NEW YORK - Kekalahan Andrew Mark Cuomo saat melawan Zohran Kwame Mamdani dalam pemilihan wali kota New York City menjadi titik balik besar dalam sejarah politik Amerika.
Cuomo, yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu tokoh paling kuat di Partai Demokrat dan mantan Gubernur New York tiga periode, harus mengakui kekalahan dari kandidat muda progresif keturunan Afrika-Asia yang membawa semangat baru politik kota tersebut.
Didukung secara terbuka oleh mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Cuomo mencoba menampilkan citra moderat dan janji stabilitas, tetapi masyarakat New York memilih jalan perubahan yang diwakili Zohran Mamdani.
Kekalahan ini bukan hanya kekalahan pribadi, melainkan juga simbol pergeseran generasi dan arah politik di Amerika Serikat—dari politik elitis menuju politik berbasis keberagaman dan suara rakyat kecil.
1. Latar Belakang Kehidupan dan Keluarga
Andrew Mark Cuomo lahir pada 6 Desember 1957 di Queens, New York City. Ia berasal dari keluarga Italia-Amerika Katolik yang dikenal sangat berpengaruh di dunia politik.
Ayahnya, Mario Cuomo, adalah gubernur legendaris negara bagian New York yang menjabat selama tiga periode dari 1983 hingga 1994.
Ibunya, Matilda Raffa Cuomo, adalah aktivis sosial yang dikenal luas karena perjuangannya dalam bidang pendidikan anak dan kesejahteraan keluarga.
Lingkungan keluarga yang sarat dengan diskusi politik, intelektual, dan sosial membentuk kepribadian Cuomo sejak dini.
Cuomo tumbuh dengan pandangan bahwa politik bukan sekadar karier, tetapi sarana pengabdian publik.
Ia menyaksikan ayahnya berjuang menghadapi tekanan politik tanpa kehilangan integritas, dan dari situ ia belajar tentang pentingnya ketegasan, kecerdasan, serta keberanian dalam mengambil keputusan.
Dalam wawancara-wawancara masa mudanya, Cuomo sering menyebut ayahnya sebagai “guru terbesar” yang menanamkan nilai bahwa kekuasaan harus digunakan untuk melindungi masyarakat kecil, bukan memperkaya diri.
2. Pendidikan dan Awal Karier
Cuomo menyelesaikan pendidikan sarjana di Fordham University pada tahun 1979. Setelah itu, ia melanjutkan ke Albany Law School, tempat ia meraih gelar Juris Doctor pada tahun 1982.
Setelah lulus, ia bekerja sebagai asisten jaksa distrik di Manhattan, di mana ia terlibat dalam berbagai kasus pidana dan mulai memahami kompleksitas sistem hukum serta tantangan sosial di kota New York.
Namun, Cuomo tidak berhenti pada dunia hukum. Ia mendirikan organisasi Housing Enterprise for the Less Privileged (H.E.L.P.) pada tahun 1986.
Organisasi ini didirikan untuk menolong para tunawisma dan keluarga berpenghasilan rendah agar mendapatkan akses tempat tinggal yang layak.
Program H.E.L.P. sukses menarik perhatian publik dan media karena menunjukkan sisi empatik Cuomo terhadap persoalan sosial yang sering diabaikan pemerintah.
Dari sinilah citra Cuomo sebagai “pembela rakyat kecil” mulai terbentuk dan menjadi modal politik penting dalam perjalanan kariernya.
3. Karier di Pemerintahan Federal
Awal 1990-an menjadi momentum penting bagi Cuomo. Ia diangkat oleh Presiden Bill Clinton sebagai Asisten Sekretaris Perumahan dan Pembangunan Perkotaan (HUD) pada tahun 1993.
Empat tahun kemudian, ia dipromosikan menjadi Sekretaris HUD pada 1997—salah satu posisi kabinet tertinggi di pemerintahan federal saat itu.
Dalam jabatan ini, Cuomo melakukan reformasi besar-besaran di tubuh lembaga HUD yang dikenal birokratis dan lamban.
Ia menghapus banyak kebijakan yang tidak efisien, memperkenalkan sistem audit transparan, serta memperluas program bantuan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah.
Cuomo juga menentang praktik diskriminasi terhadap minoritas dalam sektor perumahan, menjadikannya salah satu pejabat paling vokal di pemerintahan Clinton dalam isu kesetaraan sosial.
Namun, di balik keberhasilannya, Cuomo dikenal perfeksionis dan keras kepala. Banyak koleganya menggambarkan dia sebagai sosok yang cerdas tetapi sulit diajak kompromi.
Sifat ini di kemudian hari menjadi salah satu penyebab konflik politik di sepanjang kariernya.
4. Kiprah Sebagai Jaksa Agung New York
Pada tahun 2006, Andrew Cuomo terpilih sebagai Jaksa Agung Negara Bagian New York. Dalam jabatan ini, ia dikenal tegas dan vokal melawan korupsi serta penyalahgunaan kekuasaan.
Cuomo memimpin penyelidikan terhadap berbagai lembaga keuangan besar yang terlibat dalam skandal hipotek subprime dan menindak keras pejabat publik yang terbukti melakukan pelanggaran etika.
Langkah-langkahnya menjadikannya salah satu tokoh paling populer di negara bagian tersebut. Reputasinya sebagai “penegak hukum tanpa kompromi” membuka jalan bagi pencalonannya sebagai gubernur beberapa tahun kemudian.
5. Masa Kepemimpinan Sebagai Gubernur New York
Pada tahun 2010, Cuomo terpilih sebagai Gubernur New York, menggantikan David Paterson. Ia kemudian terpilih kembali pada 2014 dan 2018, menjadikannya salah satu gubernur dengan masa jabatan terpanjang di era modern.
Selama masa kepemimpinannya, Cuomo berhasil mengesahkan berbagai kebijakan penting seperti legalisasi pernikahan sesama jenis pada 2011, reformasi sistem pajak, peningkatan upah minimum, serta pengembangan infrastruktur besar di seluruh New York.
Ia dikenal sebagai gubernur yang efisien dan berorientasi pada hasil, meski sering dituding terlalu otoriter dalam memimpin.
Puncak kariernya terjadi saat pandemi COVID-19 melanda pada tahun 2020. Cuomo menjadi figur nasional karena konferensi pers hariannya yang dianggap menenangkan masyarakat dan informatif.
Ia bahkan sempat disebut-sebut sebagai calon kuat presiden AS dari Partai Demokrat. Namun, citra itu runtuh setelah serangkaian tuduhan pelecehan seksual terhadapnya muncul pada 2021.
6. Skandal dan Pengunduran Diri
Tuduhan pelecehan seksual yang dilayangkan oleh beberapa staf perempuan membuat reputasi Cuomo hancur. Setelah penyelidikan oleh Jaksa Agung New York menemukan bukti yang kuat, Cuomo mengumumkan pengunduran dirinya pada Agustus 2021.
Keputusan ini mengguncang politik AS dan menandai kejatuhan dramatis seorang tokoh besar.
Meski ia tetap membantah tuduhan tersebut, tekanan publik dan politik yang besar membuatnya tidak punya pilihan selain mundur.
Banyak pihak menilai kejatuhan Cuomo adalah akibat dari gaya kepemimpinannya yang terlalu tertutup, arogan, dan penuh kontrol. Namun, sebagian pendukungnya tetap melihatnya sebagai pemimpin kuat yang jatuh karena permainan politik.
7. Kembali ke Dunia Politik dan Kekalahan di Pemilu Wali Kota
Setelah beberapa tahun menjauh dari politik, Andrew Cuomo mencoba melakukan “comeback” politik dengan mencalonkan diri sebagai Wali Kota New York City pada pemilu 2025.
Dalam langkah yang mengejutkan banyak kalangan, ia mendapat dukungan terbuka dari Donald Trump, yang menilai Cuomo sebagai sosok “tegas, realistis, dan paham ekonomi perkotaan.”
Namun, dukungan dari Trump justru menjadi bumerang. Sebagian besar warga New York—yang cenderung liberal dan progresif—melihat langkah itu sebagai bentuk oportunisme.
Cuomo kalah telak dari Zohran Mamdani, politisi muda keturunan Uganda-India yang mengusung platform keadilan sosial, lingkungan, dan reformasi perumahan.
Kekalahan ini menjadi simbol berakhirnya era politik lama New York, di mana dinasti dan koneksi tidak lagi menjamin kemenangan.
Publik lebih memilih kandidat yang mewakili suara akar rumput daripada tokoh mapan yang pernah berkuasa.
8. Warisan dan Pengaruh
Terlepas dari kontroversinya, Andrew Cuomo meninggalkan warisan yang besar dalam politik Amerika. Ia dikenal sebagai sosok yang mendorong kebijakan progresif di tingkat negara bagian jauh sebelum isu-isu itu populer di tingkat nasional.
Legalisasi pernikahan sesama jenis dan kebijakan reformasi pajaknya menjadi contoh konkret bagaimana Cuomo menggunakan kekuasaan untuk mendorong perubahan sosial.
Namun, kisah hidupnya juga menjadi pelajaran penting tentang batas kekuasaan dan pentingnya akuntabilitas.
Cuomo menunjukkan seorang pemimpin dapat memiliki visi besar, tetapi tanpa empati dan kejujuran, semua pencapaian bisa runtuh dalam sekejap.
Perjalanan hidup Andrew Mark Cuomo menggambarkan naik-turunnya seorang politisi ambisius dalam menghadapi dinamika moral, kekuasaan, dan perubahan zaman.
Dari aktivis muda hingga menjadi gubernur paling berpengaruh di Amerika, lalu jatuh karena skandal dan akhirnya kalah dari Zohran Mamdani—kisah Cuomo adalah refleksi dari perubahan arah politik New York menuju generasi baru yang lebih transparan dan inklusif.
Dengan demikian, nama Andrew Cuomo akan selalu dikenang bukan hanya sebagai pemimpin berprestasi, tetapi juga sebagai pengingat bahwa kekuasaan sejati dalam politik bukanlah tentang dominasi, melainkan tentang kepercayaan publik yang harus dijaga dengan integritas.
(sya)