Bisnis.com, JAKARTA -- Sosok Zohran Mamdani menjadi sorotan dalam lanskap politik Amerika Serikat (AS). Dia adalah politikus progresif yang menjadi calon Wali Kota New York dari Partai Demokrat setelah dalam proses kandidasi internal menyingkirkan bekas Gubernur New York, Andrew Cuomo.
Kemunculan Mamdani menyita perhatian karena terjadi ketika diskursus politik AS saat ini dikuasai oleh kelompok konservatif.
Retorika Donald Trump tentang perang tarif, kebijakan imigrasi, hingga kembalinya eksistensi gerakan Make America Great Again (MAGA) mewakili apa yang sedang terjadi di AS saat ini. Ide-ide sosialis Mamdani serta latar belakang kehidupannya yang non white anglo-saxon protestant (WASP), secara praktis membawanya berhadapan langsung dengan arus gerakan politik konservatif.
Namun demikian, Mamdani bukannya berdiri tanpa dukungan. Fakta bahwa dia berhasil menyingkirkan sosok Cuomo yang lebih senior dan pernah menjadi gubernur New York, jelas tidak bisa dianggap sebagai isapan jempol semata.
Selain itu, di belakang Mamdani mengalir dukungan terutama dari kalangan-kalangan politikus berlabel “leftist” alias sayap kiri, seperti politikus gaek Bernie Sanders hingga Alexandria Ocasio-Cortez. Dua politikus ini memang dikenal sebagai tokoh sayap kiri dan sangat kritis terhadap kebijakan pemerintahan populis sayap kanan, Donald Trump.
Yang menarik dari fenomena Mamdani adalah kritiknya terhadap kelompok konglomerat serta kebijakan-kebijakan Trump yang dinilai sangat fasis. Isu tentang pemajakan terhadap konglomerat juga mengemuka ke publik selama proses kampanyenya. Kabarnya Mamdani akan mengenakan pajak kekayaan sebesar 1% kepada para konglomerat.
New York sendiri, kalau merujuk data Forbes yang dipublikasikan pada April 2025 lalu, adalah kota yang menjadi tempat tinggal paling banyak konglomerat AS. Ada sekitar 123 miliarder dengan kekayaan total senilai US$759 miliar. Keberadaan para konglomerat di New York wajar, karena kota ini merupakan salah satu pusat keuangan sekaligus pusat ekonomi utama di AS.
Mamdani merasa bahwa para konglomerat telah menyerap ekonomi New York untuk kepentingan mereka sendiri, termasuk Trump yang memiliki Trump Tower yang berdiri menjulang di pusat bisnis New York.
Hubungan ‘yang tidak harmonis’ antara Mamdani dengan kelompok konglomerat mulai menuai kabar tidak sedap. Sejumlah konglomerat menganggap politikus sayap kiri itu sebagai ancaman bagi eksistensi mereka.
Mereka bahkan dikabarkan mengeluarkan jutaan dolar untuk mencegah Mamdani memenangkan kontestasi pemilihan wali kota New York pada November mendatang. Para konglomerat, seperti yang diberitakan New York Times, bahkan menggelontorkan dana kampanye yang tidak sedikit kepada lawan Zohran Mamdani, yakni Cuomo.
Sekadar catatan, setelah kalah dalam proses kandidasi di Partai Demokrat, Cuomo memutuskan untuk tetap maju dalam kontestasi pemilihan Wali Kota New York. Hanya saja, dia tidak lagi diusung oleh partai, tetapi melalui jalur independen. Meski di jalur independen, Cuomo mendapatkan banyak dukungan termasuk dari kalangan konglomerat.
Dukungan untuk Cuomo
Adapun melansir Reuters, upaya mencegah kemenangan tidak hanya datang dari kalangan konglomerat, Wali Kota New York, Eric Adams, pada hari Kamis pekan lalu bahkan secara terbuka telah mendukung mantan Gubernur Andrew Cuomo untuk menggantikannya. Ini adalah upaya terakhir untuk mencegah calon Demokrat sayap kiri, Zohran Mamdani.
Adams dan Cuomo, keduanya Demokrat moderat, memperingatkan bahwa Mamdani terlalu ekstrem untuk New York. Cuomo bahkan menyebut Mamdani sebagai "ancaman eksistensial" bagi kota tersebut. Sementara Adams menyebutnya "penjual minyak ular".
Adams sendiri tokoh yang penuh problematik, dia saat ini memiliki approval rating yang mencapai rekor terendah. Hal ini berarti masih harus dilihat apakah dukungannya akan memberikan dorongan yang berarti bagi Cuomo, yang tertinggal dari Mamdani dalam jajak pendapat. Popularitas Adams merosot setelah mencuatnya skandal penyuapan. Namun menariknya kasus ini dihentikan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
Dalam konferensi pers bersama, Adams mengatakan ia akan berkampanye di "komunitas kulit hitam dan cokelat" di hari-hari terakhir pemilihan untuk mencoba meyakinkan para pendukungnya agar mendukung Cuomo. Adams adalah wali kota kulit hitam kedua dalam sejarah Kota New York.
Cuomo berterima kasih kepada Adams, memujinya karena mengutamakan kesejahteraan kota di atas ambisi pribadinya."Ia yakin Zohran merupakan ancaman eksistensial bagi Kota New York, dan kita semua harus melakukan yang terbaik untuk memastikan Zohran tidak menjadi wali kota berikutnya," kata Cuomo.
Menanggapi hal tersebut, Mamdani mengeluarkan pernyataan yang menyerang kedua pria tersebut. "Hari ini menegaskan apa yang telah lama kita ketahui: Andrew Cuomo mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua Eric Adams," katanya.
"Tidak mengherankan melihat dua pria yang memiliki kesamaan minat terhadap korupsi dan kapitulasi Trump bersekutu atas perintah kelompok miliarder dan Presiden sendiri."
Trump, warga asli New York yang meraup kekayaannya dari pasar properti, telah mengungkapkan kebenciannya terhadap Mamdani secara terbuka ke publik. Dia menyebutnya komunis dan mengancam akan memotong dana federal untuk kota tersebut jika Mamdani terpilih.