"Bukan berarti Swiss itu negara yang tidak aman, tetapi kecerobohan kita juga kadang-kadang mengundang permasalahan buat kita," katanya.
Inovasi Layanan Digital, dari BINA hingga SIGAP
Untuk menjawab tingginya kebutuhan informasi masyarakat di tengah keterbatasan jumlah staf, KBRI Bern membangun Smart Embassy Service Ecosystem yang mengintegrasikan layanan digital, akses informasi, hingga pembayaran dalam satu ekosistem.
Salah satu inovasinya adalah BINA (Bern Intelligent Assistant), chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memberikan layanan informasi selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu melalui WhatsApp.
"Kita buat BINA, Bern Intelligent Assistant. Itu AI chatbot layanan 24 jam seminggu untuk melengkapi hotline yang memang sudah ada," ujar Purnowidodo.
"Cukup beberapa klik di nomor WhatsApp, mereka dapat semua informasi yang mereka butuhkan," lanjutnya.
Melalui layanan tersebut, WNI yang kehilangan paspor dapat mengetahui dokumen yang harus disiapkan, mengirimkan persyaratan melalui surat elektronik, hingga membuat janji kedatangan ke KBRI.
Selain BINA, KBRI Bern menghadirkan PINTAR (Pusat Informasi Terpadu Akses RI) berupa kios layar sentuh yang mengintegrasikan informasi kekonsuleran, keimigrasian, perdagangan, investasi, pariwisata, hingga layanan lapor diri dalam satu titik pelayanan.
KBRI Bern juga menjalankan SIGAP (Sistem Gerak Cepat Pelayanan Kekonsuleran) melalui layanan jemput bola ke berbagai kota di Swiss. Menurut Purnowidodo, layanan tersebut ditujukan bagi WNI yang tinggal jauh dari Bern maupun mereka yang sudah lanjut usia dan tidak lagi mudah bepergian.
"Kita yang datangin, selain untuk menjemput bola dan juga bagaimana KBRI bisa hadir di tengah-tengah mereka mengayomi masyarakat," ujarnya.
Di sisi pembayaran, KBRI Bern menerapkan TEPAT (Transaksi Elektronik Pembayaran yang Akurat dan Transparan) berupa sistem pembayaran digital, real time, dan cashless.
"Jangan dilihat bahwa inovasi itu harus yang high tech. Tapi kita membuat inovasi itu hal-hal yang memang dibutuhkan oleh masyarakat kita di sini," kata Purnowidodo.
Inovasi Akses Informasi: Media Sosial hingga Podcast
Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Swiss Dahlia Kusuma Dewi mengatakan inovasi tersebut dibuat untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperluas akses pelayanan publik.
"Tujuannya juga adalah untuk memberikan kemudahan akses sebenarnya kepada masyarakat, baik itu kemudahan tidak hanya akses tetapi juga pelayanan," ujar Dahlia.
Menurut dia, media sosial menjadi salah satu kanal utama penyampaian informasi kepada masyarakat. Jumlah pengikut Instagram KBRI Bern meningkat dari 6.883 pada September 2025 menjadi sekitar 14.400 pada awal Juni 2026.
KBRI Bern juga menyiapkan podcast INSIS (Indonesia Swiss Stories) yang melibatkan warga Swiss dan warga asing peserta program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) sebagai pembawa acara.
"Harapannya adalah dengan menjadi host ini langsung kawan-kawan pelajar BIPA mendapatkan informasi dari kami mengenai hal-hal yang ingin mereka ketahui," kata Dahlia.
Selain pelayanan kepada masyarakat, KBRI Bern juga membangun sistem administrasi internal SIAP (Sistem Inovasi untuk Pelayanan Perkantoran) yang mendukung proses pengajuan cuti, lembur, peminjaman kendaraan dinas, hingga pengelolaan arsip secara digital dan paperless.
"Harapannya adalah kita bisa juga membangun integritas dari staf-staf KBRI itu sendiri, profesionalitasnya, integritasnya," ujar Dahlia.
Purnowidodo mengatakan, berbagai inovasi tersebut turut mendorong peningkatan penilaian masyarakat terhadap pelayanan KBRI Bern. Skor Google Review KBRI Bern naik dari 3,8 menjadi 4,2 dalam satu tahun terakhir.
Selain itu, KBRI Bern secara berkala juga melakukan survei kepuasan masyarakat, survei persepsi antikorupsi, survei pelayanan kekonsuleran dan keimigrasian, serta survei citra Indonesia.
Dahlia menjelaskan, hasil survei menunjukkan sektor pariwisata memperoleh penilaian sekitar 4,3 dari skala 5. Sementara aspek good governance serta ekonomi dan perdagangan masih berada di kisaran 3,5 hingga 3,6.
Menurut dia, persepsi masyarakat Swiss terhadap Indonesia tidak terlepas dari pemberitaan media yang mereka konsumsi. Karena itu, KBRI Bern terus memperbanyak penyebaran informasi positif melalui media sosial, kegiatan budaya, resepsi diplomatik, podcast, hingga kerja sama dengan media lokal.
Dalam promosi pariwisata, Dahlia mengatakan wisatawan Swiss umumnya membutuhkan informasi yang jelas mengenai akses menuju destinasi serta kepastian biaya perjalanan.
"Orang Swiss ini tipikalnya adalah mereka ingin tahu kalau saya mau ke Labuan Bajo berapa sih budget yang harus saya siapkan," ujarnya.
Sementara itu, untuk layanan visa, KBRI Bern menerapkan standar waktu penyelesaian selama lima hari kerja. Selain melalui KBRI, pengajuan visa juga dapat dilakukan melalui e-visa maupun visa on arrival, dengan masa berlaku visa on arrival selama 30 hari.
Adapun untuk paspor elektronik, KBRI Bern menyatakan belum memperoleh akses pencetakan e-paspor dari Direktorat Jenderal Imigrasi, meski kebutuhan masyarakat dinilai semakin tinggi seiring mobilitas WNI di kawasan Schengen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Swiss Siapkan Industri 5.0, Indonesia Mulai Buka Jalan Kolaborasi
Swiss mulai melangkah ke Industry 5.0 berbasis AI. Indonesia membuka akses kolaborasi untuk menyiapkan SDM dan ekosistem industri. [881] url asal
#swiss #ngurah-swajaya #bern #francis-wanandi
(Kompas.com - Money) 25/06/26 17:36
v/259856/
BERN, KOMPAS.com — Saat sebagian besar negara masih berfokus pada Industry 4.0, Swiss mulai melangkah ke Industry 5.0 yang bertumpu pada kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), robotika, dan kolaborasi manusia dengan mesin cerdas. Melalui Swiss Smart Factory di Biel, kanton Bern, Indonesia pun mulai membuka akses kerja sama untuk mempelajari pengembangan teknologi tersebut sebagai bagian dari penguatan ekosistem industri dan sumber daya manusia.
Kunjungan delegasi Indonesia ke Swiss Smart Factory merupakan bagian dari upaya membangun kolaborasi dengan pusat pengembangan teknologi tersebut. Kerja sama telah dijalin bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, termasuk dengan lembaga pendidikan vokasi di Solo dan Nongsa Digital Park, untuk membuka akses pengembangan teknologi bagi Indonesia.
"Jadi kita berupaya, kita juga tap keahlian mereka untuk kita bawa ke Indonesia. Jadi itu hampir sebagai alasan kenapa kita di sini," kata Dubes RI untuk Swiss Ngurah Swajaya, kepada delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Grup, termasuk Kompas.com, dalam sesi khusus di sela acara " 7th Edition of the International Smart Factory Summit: Shaping Industry 5.0 Together, di Bern, Kamis (24/6/2026).
Menurut Ngurah, Swiss Smart Factory merupakan inkubator teknologi yang berfokus pada robotika dan kobotika, yakni robot yang dapat berinteraksi langsung dengan manusia. Berbeda dengan robot industri konvensional yang bekerja secara terpisah dari manusia, teknologi kobotika dirancang untuk bekerja berdampingan dengan operator.
Ia menjelaskan, lembaga tersebut tidak didirikan pemerintah, melainkan oleh industri yang kemudian mendapat dukungan pemerintah, terutama pemerintah daerah. Di lokasi yang berdampingan dengan universitas itu, hasil riset tidak berhenti sebagai penelitian, tetapi disiapkan agar dapat diterapkan langsung di dunia usaha.
"Jadi semacam agregator dalam rangka mengaplikasikan di lapangan. Jadi nanti kita lihat industri itu penggunaan sumber daya manusianya semakin sedikit," ujar Ngurah.
AI Mengubah Arah Industri
Dalam International Smart Factory Summit di Swiss Smart Factory, Dominic Gorecky dari Switzerland Innovation Park Biel/Bienne mengatakan dunia kini memasuki perlombaan baru yang berbeda dari konsep Industry 4.0.
"Saat ini hanya Amerika Serikat dan China yang benar-benar mendominasi pasar ini. Bahkan Swiss dan Eropa mungkin belum cukup kuat untuk ikut dalam perlombaan tersebut," kata Gorecky.
"Ini adalah perlombaan menuju supremasi teknologi. Inilah perlombaan baru yang sedang kita saksikan, dan secara mendasar berbeda dengan konsep Industry 4.0," ujarnya.
Menurut Gorecky, Industry 5.0 menghadirkan konsep tenaga kerja baru yang memadukan manusia dengan AI agent. Teknologi tersebut mampu menyediakan informasi yang tepat untuk membantu pengambilan keputusan, bekerja berdasarkan misi, serta beroperasi selama 24 jam sehari.
Perkembangan berikutnya adalah hadirnya AI fisik (physical AI) yang mencakup robot adaptif, kendaraan tanpa pengemudi, drone otonom, hingga robot humanoid.
"Inilah tenaga kerja masa depan kita, dan saat ini kita sama sekali belum siap menghadapinya," kata Gorecky.
Ia juga menjelaskan bahwa pada Industry 5.0, AI agent tidak hanya memahami kebutuhan pengguna, tetapi juga dapat bernegosiasi dengan pabrik dan rantai pasok untuk memperoleh produk terbaik dalam waktu paling optimal.
Meski demikian, Gorecky mempertanyakan apakah konsep Industry 5.0 benar-benar masih menempatkan manusia sebagai pusat.
"Jika Anda bertanya kepada seorang CEO apakah mereka menginginkan pabrik yang dipenuhi manusia, jawabannya adalah tidak. Mereka menginginkan pabrik dengan lebih sedikit manusia. Jadi, di mana letak konsep yang berpusat pada manusia? Saya mempertanyakan hal itu," katanya.
Dalam paparannya, Gorecky juga mengingatkan risiko apabila suatu negara tidak berinvestasi pada inovasi AI. Menurut dia, Swiss dan Eropa dapat menjadi "Koloni AI" apabila hanya bergantung pada teknologi yang dikembangkan negara lain, sedangkan jalan keluarnya adalah meningkatkan investasi pada inovasi, memperkuat perusahaan rintisan, serta membangun ekosistem Industry 5.0.
"Kami bukan hanya ingin menulis makalah dan teori. Kami benar-benar ingin mengubah dunia," ujarnya.
Kolaborasi Jadi Kunci
Ketua Komite Hubungan Bilateral Swiss dan Liechtenstein Kadin Indonesia Francis Wanandi menilai Swiss Smart Factory menunjukkan bagaimana kolaborasi menjadi fondasi utama pengembangan teknologi di Swiss.
"Satu sangat mengganggu, tapi di satu sisi juga cukup mengerikan apa kejadian masa depan di dunia ini. Saya rasa dengan adanya Swiss Smart Factory ini sangat menunjukkan komitmen dari Swiss sebagai sebuah negara untuk menjadi yang terdepan, untuk menjadi player, bukan hanya sebagai user," kata Francis.
Menurut dia, kekuatan utama Swiss terletak pada kolaborasi antara industri, pemerintah, dan perguruan tinggi yang memiliki visi yang sama untuk menjadi pemimpin teknologi dunia.
"Kuncinya kalau saya lihat di sini adalah semua itu adalah kolaborasi. Kolaborasi sesama industri, kolaborasi antara pemerintah dengan industri, termasuk kolaborasi juga dengan perguruan-perguruan tinggi yang ada di sini," ujarnya.
Francis mengatakan Indonesia telah membuka akses kerja sama dengan Swiss Smart Factory melalui Kadin, Nongsa Digital Park, dan lembaga pendidikan vokasi. Langkah berikutnya adalah menyiapkan program training for trainers.
"Nanti kita latih beberapa orang bisa melakukan pelatihan di Indonesia. Itu nanti diaplikasikan secara luas," katanya.
Ia menjelaskan pelatihan tersebut menyasar kalangan insinyur, pengembang teknologi, hingga perancang teknologi agar Indonesia mulai membangun kemampuan sejak tahap awal pengembangan Industry 5.0.
Menurut Francis, KBRI Bern juga memandang penting mendorong investasi perusahaan kecil dan menengah Swiss yang berbasis teknologi karena dinilai dapat membantu membangun ekosistem industri di Indonesia.
"Kalau misalnya tidak ada ekosistem industri, ya tidak bisa hanya dipaksakan dengan aturan. Di sinilah kunci strategisnya kalau menurut saya. Bagaimana kita bisa menuju ke apa yang menjadi visi Indonesia 2045, Indonesia Emas. Jadi sumber daya manusianya harus kita perkuat. Ekosistem industrinya harus kita perkuat," ujar Francis.
#RICH_75indonesiaswiss
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Swiss Peringatkan Ancaman "Koloni AI" di Era Industri 5.0
Swiss mengingatkan negara yang terlambat berinvestasi di bidang AI berisiko menjadi 'koloni AI' di tengah persaingan teknologi global. [673] url asal
#swiss #ai #bern #swiss-smart-factory
(Kompas.com - Money) 25/06/26 16:56
v/259759/
BERN, KOMPAS.com — Persaingan industri global dinilai telah memasuki babak baru. Jika sebelumnya transformasi industri berfokus pada digitalisasi melalui Industry 4.0, kini dunia mulai bergerak menuju Industry 5.0 yang bertumpu pada kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Di tengah perubahan itu, negara yang gagal membangun kapasitas inovasi berisiko menjadi "koloni AI" dan bergantung pada teknologi negara lain.
Pandangan tersebut disampaikan Dominic Gorecky dari Switzerland Innovation Park Biel/Bienne dalam International Smart Factory Summit di Swiss Smart Factory, Bern, Swiss, Kamis (25/6/2026).
"Saat ini hanya Amerika Serikat dan China yang benar-benar mendominasi pasar ini. Bahkan Swiss dan Eropa mungkin belum cukup kuat untuk ikut dalam perlombaan tersebut," kata Gorecky.
"Ini adalah perlombaan menuju supremasi teknologi. Inilah perlombaan baru yang sedang kita saksikan, dan secara mendasar berbeda dengan konsep Industry 4.0," ujarnya.
Menurut Gorecky, perubahan tersebut ditandai dengan hadirnya konsep tenaga kerja baru yang memadukan manusia dengan teknologi cerdas berbasis AI.
AI Menjadi Tenaga Kerja Baru
Ia menjelaskan, pada Industry 5.0, operator tidak lagi bekerja sendiri, melainkan didampingi AI agent yang mampu menyediakan informasi yang tepat agar keputusan dapat diambil pada waktu yang tepat.
AI agent juga tidak lagi sekadar menjalankan tugas tertentu, melainkan berorientasi pada penyelesaian misi sehingga dapat bekerja selama 24 jam sehari untuk menyelesaikan berbagai persoalan.
Selain itu, perkembangan berikutnya adalah AI fisik (physical AI) yang mencakup robot adaptif, kendaraan tanpa pengemudi, drone otonom, hingga robot humanoid.
"Inilah lompatan berikutnya. Bukan hanya robot humanoid, tetapi juga robot yang lebih adaptif, kendaraan tanpa pengemudi, dan drone. Inilah tenaga kerja masa depan kita, dan saat ini kita sama sekali belum siap menghadapinya," kata Gorecky.
Ia kemudian menjelaskan perbedaan mendasar antara Industry 4.0 dan Industry 5.0 melalui contoh pembelian produk.
Pada Industry 4.0, konsumen masih memilih sendiri produk melalui konfigurator digital yang terhubung dengan pabrik.
Sementara pada Industry 5.0, AI agent memahami kebutuhan pengguna, mengetahui preferensinya, menilai tingkat urgensi, kemudian bernegosiasi dengan pabrik dan rantai pasok agar produk terbaik dapat diperoleh dalam waktu tercepat.
"AI agent tersebut pada akhirnya juga akan bernegosiasi dengan pabrik dan rantai pasok untuk memastikan Anda memperoleh produk terbaik dalam waktu yang paling optimal," ujarnya.
Meski demikian, Gorecky mempertanyakan apakah konsep Industry 5.0 benar-benar masih menempatkan manusia sebagai pusat.
Menurut dia, banyak pemimpin perusahaan justru menginginkan pabrik dengan jumlah pekerja manusia yang semakin sedikit.
"Jika Anda bertanya kepada seorang CEO apakah mereka menginginkan pabrik yang dipenuhi manusia, jawabannya adalah tidak. Mereka menginginkan pabrik dengan lebih sedikit manusia. Jadi, di mana letak konsep yang berpusat pada manusia? Saya mempertanyakan hal itu," katanya.
Tiga Skenario Masa Depan
Pada akhir paparannya, Gorecky memaparkan tiga kemungkinan masa depan Swiss dan Eropa bergantung pada arah kebijakan inovasi yang diambil.
Skenario pertama adalah Museum Alpen (Alpine Museum). Dalam kondisi ini, Swiss terus mengurangi investasi pada inovasi sehingga kehilangan daya saing industri dan pada akhirnya hanya mengandalkan sektor seperti pariwisata dan pertanian.
Skenario kedua adalah Koloni AI (AI Colony). Pada kondisi ini, Swiss dan Eropa hanya menjadi pengguna teknologi yang dikembangkan negara lain sehingga bergantung sepenuhnya pada model AI dan teknologi dari luar.
"Jika kondisi ini terus berlanjut, kita bisa menjadi koloni AI. Kemungkinan hanya dua negara yang akan menyediakan tumpukan teknologi, termasuk model AI, dan kita hanya menjadi pengguna yang bergantung sepenuhnya kepada mereka. Swiss dan Eropa akan menjadi koloni AI," ujarnya.
Adapun skenario ketiga adalah Kebangkitan Industri (Industrial Renaissance). Menurut Gorecky, hal itu dapat dicapai apabila Swiss memilih meningkatkan investasi pada inovasi, memperkuat perusahaan rintisan, serta membangun ekosistem Industry 5.0.
"Kita harus mengambil keputusan untuk bergerak maju, berinvestasi, dan berkomitmen sehingga Swiss dan Eropa kembali menjadi kekuatan industri dan teknologi," katanya.
Menutup paparannya, Gorecky menegaskan Swiss Smart Factory tidak ingin hanya menghasilkan kajian dan teori, tetapi juga menghadirkan inovasi yang dapat diterapkan langsung oleh industri melalui pembangunan laboratorium Industry 5.0 pertama di Eropa.
"Kami bukan hanya ingin menulis makalah dan teori. Kami benar-benar ingin mengubah dunia," ujarnya.
#RICH_75indonesiaswiss
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Mengapa Industri Swiss Dipercaya? Kadin: Kuncinya Vokasi dan SDM
Kepercayaan terhadap industri Swiss dibangun melalui pendidikan vokasi, kualitas produk, dan sumber daya manusia yang disiapkan sesuai kebutuhan indus [970] url asal
#vokasi #kadin #bern #francis-wanandi
(Kompas.com - Money) 25/06/26 06:26
v/259082/
BERN, KOMPAS.com — Kepercayaan atau trust yang melekat pada produk-produk Swiss dinilai bukan lahir dari promosi atau pemasaran semata. Reputasi tersebut dibangun melalui kualitas yang dijaga secara konsisten, didukung pendidikan vokasi yang terhubung dengan kebutuhan industri serta pengembangan sumber daya manusia (SDM). Contoh
Pandangan itu disampaikan Ketua Komite Hubungan Bilateral Swiss dan Liechtenstein Kadin Indonesia Francis Wanandi dalam bincang santai bersama Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya dan delegasi jurnalis Kompas Gramedia di Bern, Swiss, Senin (22/6/2026), dalam rangkaian peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Swiss.
"Kalau Swiss itu mereka selalu mulainya dari trust and quality. Karena mereka percaya itu yang menjadi sustainable di kemudian hari," kata Francis.
Menurut Francis, filosofi tersebut membuat perusahaan-perusahaan Swiss selalu membangun bisnis dengan pandangan jangka panjang. Banyak perusahaan di negara itu mampu bertahan hingga lebih dari 200 tahun karena menjaga kualitas produk dan kepercayaan pasar.
Selain itu, Swiss sejak awal tidak membangun produk hanya untuk pasar domestiknya yang kecil. Sebaliknya, industri di negara tersebut dikembangkan agar mampu bersaing di pasar global.
"Swiss enggak pernah melihat sesuatu itu untuk satu tahun atau dua tahun. Mereka selalu melihatnya minimal satu dekade," ujar Francis.
Ia menambahkan, kekuatan industri Swiss tidak hanya bertumpu pada inovasi, tetapi juga pada kemampuan menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri.
"Yang paling penting sukses satu negara bukan dari apa yang Tuhan berikan ke kita dengan sumber alam yang banyak atau lokasi geografis yang strategis, tapi human capital," kata Francis.
Menurut dia, Indonesia tidak bisa terus mengandalkan kekayaan sumber daya alam sebagai modal pembangunan. Yang jauh lebih menentukan adalah kemampuan menyiapkan tenaga kerja terampil yang sesuai dengan arah pembangunan industri.
Vokasi Disiapkan Sesuai Kebutuhan Industri
Francis menilai salah satu kekuatan utama Swiss adalah pendidikan vokasi yang menjadi pilihan utama masyarakat.
Di Swiss, sekitar 60 persen pelajar memilih jalur vokasi, sedangkan sekitar 40 persen melanjutkan pendidikan akademik.
"Di Indonesia vokasi masih dilihat sebagai the last education. Kalau tidak diterima di universitas, ya lari ke vokasi," ujarnya.
Menurut dia, persoalan terbesar pendidikan vokasi di Indonesia bukan hanya jumlah sekolah, tetapi belum kuatnya hubungan antara lembaga pendidikan dan dunia industri.
Ia mencontohkan pengembangan Pelabuhan Patimban sebagai pelabuhan kontainer laut dalam. Menurut Francis, pembangunan pelabuhan tersebut semestinya dibarengi penyediaan pendidikan vokasi yang menyiapkan operator crane, operator kontainer, hingga tenaga teknis lainnya.
"Kalau itu dilatih, itu jadi betul-betul jadi produksi," katanya.
KOMPAS.com/Aprillia Ika Ketua Kadin Indonesia untuk Swiss dan Liechtenstein Francis Wanandi (Kanan).Pandangan tersebut diperkuat Ngurah Swajaya. Menurut dia, sistem pendidikan vokasi di Swiss menerapkan sistem ganda (dual system) yang menggabungkan pembelajaran teori di sekolah dengan praktik langsung di perusahaan.
"Teorinya sekitar 40 persen, praktiknya langsung di tempat kerja sesuai bidang pekerjaannya," ujar Ngurah.
Dengan sistem tersebut, perusahaan sudah mengenal kemampuan peserta didik bahkan sebelum mereka lulus.
"Begitu mendapat diploma dari pelatihan profesi (professional training), mereka bisa melanjutkan ke pendidikan akademik (academic education), baik diploma, sarjana, maupun jenjang berikutnya," kata Ngurah.
Ia menjelaskan, kurikulum vokasi di Swiss juga dievaluasi setiap lima tahun agar selalu mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
"Setiap lima tahun mereka review kurikulumnya. Mereka sudah tahu lima tahun ke depan kebutuhan industrinya seperti apa," ujarnya.
Selain itu, tenaga pengajar vokasi berasal dari kalangan praktisi sehingga materi pembelajaran selalu mengikuti perkembangan di lapangan.
Francis mengatakan Indonesia perlu menentukan arah pembangunan industri lebih dahulu agar pendidikan vokasi dapat disiapkan sesuai kebutuhan.
"Kalau kita mau unggul di otomotif, berarti harus ada sekolah yang menuju industri otomotif sehingga ketika pabrik membutuhkan ribuan pekerja, semuanya sudah siap," ujarnya.
Ia menilai negara-negara seperti Swiss, Jepang, Korea Selatan, China, hingga Singapura memiliki arah pembangunan industri yang jelas sehingga mampu membangun ekosistem industri secara berkelanjutan.
Investasi Tidak Hanya Diukur dari Nilai
Selain pendidikan vokasi, Francis menilai Indonesia juga perlu mengubah cara pandang terhadap investasi.
Menurut dia, keberhasilan investasi tidak cukup diukur dari besarnya komitmen investasi, tetapi juga dari nilai tambah yang diberikan kepada masyarakat.
"Bagi saya lebih penting daripada angka adalah value apa yang diberikan kepada Indonesia," katanya.
Ia menilai investasi perusahaan kecil dan menengah berbasis teknologi justru mampu memperkuat ekosistem industri sekaligus menciptakan lapangan kerja.
"Investasi satu billion, rakyat merasakan apa? Kalau investasi 10 juta atau 20 juta, mungkin rakyat bisa merasakan secara langsung karena employment generation," ujar Francis.
Menurut dia, perusahaan-perusahaan Swiss juga tidak mencari tenaga kerja murah, melainkan tenaga kerja terampil.
"Swiss is never talk about cheap labors. They are talking about skilled labors," katanya.
Francis mengungkapkan sekitar 500 perusahaan manufaktur Swiss sedang mencari basis produksi baru di kawasan ASEAN sebagai bagian dari diversifikasi rantai pasok global.
Namun, kata dia, pertanyaan yang selalu muncul adalah apakah Indonesia mampu menyediakan tenaga kerja terampil dalam jumlah yang memadai.
"Swiss companies need skilled workers, kita punya enggak? Nah, ini yang selalu menjadi kesulitan jawaban kita," ujarnya.
Ngurah mengatakan momentum 75 tahun hubungan Indonesia-Swiss dapat dimanfaatkan untuk memperluas kerja sama pendidikan vokasi.
Ia mengusulkan setiap provinsi memiliki lembaga vokasi berbasis sistem Swiss yang disesuaikan dengan keunggulan ekonomi masing-masing daerah.
"Saya bilang setiap tahun satu lembaga vokasi sistem Swiss di setiap provinsi sesuai dengan apa yang menjadi keunggulan ekonomi di provinsi itu," kata Ngurah.
Menurut dia, pendekatan pelatihan bagi para pelatih (training for trainers) lebih efektif dibanding mengirim banyak pelajar ke Swiss karena ilmu yang diperoleh dapat ditularkan kembali kepada tenaga pengajar di Indonesia.
"Paling ideal tidak membawa mereka sekolah ke sini, kita bikin training for trainers," ujarnya.
Francis menambahkan pemerintah daerah juga perlu lebih aktif dalam menyiapkan tenaga kerja karena peningkatan pendapatan asli daerah bergantung pada terciptanya lapangan kerja baru.
"Bagaimana caranya meningkatkan PAD kalau employment generation-nya mereka tidak bisa meningkatkan?" kata Francis.
Menurut dia, pembangunan industri, pendidikan vokasi, dan pengembangan SDM perlu berjalan dalam arah yang sama agar Indonesia mampu meningkatkan daya saing industrinya di masa depan.
#RICH_75indonesiaswiss
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Jembatan harapan dari pulau ke pulau bernama Pete-pete Laut
Di tengah deburan ombak Selat Makassar, harapan warga kepulauan yang bermukim di 13 pulau di Kecamatan Sangkarrang, Kota Makassar, untuk mendapat fasilitas ... [1,100] url asal
#jembatan-harapan #dari-pulau #ke-pulau #bernama #pete-pete-laut
pembangunan yang berhasil adalah pembangunan yang melibatkan rasa memiliki dari masyarakat
Makassar (ANTARA) - Di tengah deburan ombak Selat Makassar, harapan warga kepulauan yang bermukim di 13 pulau di Kecamatan Sangkarrang, Kota Makassar, untuk mendapat fasilitas transportasi laut menjadi kenyataan dengan hadirnya pete-pete laut yang diresmikan oleh Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin.
Bagi warga di Kepulauan Spermonde itu, laut yang selama ini menjadi pembatas fisik berubah menjadi jalan penghubung berkat kehadiran Pete-pete Laut. Pete-pete merupakan sebutan khas di Makassar untuk angkutan kota.
Program transportasi laut gratis yang dilayani dengan KM Banawa Nusantara 27 ini bukan sekadar moda angkutan.
Ia adalah simbol nyata dari janji politik yang ditepati, bukti komitmen pemerintah dalam menghapus kesenjangan akses, serta manifestasi semangat nasionalisme yang memastikan tidak ada satu pun warga negara yang tertinggal di pelosok negeri.
Kehadiran Pete-pete Laut tidak terjadi secara instan. Di balik peresmian yang digelar pada Jumat (12/6) di Dermaga Pulau Barrang Lompo, terdapat narasi perjuangan panjang Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin.
Di hamparan biru Selat Makassar, kehidupan masyarakat kepulauan selama bertahun-tahun berjalan dalam irama yang berbeda dengan warga daratan. Laut yang indah sekaligus menjadi berkah dan tantangan.
Ia menyimpan kekayaan alam yang melimpah, tetapi pada saat yang sama menghadirkan keterbatasan akses bagi mereka yang tinggal di pulau-pulau terluar.
Bagi warga Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, perjalanan dari satu pulau ke pulau lainnya bukan sekadar aktivitas biasa.
Di balik setiap perjalanan tersimpan perjuangan para pelajar yang hendak menuntut ilmu, guru yang mengabdikan diri di sekolah-sekolah pulau, tenaga kesehatan yang membawa pelayanan bagi masyarakat, hingga keluarga yang ingin sekadar bersilaturahim dengan kerabat di pulau tetangga.
Kini, perjuangan itu perlahan menemukan jalan baru. Program transportasi laut gratis yang diluncurkan Pemerintah Kota Makassar menjadi babak baru bagi kehidupan masyarakat kepulauan.
Bagi Rosdiana, warga Pulau Barrang Lompo, kehadiran Pete-pete Laut bukan hanya soal kapal yang berlayar. Ia adalah simbol perhatian dan kehadiran negara yang selama ini dinanti.
“Masya Allah, ini sangat membantu sekali untuk masyarakat pergi antara pulau satu dan pulau lain. Apalagi ini gratis. Kami sangat berterima kasih kepada Pak Wali Kota,” tuturnya dengan wajah ceria dan ekspresi penuh syukur.
Ucapan itu mewakili suara ribuan warga kepulauan yang selama bertahun-tahun harus berjuang dengan keterbatasan transportasi antar pulau.
Akses terbatas
Selama ini, kapal penumpang memang tersedia menuju Kota Makassar. Namun untuk menjangkau pulau-pulau tetangga dalam gugusan Kepulauan Sangkarrang, aksesnya sangat terbatas karena biasanya hanya beroperasi pada jam-jam tertentu.
Padahal, Kota Makassar tidak hanya terdiri dari daratan. Di wilayahnya terdapat 13 pulau yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kota ini.
Pulau Barrang Lompo, Barrang Caddi, Bone Tambung, Kodingareng Keke, Kodingareng Lompo, Lae-Lae, Samalona, Lakkang, Kayangan, Lumu-Lumu, Bonebattang, Langkai, dan Lanjukang adalah wajah lain Makassar yang selama ini terus tumbuh dengan segala dinamika dan tantangannya.
Kehadiran Pete-pete Laut menjadi bukti bahwa pembangunan tidak boleh berhenti di daratan. Kemajuan harus menjangkau seluruh wilayah, termasuk pulau-pulau yang berdiri kokoh di tengah lautan.
Perjalanan menghadirkan layanan ini tidak terjadi dalam semalam. Di balik peluncurannya terdapat proses panjang yang dimulai sejak Oktober 2025 ketika Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mendatangi Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan di Jakarta.
Saat itu, ia membawa satu pesan penting, masyarakat kepulauan membutuhkan akses transportasi yang lebih baik.
Dari ruang-ruang pertemuan hingga meja-meja pembahasan kebijakan, aspirasi warga pulau diperjuangkan. Hasilnya kini nyata. KM Banawa Nusantara 27 hadir sebagai sarana yang menghubungkan pulau-pulau yang selama ini terpisah oleh keterbatasan akses.

Jembatan harapan
Setiap Senin pagi, kapal akan memulai perjalanan dari Pulau Barrang Lompo menuju Pulau Bone Tambu, Pulau Lumu-Lumu, Pulau Langkai hingga pulau-pulau terluar lainnya sebelum kembali ke titik awal. Rute ini dipilih karena merupakan wilayah yang selama ini paling membutuhkan layanan transportasi reguler.
Bagi para pelajar, kehadiran Pete-pete Laut berarti kesempatan belajar yang lebih mudah dijangkau. Bagi guru, ia mempermudah pengabdian. Bagi tenaga kesehatan, ia mempercepat pelayanan kepada warga. Bagi nelayan dan pelaku usaha kecil, ia membuka peluang aktivitas ekonomi yang lebih luas.
Inilah makna sesungguhnya dari pembangunan. Bukan hanya membangun jalan, gedung, atau infrastruktur fisik, tetapi membuka akses yang memungkinkan masyarakat berkembang dan meningkatkan kualitas hidupnya.
Dalam perspektif pendidikan, transportasi yang memadai merupakan fondasi penting untuk pemerataan kesempatan belajar. Anak-anak di pulau memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas seperti anak-anak di daratan. Ketika akses transportasi semakin mudah, peluang mereka untuk menggapai cita-cita juga semakin besar.
Dalam bidang kesehatan, keberadaan transportasi laut yang terjadwal membantu tenaga medis menjangkau wilayah pelayanan dengan lebih cepat dan aman. Pelayanan kesehatan yang baik tidak hanya bergantung pada tenaga medis dan fasilitas kesehatan, tetapi juga pada kemudahan akses menuju lokasi pelayanan.
Sementara dari sisi ekonomi, konektivitas antar pulau dapat memperkuat pergerakan barang, jasa, dan aktivitas masyarakat. Ketika akses semakin terbuka, peluang usaha baru juga tumbuh. Mobilitas yang lebih baik akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di wilayah kepulauan.
Namun lebih dari itu semua, Pete-pete Laut menghadirkan pesan besar tentang keadilan pembangunan.
Bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang hanya membangun pusat-pusat kota. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu memastikan setiap warganya merasakan manfaat pembangunan, tanpa memandang apakah mereka tinggal di pusat kota atau di pulau terluar.
Di sinilah nilai nasionalisme menemukan maknanya. Bahwa setiap jengkal wilayah Indonesia memiliki arti yang sama pentingnya. Bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pelayanan publik yang layak. Dan bahwa negara harus hadir hingga ke titik terjauh tempat rakyatnya tinggal.
Karena itu, peluncuran Pete-pete Laut bukan sekadar peresmian sebuah kapal. Ia adalah simbol hadirnya negara di tengah masyarakat kepulauan. Ia adalah bukti bahwa suara warga pulau didengar dan diperjuangkan.
Munafri Arifuddin menegaskan bahwa kapal tersebut bukan milik pemerintah, melainkan milik masyarakat yang difasilitasi pemerintah. Pesan itu mengandung makna penting bahwa pembangunan yang berhasil adalah pembangunan yang melibatkan rasa memiliki dari masyarakat.
Karena itu, menjaga Pete-pete Laut menjadi tanggung jawab bersama. Menjaga fasilitas publik berarti menjaga masa depan bersama. Ketika masyarakat dan pemerintah berjalan seiring, pembangunan akan lebih mudah mencapai tujuannya.
Di atas gelombang yang terus bergerak, KM Banawa Nusantara 27 kini berlayar membawa lebih dari sekadar penumpang. Ia membawa harapan, kesempatan, dan mimpi-mimpi baru masyarakat kepulauan.
Di setiap dermaga yang disinggahi, kapal itu menghadirkan pesan sederhana namun kuat bahwa tidak ada wilayah yang terlalu jauh untuk dilayani, tidak ada warga yang terlalu terpencil untuk diperhatikan, dan tidak ada pulau yang boleh tertinggal dari arus kemajuan.
Pete-pete Laut telah berlayar. Bersamanya, harapan masyarakat Kepulauan Sangkarrang ikut bergerak menuju masa depan yang lebih dekat, lebih terhubung, dan lebih sejahtera.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Bukan Solusi, AI Disebut Bencana! Sanders: Musk dan Ellison Hanya Ingin Perkaya Diri Sendiri
Gelombang revolusi Kecerdasan Buatan (AI) yang digadang-gadang sebagai tonggak peradaban modern justru dipandang sebagai ancaman eksistensial bagi umat manusia... | Halaman Lengkap [434] url asal
#kecerdasan-buatan #senator #bernie-sanders #kecerdasan-buatan-ai
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 28/03/26 16:22
v/175289/
AMERIKA - Gelombang revolusi Kecerdasan Buatan (AI) yang digadang-gadang sebagai tonggak peradaban modern justru dipandang sebagai ancaman eksistensial bagi umat manusia oleh Senator independen Amerika Serikat, Bernie Sanders.Dengan nada berang dari mimbar Senat pada Selasa lalu, Sanders melontarkan tudingan tajam bahwa booming AI saat ini tak lebih dari sekadar konspirasi para "Oligarki Big Tech" untuk menghisap darah kelas pekerja demi melipatgandakan kekayaan mereka yang sudah tak masuk akal.
Melalui unggahan di platform X yang menyertakan pidato lengkapnya, Sanders secara spesifik menyebut empat nama besar di Silicon Valley sebagai dalang utama. "Siapa yang mendorong AI? Musk. Bezos. Zuckerberg. Ellison. Apa yang mereka inginkan bukanlah apa yang dibutuhkan keluarga pekerja," ketik Sanders dengan tegas.
Kritik Sanders bukan isapan jempol belaka. Raksasa teknologi ini memang tengah membakar investasi gila-gilaan, bukan untuk mengentaskan kemiskinan, melainkan untuk efisiensi ekstrem.
Sanders membeberkan fakta mengerikan: Jeff Bezos, sang pendiri Amazon, dilaporkan tengah berupaya menggalang dana sebesar USD100 miliar—atau setara dengan Rp1.700 triliun—secara global.
Tujuannya? Secara spesifik untuk mengotomatisasi pabrik dan menggantikan tenaga kerja manusia dengan robot.
"Para oligarki menginginkan segalanya. (Itu) Tidak akan terjadi. Berdirilah dan LAWAN BALIK," seru Sanders menanggapi laporan Bezos tersebut.
Sanders juga menyoroti peringatan dari Elon Musk yang menyatakan bahwa AI dan robot pada akhirnya berpotensi menggantikan seluruh pekerjaan manusia.
Di sisi lain, ia juga mengecam visi bos Oracle, Larry Ellison, yang mendambakan sistem pengawasan AI yang bekerja konstan setiap saat, sebuah konsep yang dinilai Sanders sangat merusak privasi.
Kepanikan Sanders tidak berhenti pada retorika politik. Berdasarkan laporan staf minoritas Komite HELP Senat yang dirilis Oktober 2025 lalu, ia telah merancang agenda perlawanan yang konkret.
Sanders menuntut penerapan sistem 32 jam kerja per minggu tanpa adanya pemotongan gaji, pelarangan keras terhadap aksi pembelian kembali saham perusahaan (stock buybacks), dan mendesak agar seluruh keuntungan finansial yang dihasilkan dari efisiensi AI harus mengalir ke kantong pekerja, bukan para eksekutif dan pemegang saham.
Lebih jauh, ia bahkan menyerukan moratorium atau penghentian sementara pembangunan pusat data (data center) AI baru yang dinilainya menyedot sumber daya publik secara semena-mena.
Dari kacamata makro, proyeksi masa depan akibat dominasi AI ini memang suram.
Sanders memperingatkan bahwa AI berpotensi memusnahkan hampir 100 juta pekerjaan di Amerika Serikat dalam satu dekade ke depan.
Tak hanya menghancurkan mata pencaharian, AI juga dituding akan memperparah penyebaran misinformasi politik melalui deepfake, merusak kesehatan mental anak-anak, membuat jaringan listrik kolaps akibat rakusnya konsumsi energi pusat data raksasa, dan pada skenario terburuk, menimbulkan risiko kepunahan jika sistem kecerdasan super ini lepas dari kendali manusia.
Di tengah ancaman di depan mata ini, Sanders menantang Kongres AS untuk segera bertindak membatasi kekuasaan para miliarder tersebut.
Daftar 5 CEO Terkaya di Dunia 2025, Elon Musk hingga Jensen Huang
Lima miliarder yang juga menjabat sebagai CEO di perusahaan-perusahaan raksasa dunia, di antaranya Elon Musk, Warren Buffett dan Jensen Huang. - Bagian all [667] url asal
#ceo-terkaya #ceo #perusahaan #elon-musk #mark-zuckerberg #bernard-arnault #jensen-huang #warren-buffett
JAKARTA, iNews.id - Lima miliarder yang juga menjabat sebagai CEO di perusahaan-perusahaan raksasa dunia menjadi pusat perhatian. Mereka bergerak di industri teknologi, ritel, hingga inovasi industri yang membentuk pasar global.
Melansir Forbes Middle East, posisi puncak ditempati Elon Musk yang memimpin Tesla dan SpaceX. Musk terus menguatkan dominasinya di industri kendaraan listrik dan eksplorasi ruang angkasa.
Kemudian, di posisi selanjutnya terdapat nama Mark Zuckerberg yang memimpin Meta Platforms yang membawahi Facebook, Instagram, Messenger, dan WhatsApp.
Selain itu, terdapat sejumlah miliarder lainnya dalam daftar ini, yaitu Bernard Arnault, Jensen Huang, hingga Warren Buffett.
Kelima tokoh ini bukan hanya menguasai kekayaan yang luar biasa, tetapi juga memainkan peran besar dalam membentuk arah ekonomi dan teknologi global melalui keputusan bisnis yang mereka ambil setiap harinya.
Berikut daftar lima CEO terkaya di dunia 2025 menurut daftar miliarder Forbes:
Musk, orang terkaya di dunia memimpin dua perusahaan sekaligus, Tesla dan SpaceX. Kekayaannya mencapai 493,2 miliar dolar AS atau setara Rp8.235 triliun.
Saham Tesla telah melonjak 11,2 persen per 23 Oktober 2025 sejak awal tahun 2025, didorong oleh permintaan kendaraan listrik yang kuat. Musk memiliki 19,8 persen saham biasa Tesla yang beredar per 15 September 2025.
Sementara itu, SpaceX, yang didirikan pada tahun 2002, bernilai sekitar 400 miliar dolar AS berdasarkan penawaran tender tertutup pada bulan Agustus 2025, dengan Musk memegang sekitar 42 persen saham.
Tidak hanya itu, dia juga memiliki X (sebelumnya Twitter), yang dia beli seharga 44 miliar dolar AS pada tahun 2022 dan bergabung dengan xAI pada bulan Maret 2025 dalam kesepakatan yang menilai perusahaan gabungan tersebut sebesar 113 miliar dolar AS.
Zuckerberg telah menciptakan salah satu kebangkitan paling luar biasa, memimpin Meta bangkit dari keterpurukan usai tahun 2022 hingga mencapai rekor kapitalisasi pasar lebih dari 1,8 triliun dolar AS per 23 Oktober 2025. Per kuartal II 2025, Meta melaporkan bahwa grup perusahaan termasuk Facebook, Instagram, Messenger, dan WhatsApp, mencapai 3,48 miliar pengguna aktif harian pada Juni 2025, meningkat 6 persen per tahun.
Zuckerberg melantai di bursa saham Facebook pada tahun 2012. Dia juga mengganti namanya menjadi Meta pada tahun 2021, dan memiliki sekitar 14 persen saham perusahaan tersebut per April 2025. Kekayaan Zuckerberg diketahui mencapai 251,4 miliar dolar AS atau setara Rp4.197 triliun.
Orang terkaya di Eropa, Arnault dan keluarganya, menguasai 49 persen saham LVMH, kerajaan bisnis yang mencakup lebih dari 75 merek, termasuk Louis Vuitton, Dior, dan Sephora. LVMH mengalami penurunan harga saham sebesar 2 persen sejak awal tahun, sehingga kapitalisasi pasarnya mencapai 360 miliar dolar AS.
Dalam sembilan bulan pertama tahun 2025, perusahaan mencatat pendapatan sebesar 67,4 miliar dolar AS. LVMH mengakuisisi perusahaan perhiasan Amerika, Tiffany & Co., pada tahun 2021 senilai 15,8 miliar dolar AS, menandai akuisisi merek mewah terbesar dalam sejarah. Kekayaan Arnault mencapai 188,3 miliar dolar AS atau setara Rp3.144 triliun.
Huang mendirikan produsen chip grafis, Nvidia pada tahun 1993 dan menjabat sebagai CEO serta presiden sejak saat itu, hingga perusahaan tersebut go public pada tahun 1999. Dia memiliki lebih dari 3,7 persen saham Nvidia, perusahaan paling bernilai di dunia dengan nilai 4,4 triliun dolar AS per 23 Oktober 2025.
Perusahaan ini mencatat pendapatan lebih dari 90,8 miliar dolar AS dalam enam bulan yang berakhir pada Juli 2025. Warga negara AS kelahiran Taiwan itu memiliki kekayaan 158,2 miliar dolar AS atau setara Rp2.641 triliun.
Baru-baru ini, Huang mengawasi kemitraan strategis dengan OpenAI untuk membangun setidaknya 10 gigawatt pusat data AI dengan investasi yang direncanakan hingga 100 miliar dolar AS.
Dikenal sebagai investor legendaris, Buffett merupakan salah satu investor tersukses sepanjang masa. Dia memimpin Berkshire Hathaway, yang memiliki puluhan perusahaan, termasuk perusahaan asuransi Geico, produsen baterai Duracell, dan jaringan restoran Dairy Queen.
Buffett dijadwalkan pensiun dari jabatannya sebagai CEO pada akhir tahun 2025, tetapi akan tetap menjabat sebagai Chairman Berkshire.
Pada bulan Mei 2025, dewan perusahaan menyetujui pengangkatan Greg Abel sebagai Presiden dan CEO Berkshire, efektif per 1 Januari 2026. Kekayaan Buffett tercatat mencapai 146,5 miliar dolar AS atau setara Rp2.446 triliun.
Editor: Aditya Pratama
Daftar 4 CEO Terkaya di Dunia 2025, Elon Musk hingga Jensen Huang
Lima miliarder yang juga menjabat sebagai CEO di perusahaan-perusahaan raksasa dunia, di antaranya Elon Musk, Warren Buffett dan Jensen Huang. - Bagian all [667] url asal
#ceo-terkaya #ceo #perusahaan #elon-musk #mark-zuckerberg #bernard-arnault #jensen-huang #warren-buffett
JAKARTA, iNews.id - Lima miliarder yang juga menjabat sebagai CEO di perusahaan-perusahaan raksasa dunia menjadi pusat perhatian. Mereka bergerak di industri teknologi, ritel, hingga inovasi industri yang membentuk pasar global.
Melansir Forbes Middle East, posisi puncak ditempati Elon Musk yang memimpin Tesla dan SpaceX. Musk terus menguatkan dominasinya di industri kendaraan listrik dan eksplorasi ruang angkasa.
Kemudian, di posisi selanjutnya terdapat nama Mark Zuckerberg yang memimpin Meta Platforms yang membawahi Facebook, Instagram, Messenger, dan WhatsApp.
Selain itu, terdapat sejumlah miliarder lainnya dalam daftar ini, yaitu Bernard Arnault, Jensen Huang, hingga Warren Buffett.
Kelima tokoh ini bukan hanya menguasai kekayaan yang luar biasa, tetapi juga memainkan peran besar dalam membentuk arah ekonomi dan teknologi global melalui keputusan bisnis yang mereka ambil setiap harinya.
Berikut daftar lima CEO terkaya di dunia 2025 menurut daftar miliarder Forbes:
Musk, orang terkaya di dunia memimpin dua perusahaan sekaligus, Tesla dan SpaceX. Kekayaannya mencapai 493,2 miliar dolar AS atau setara Rp8.235 triliun.
Saham Tesla telah melonjak 11,2 persen per 23 Oktober 2025 sejak awal tahun 2025, didorong oleh permintaan kendaraan listrik yang kuat. Musk memiliki 19,8 persen saham biasa Tesla yang beredar per 15 September 2025.
Sementara itu, SpaceX, yang didirikan pada tahun 2002, bernilai sekitar 400 miliar dolar AS berdasarkan penawaran tender tertutup pada bulan Agustus 2025, dengan Musk memegang sekitar 42 persen saham.
Tidak hanya itu, dia juga memiliki X (sebelumnya Twitter), yang dia beli seharga 44 miliar dolar AS pada tahun 2022 dan bergabung dengan xAI pada bulan Maret 2025 dalam kesepakatan yang menilai perusahaan gabungan tersebut sebesar 113 miliar dolar AS.
Zuckerberg telah menciptakan salah satu kebangkitan paling luar biasa, memimpin Meta bangkit dari keterpurukan usai tahun 2022 hingga mencapai rekor kapitalisasi pasar lebih dari 1,8 triliun dolar AS per 23 Oktober 2025. Per kuartal II 2025, Meta melaporkan bahwa grup perusahaan termasuk Facebook, Instagram, Messenger, dan WhatsApp, mencapai 3,48 miliar pengguna aktif harian pada Juni 2025, meningkat 6 persen per tahun.
Zuckerberg melantai di bursa saham Facebook pada tahun 2012. Dia juga mengganti namanya menjadi Meta pada tahun 2021, dan memiliki sekitar 14 persen saham perusahaan tersebut per April 2025. Kekayaan Zuckerberg diketahui mencapai 251,4 miliar dolar AS atau setara Rp4.197 triliun.
Orang terkaya di Eropa, Arnault dan keluarganya, menguasai 49 persen saham LVMH, kerajaan bisnis yang mencakup lebih dari 75 merek, termasuk Louis Vuitton, Dior, dan Sephora. LVMH mengalami penurunan harga saham sebesar 2 persen sejak awal tahun, sehingga kapitalisasi pasarnya mencapai 360 miliar dolar AS.
Dalam sembilan bulan pertama tahun 2025, perusahaan mencatat pendapatan sebesar 67,4 miliar dolar AS. LVMH mengakuisisi perusahaan perhiasan Amerika, Tiffany & Co., pada tahun 2021 senilai 15,8 miliar dolar AS, menandai akuisisi merek mewah terbesar dalam sejarah. Kekayaan Arnault mencapai 188,3 miliar dolar AS atau setara Rp3.144 triliun.
Huang mendirikan produsen chip grafis, Nvidia pada tahun 1993 dan menjabat sebagai CEO serta presiden sejak saat itu, hingga perusahaan tersebut go public pada tahun 1999. Dia memiliki lebih dari 3,7 persen saham Nvidia, perusahaan paling bernilai di dunia dengan nilai 4,4 triliun dolar AS per 23 Oktober 2025.
Perusahaan ini mencatat pendapatan lebih dari 90,8 miliar dolar AS dalam enam bulan yang berakhir pada Juli 2025. Warga negara AS kelahiran Taiwan itu memiliki kekayaan 158,2 miliar dolar AS atau setara Rp2.641 triliun.
Baru-baru ini, Huang mengawasi kemitraan strategis dengan OpenAI untuk membangun setidaknya 10 gigawatt pusat data AI dengan investasi yang direncanakan hingga 100 miliar dolar AS.
Dikenal sebagai investor legendaris, Buffett merupakan salah satu investor tersukses sepanjang masa. Dia memimpin Berkshire Hathaway, yang memiliki puluhan perusahaan, termasuk perusahaan asuransi Geico, produsen baterai Duracell, dan jaringan restoran Dairy Queen.
Buffett dijadwalkan pensiun dari jabatannya sebagai CEO pada akhir tahun 2025, tetapi akan tetap menjabat sebagai Chairman Berkshire.
Pada bulan Mei 2025, dewan perusahaan menyetujui pengangkatan Greg Abel sebagai Presiden dan CEO Berkshire, efektif per 1 Januari 2026. Kekayaan Buffett tercatat mencapai 146,5 miliar dolar AS atau setara Rp2.446 triliun.
Editor: Aditya Pratama
Stres di Jalan Menuju Kantor Bisa Pengaruhi Produktivitas
STRES bukan hanya datang saat bekerja di kantor. Kemacetan pun kerap membuat masyarakat stres sejak di jalan. [388] url asal
#stres #perjalanan #blue-bird #produktivitas #kantor #emosi #bernapas
(Bisnis Tempo - Ekonomi) 19/10/25 15:30
v/8719/
STRES bukan hanya datang saat bekerja di kantor. Banyak pekerja justru mulai merasa tertekan sejak berada di perjalanan menuju tempat kerja. Kemacetan, padatnya lalu lintas, dan waktu tempuh yang panjang sering kali membuat pikiran lelah sebelum aktivitas dimulai.
Rutinitas seperti ini tak hanya menguras tenaga, tapi juga bisa menurunkan semangat dan fokus saat tiba di kantor. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat mempengaruhi produktivitas dan kesehatan mental pekerja. Karena itu, penting untuk memahami bagaimana stres di perjalanan dapat berdampak pada keseharian dan mencari cara agar perjalanan terasa lebih tenang.
Psikolog Irma Gustiana mengatakan emosi merupakan sinyal tubuh. Jika emosi negatif tidak dikelola, dampaknya bisa terlihat pada kualitas tidur, daya tahan tubuh, hingga kemampuan kita untuk fokus. Irma mengajak masyarakat mengambil minimal 5 menit saja untuk bisa tenang. "Memberi diri waktu paling tidak lima menit untuk tenang sudah cukup membantu menurunkan aktivitas saraf yang memicu cemas dan lelah,” katanya pada acara Media Gathering Blue Bird di Rumah Wijaya, Jakarta Selatan 16 Oktober 2025.
Riset dari Lembaga Gallup menunjukkan bahwa sekitar 16 persen pekerja di Indonesia mengalami tekanan emosional dalam kesehariannya. Ketegangan yang muncul selama perjalanan ke kantor bisa membuat pikiran terganggu dan suasana hati memburuk. "Akibatnya, fokus menurun, tubuh terasa lebih lelah, dan produktivitas kerja ikut terdampak," kata Irma.
Senada dengan Irma, Wellness Practitioner Rahne Putri pun percaya bahwa momen tenang bisa didapat dari aktivitas paling sederhana. “Menarik napas dalam, meluruskan kaki, atau membiarkan tubuh bersandar tanpa distraksi bisa menjadi hal-hal kecil yang menyelamatkan hari. Aktivitas ini bisa dilakukan di mana pun, termasuk ketika dalam perjalanan yang bisa dijadikan ruang untuk berhenti sejenak dari kesibukan," kata Rahne.
Sebelumnya, dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia perusahaan transportasi Blule Bird mengajak masyarakat untuk “Ambil Jeda” melalui kampanye #TenangBersamaBlueBird. Kampanye ini hadir sebagai ajakan untuk melihat perjalanan bukan hanya sebagai proses berpindah tempat.
Chief Marketing Officer PT Blue Bird Tbk Monita Moerdani mengatakan timnya ingin mengingatkan bahwa waktu di perjalanan bisa menjadi momen berharga untuk menenangkan pikiran. "Dengan mengambil jeda sejenak, masyarakat diharapkan dapat memulihkan energi dan menjaga keseimbangan mental di tengah padatnya rutinitas harian," katanya.
Di waktu jeda itu, penumpang bisa melakukan gerakan sederhana dengan . Dalam jeda singkat, sistem saraf diberi kesempatan untuk kembali stabil setelah terpapar stres. "Rilekskan pikiran dapat membantu meredakan tekanan. Ruang tenang bukan hanya konsep emosional, tetapi kebutuhan biologis," kata Monita.
APRILIAN RODO RIZKY
Harta Orang Terkaya Eropa Melejit Rp315 Triliun Berkat Lonjakan Saham LVMH
Kekayaan bersih miliarder Prancis sekaligus orang terkaya Eropa, Bernard Arnault melesat lebih dari Rp315,19 triliun setelah saham LVMH melonjak. - Bagian all [235] url asal
#kekayaan #bernard-arnault #lvmh #orang-terkaya-di-dunia #harga-saham #bursa-efek #orang-terkaya
PARIS, iNews.id - Kekayaan bersih miliarder Prancis sekaligus orang terkaya Eropa, Bernard Arnault melesat lebih dari 19 miliar dolar AS atau setara Rp315,19 triliun. Kenaikan tersebut berkat lonjakan saham perusahaannya, LVMH lebih dari 14 persen pada perdagangan Rabu (15/10/2025) lalu.
Melesatnya harga saham LVMH setelah konglomerat barang mewah tersebut mencatatkan pertumbuhan penjualan dalam laporan pendapatan untuk pertama kalinya pada tahun ini, didorong peningkatan permintaan dari China.
Melansir Forbes, kekayaan bersih CEO sekaligus Ketua LVMH, Bernard Arnault menyentuh 181,8 miliar dolar AS atau setara Rp3.015 triliun. Hal ini menempatkan Arnault pada posisi ketujuh dalam daftar orang terkaya di dunia versi Forbes.
Saham konglomerat barang mewah yang terdaftar di Bursa Efek Paris menyentuh level 609,20 euro. LVMH disebut berada di jalur yang tepat untuk mencatat kinerja harian terbaiknya lebih dari dua dekade.
Lonjakan harga saham ini juga mendorong kapitalisasi pasar LVMH sekaligus menjadikannya perusahaan paling berharga kedua di Eropa berdasarkan kapitalisasi pasar.
Menurut laporan keuangan, penjualan LVMH pada kuartal III 2025 naik 1 persen secara year on year (tahunan) menjadi 18,28 miliar euro, melampaui estimasi analis.
Unit ritel selektif milik LVMH mencatat kinerja pertumbuhan terkuat dengan kenaikan 7 persen setelah peritel kecantikan, Sephora mencatat pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan.
Kemudian, produk anggur dan minman keras, parfum dan kosmetik, serta jam tangan dan perhiasan milik LVMH melaporkan pertumbuhan tahunan masing-masing sebesar 1 persen, 2 persen, dan 2 persen.
Editor: Aditya Pratama
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)