Pasar IPO Bergairah, 8 Perusahaan Antre Melantai di Bursa
Hingga akhir Juni 2026, terdapat delapan perusahaan yang mengantre untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).
(Kompas.com) 29/06/26 05:07 262215
JAKARTA, KOMPAS.com - Minat perusahaan untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan geliat, meski pasar saham masih volatil. Hingga akhir Juni 2026, terdapat delapan perusahaan yang mengantre untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengatakan delapan perusahaan tersebut saat ini masih berada dalam pipeline pencatatan saham. Dari jumlah tersebut, enam merupakan perusahaan dengan aset skala besar, satu perusahaan beraset skala menengah, dan satu perusahaan beraset skala kecil.
“Dari delapan perusahaan tersebut, satu merupakan perusahaan dengan aset skala kecil, satu perusahaan aset skala menengah, dan enam perusahaan aset skala besar," ujar Nyoman dalam keterangan tertulis, Minggu (28/6/2026).
Berdasarkan sektornya, pipeline IPO didominasi perusahaan sektor kesehatan sebanyak empat perusahaan. Sementara itu, dua perusahaan berasal dari sektor barang konsumsi primer (consumer non-cyclicals), satu perusahaan dari sektor barang konsumsi nonprimer (consumer cyclicals), dan satu perusahaan dari sektor infrastruktur.
Sebaliknya, hingga saat ini belum terdapat calon emiten yang berasal dari sektor basic materials, energi, keuangan, industri, maupun properti dan real estat.
Di tengah masih berlangsungnya antrean IPO, BEI mencatat total penghimpunan dana di pasar modal sepanjang 2026 telah mencapai Rp 80,28 triliun. Nilai tersebut berasal dari penawaran umum perdana saham, penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS), serta rights issue.
Dana hasil IPO sepanjang tahun ini baru mencapai Rp 300 miliar, penerbitan EBUS menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp 76,09 triliun yang berasal dari 71 emisi oleh 43 penerbit. Lalu, penghimpunan dana melalui rights issue mencapai Rp 3,89 triliun dari empat perusahaan tercatat hingga 26 Juni 2026.
Berdasarkan data e-IPO BEI, sedikitnya enam perusahaan saat ini sedang menjalani masa penawaran umum perdana saham, yakni PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), dan PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS).
Keenam perusahaan tersebut diperkirakan mampu menghimpun dana sekitar Rp 2,14 triliun. Di antara seluruh calon emiten, PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) membidik dana terbesar, yakni sekitar Rp 683 miliar.
Sementara itu, PT Niramas Utama Tbk (JELI) menargetkan penghimpunan dana sekitar Rp 392 miliar, PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) sekitar Rp 269 miliar.
Kemudian, PT Bach Multi Global Tbk (BACH) hingga Rp 307,5 miliar, PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) sekitar Rp 62,7 miliar, serta PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) yang berpotensi menghimpun dana sekitar Rp 340 miliar hingga Rp 428 miliar sesuai kisaran harga penawaran.
Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, menilai keputusan enam perusahaan untuk tetap melaksanakan IPO di tengah gejolak pasar masih cukup tepat.
Pasalnya, tekanan akibat kenaikan harga minyak sebelumnya mulai mereda, sehingga kondisi pasar secara bertahap menunjukkan stabilisasi. Meskipun volatilitas masih terjadi, IHSG diyakini tidak lagi membentuk pola lower low secara teknikal.
Hal itu menjadi sinyal bahwa pasar berpotensi memasuki fase pembalikan arah (reversal), sehingga dapat dimanfaatkan emiten sebagai momentum untuk melantai di bursa.
“Hal yang menjadi pertimbangan adalah kondisi pasar yang setidaknya mulai stabil, sehingga emiten dapat mengambil momentum potensi pembalikan arah,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Kamis malam (25/6/2026).
Menurutnya, minat investor terhadap saham IPO juga tidak semata-mata ditentukan oleh kondisi IHSG atau fundamental perusahaan. Mayoritas investor lebih memperhatikan kredibilitas penjamin emisi (underwriter) serta kejelasan penggunaan dana hasil IPO itu sendiri.
“Melihat behavior investor saat ini yang biasa, terlihat mayoritas orang lebih memilih saham IPO dari sisi kredibilitas underwriter dan peruntukan alokasi dana IPO. Sehingga, kondisi pasar dan valuasi yang cenderung premium seringkali tereduksi,” paparnya.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang