Swiss Peringatkan Ancaman "Koloni AI" di Era Industri 5.0
Swiss mengingatkan negara yang terlambat berinvestasi di bidang AI berisiko menjadi 'koloni AI' di tengah persaingan teknologi global.
(Kompas.com) 25/06/26 16:56 259759
BERN, KOMPAS.com — Persaingan industri global dinilai telah memasuki babak baru. Jika sebelumnya transformasi industri berfokus pada digitalisasi melalui Industry 4.0, kini dunia mulai bergerak menuju Industry 5.0 yang bertumpu pada kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Di tengah perubahan itu, negara yang gagal membangun kapasitas inovasi berisiko menjadi "koloni AI" dan bergantung pada teknologi negara lain.
Pandangan tersebut disampaikan Dominic Gorecky dari Switzerland Innovation Park Biel/Bienne dalam International Smart Factory Summit di Swiss Smart Factory, Bern, Swiss, Kamis (25/6/2026).
"Saat ini hanya Amerika Serikat dan China yang benar-benar mendominasi pasar ini. Bahkan Swiss dan Eropa mungkin belum cukup kuat untuk ikut dalam perlombaan tersebut," kata Gorecky.
"Ini adalah perlombaan menuju supremasi teknologi. Inilah perlombaan baru yang sedang kita saksikan, dan secara mendasar berbeda dengan konsep Industry 4.0," ujarnya.
Menurut Gorecky, perubahan tersebut ditandai dengan hadirnya konsep tenaga kerja baru yang memadukan manusia dengan teknologi cerdas berbasis AI.
AI Menjadi Tenaga Kerja Baru
Ia menjelaskan, pada Industry 5.0, operator tidak lagi bekerja sendiri, melainkan didampingi AI agent yang mampu menyediakan informasi yang tepat agar keputusan dapat diambil pada waktu yang tepat.
AI agent juga tidak lagi sekadar menjalankan tugas tertentu, melainkan berorientasi pada penyelesaian misi sehingga dapat bekerja selama 24 jam sehari untuk menyelesaikan berbagai persoalan.
Selain itu, perkembangan berikutnya adalah AI fisik (physical AI) yang mencakup robot adaptif, kendaraan tanpa pengemudi, drone otonom, hingga robot humanoid.
"Inilah lompatan berikutnya. Bukan hanya robot humanoid, tetapi juga robot yang lebih adaptif, kendaraan tanpa pengemudi, dan drone. Inilah tenaga kerja masa depan kita, dan saat ini kita sama sekali belum siap menghadapinya," kata Gorecky.
Ia kemudian menjelaskan perbedaan mendasar antara Industry 4.0 dan Industry 5.0 melalui contoh pembelian produk.
Pada Industry 4.0, konsumen masih memilih sendiri produk melalui konfigurator digital yang terhubung dengan pabrik.
Sementara pada Industry 5.0, AI agent memahami kebutuhan pengguna, mengetahui preferensinya, menilai tingkat urgensi, kemudian bernegosiasi dengan pabrik dan rantai pasok agar produk terbaik dapat diperoleh dalam waktu tercepat.
"AI agent tersebut pada akhirnya juga akan bernegosiasi dengan pabrik dan rantai pasok untuk memastikan Anda memperoleh produk terbaik dalam waktu yang paling optimal," ujarnya.
Meski demikian, Gorecky mempertanyakan apakah konsep Industry 5.0 benar-benar masih menempatkan manusia sebagai pusat.
Menurut dia, banyak pemimpin perusahaan justru menginginkan pabrik dengan jumlah pekerja manusia yang semakin sedikit.
"Jika Anda bertanya kepada seorang CEO apakah mereka menginginkan pabrik yang dipenuhi manusia, jawabannya adalah tidak. Mereka menginginkan pabrik dengan lebih sedikit manusia. Jadi, di mana letak konsep yang berpusat pada manusia? Saya mempertanyakan hal itu," katanya.
Tiga Skenario Masa Depan
Pada akhir paparannya, Gorecky memaparkan tiga kemungkinan masa depan Swiss dan Eropa bergantung pada arah kebijakan inovasi yang diambil.
Skenario pertama adalah Museum Alpen (Alpine Museum). Dalam kondisi ini, Swiss terus mengurangi investasi pada inovasi sehingga kehilangan daya saing industri dan pada akhirnya hanya mengandalkan sektor seperti pariwisata dan pertanian.
Skenario kedua adalah Koloni AI (AI Colony). Pada kondisi ini, Swiss dan Eropa hanya menjadi pengguna teknologi yang dikembangkan negara lain sehingga bergantung sepenuhnya pada model AI dan teknologi dari luar.
"Jika kondisi ini terus berlanjut, kita bisa menjadi koloni AI. Kemungkinan hanya dua negara yang akan menyediakan tumpukan teknologi, termasuk model AI, dan kita hanya menjadi pengguna yang bergantung sepenuhnya kepada mereka. Swiss dan Eropa akan menjadi koloni AI," ujarnya.
Adapun skenario ketiga adalah Kebangkitan Industri (Industrial Renaissance). Menurut Gorecky, hal itu dapat dicapai apabila Swiss memilih meningkatkan investasi pada inovasi, memperkuat perusahaan rintisan, serta membangun ekosistem Industry 5.0.
"Kita harus mengambil keputusan untuk bergerak maju, berinvestasi, dan berkomitmen sehingga Swiss dan Eropa kembali menjadi kekuatan industri dan teknologi," katanya.
Menutup paparannya, Gorecky menegaskan Swiss Smart Factory tidak ingin hanya menghasilkan kajian dan teori, tetapi juga menghadirkan inovasi yang dapat diterapkan langsung oleh industri melalui pembangunan laboratorium Industry 5.0 pertama di Eropa.
"Kami bukan hanya ingin menulis makalah dan teori. Kami benar-benar ingin mengubah dunia," ujarnya.
#RICH_75indonesiaswiss
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang