Menakar Peluang Right Issue Jumbo Terserap 'Pasar' jelang Tutup Tahun

Menakar Peluang Right Issue Jumbo Terserap 'Pasar' jelang Tutup Tahun

Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia, seperti INET dan GMFI, menggelar rights issue untuk ekspansi dan restrukturisasi, dengan potensi penyerapan pasar yang besar.

(Bisnis.Com) 25/11/25 20:50 50204

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah emiten seperti PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) dan PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. (GMFI) tengah bersiap menggelar aksi tambah modal melalui skema rights issue pada akhir tahun ini. Bagaimana kemudian potensi serapan pasarnya?

INET tengah menunggu persetujuan regulator untuk menggelar Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I (PMHMETD I) atau rights issue jumbo senilai maksimal Rp3,2 triliun. Dalam aksi rights issue tersebut, INET menerbitkan sebanyak-banyaknya 12,8 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham.

Anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA), yakni GMFI telah mendapatkan persetujuan rights issue dari pemegang sahamnya melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) bulan lalu.

GMFI dirancang menawarkan sebanyak-banyaknya 90,05 miliar saham baru Seri B. PT Angkasa Pura Indonesia (API) akan berpartisipasi dengan menyetorkan aset berupa lahan atau inbreng kepada GMFI seluas 972.123 meter persegi di kompleks GMF, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang senilai Rp5,6 triliun.

Tanggal efektif pernyataan pendaftaran HMETD GMFI jatuh pada 8 Desember 2025. Kemudian, periode pelaksanaan HMETD GMFI pada 22 Desember 2025 - 6 Januari 2026.

Sejumlah emiten lainnya telah merancang aksi tambah modal melalui rights issue. Emiten properti milik konglomerat Hermanto Tanoko, PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk. (RISE) mengumumkan akan melakukan rights issue dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 1,33 miliar saham baru.

Perseroan bermaksud untuk meminta persetujuan kepada para pemegang saham Perseroan atas rencana PMHMETD I dalam RUPSLB yang akan diselenggarakan pada pekan ini, 27 November 2025.

Emiten jasa pelayaran PT Cakra Buana Resources Energi Tbk. (CBRE) berencana menggelar rights issue sebanyak-banyaknya 48 miliar saham. Aksi korporasi ini akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB yang dijadwalkan 18 Desember 2025.

PT Indosterling Technomedia Tbk. (TECH) pun berencana menggelar rights issue sebanyak 502,52 juta saham baru dengan terlebih dahulu meminta restu di RUPSLB pada 18 Desember 2025.

Kemudian, PT Panca Global Kapital Tbk. (PEGE) berencana menggelar rights issue sebanyak 944, 47 juta saham. Aksi korporasi ini akan dibahas dalam RUPSLB yang dijadwalkan digelar pada 24 Desember 2025.

Emiten kongsi Agung Sedayu dan Grup Salim, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) juga bakal menghimpun dana segar maksimal Rp16,7 triliun dari rights issue sebanyak-banyaknya 1,21 miliar saham baru.

Sebelumnya, PANI menjadwalkan tanggal efektif pelaksanaan aksi rights pada 17 November 2025. Sementara, tanggal pencatatan HMETD di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 1 Desember 2025. Namun melalui keterbukaan informasi, PANI menyampaikan perubahan rencana jadwal rights issue-nya itu yang akan diumumkan kemudian.

Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan aksi rights issue INET, PEGE, RISE, hingga GMFI memiliki peluang penyerapan yang cukup besar, terutama karena harga exercise yang kompetitif. Selain itu, terdapat narasi penggunaan dana yang jelas, mulai dari ekspansi teknologi, restrukturisasi, hingga penguatan modal kerja.

"Dukungan pemegang saham mayoritas serta momentum pergerakan harga sebelum aksi korporasi juga menjadi katalis tambahan," kata Sukarno kepada Bisnis pada Selasa (25/11/2025).

Pemulihan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan masuknya arus dana asing juga memberi efek langsung ke minat investor. Sebab, terdapat peningkatan risk appetite dan likuiditas, meski selektif, di mana emiten dengan fundamental kuat dan prospek bisnis yang jelas lebih diutamakan.

Sementara, Associate Director Pilarmas Investindo Maximilianus Nicodemus mengatakan serapan pasar atas aksi korporasi tersebut akan kembali kepada fundamental perusahaan, valuasi, sektor bisnis, dan tujuan dari rights issue tersebut.

"Karena pelaku pasar dan investor pun cenderung akan selektif dalam menyerap rights issue tersebut, terutama dampak dari rights issue kepada kinerja keuangan," kata Nicodemus kepada Bisnis pada Selasa (25/11/2025).

Apabila tujuan rights issue untuk ekspansi, investor akan menilai seberapa cepat perusahaan generate revenue dari ekspansi tersebut dan memberikan dampak positif terhadap perusahaannya.

Pemanfaatan Dana

Sejumlah emiten memang telah merencanakan penggunaan dana hasil rights issue-nya itu. Direktur Utama GMFI Andi Fahrurrozi mengatakan dalam aksi rights issue itu, GMFI akan menggunakan dana untuk melakukan peremajaan tools dan equipment. Sebab, beberapa pesawat baru sudah mulai masuk.

Secara timeline, saat inbreng lahan API tuntas, GMFI akan memindahkan baling-baling pesawat atau propeller aircraft dari Cengkareng ke Pondok Cabe pada Januari 2026.

"Nanti bisa dipantau. Proyeksi di tahun depan akan lebih baik dari tahun ini," ujar Andi dalam acara Investalk Series yang diselenggarakan BRI Danareksa Sekuritas pada beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan bahwa hasil rights issue juga akan dimanfaatkan untuk bernegosiasi dengan beberapa supplier. Tujuannya agar GMFI mampu memperoleh harga terbaik.

Dengan aksi korporasi itu, Andi optimistis kinerja keuangan GMFI bisa membaik. Ekuitas pun yang saat ini masih negatif, diproyeksikan akan menjadi positif. "Aset bakal naik 68%, kemudian ekuitas akan membaik jadi positif," kata Andi

GMFI memang masih berkutat dengan ekuitas negatif, di mana liabilitas melebihi jumlah asetnya. GMFI mencatatkan total aset sebesar US$409,98 juta dengan liabilitas sebesar US$658,98 juta per semester I/2025. Alhasil, ekuitas GMFI minus US$248,99 juta.

Proyeksi INET

Andi menjelaskan usai rights issue, aset GMFI diproyeksikan menjadi US$689,74 juta. Ekuitas kemudian menjadi positif US$59,89 juta.

Sementara INET akan memanfaatkan dana segar hasil rights issue untuk mempercepat ekspansi jaringan fiber to the home (FTTH) berkecepatan tinggi dengan teknologi Wi-Fi 7. Sebanyak Rp2,8 triliun akan dikucurkan ke anak usaha, PT Garuda Prima Internetindo (GPI), untuk menggaet dua juta pelanggan baru di Bali dan Lombok.

Dana rights issue juga akan dialokasikan untuk anak usaha PT Pusat Fiber Indonesia (PFI) sebesar Rp213,44 miliar untuk melunasi biaya sewa jaringan kabel bawah laut (IRU) ke PT Jejaring Mitra Persada (JMP).

Kemudian, sebesar Rp135 miliar akan dialokasikan ke PT Internet Anak Bangsa (IAB) untuk modal kerja pembangunan FTTH di Pulau Jawa.

Lalu, sisa dana hasil rights issue akan digunakan untuk pengembangan layanan, pembelian perangkat, pemasaran, pelatihan, dan biaya overhead lainnya.

Selain itu, emiten yang akan menjajal aksi rights issue PEGE berencana menggunakan dana hasil rights issue untuk kebutuhan modal kerja sekaligus meningkatkan penyertaan pada entitas anak, guna mendukung aktivitas bisnisnya di sektor perdagangan besar, konstruksi, pendanaan, dan pasar modal.

#rights-issue #emiten-bursa #penambahan-modal #saham-baru #gmfi-rights-issue #inet-rights-issue #bei-rights-issue #saham-gmfi #saham-inet #ekspansi-jaringan #ftth-teknologi #gmfi-ekuitas #ihsg-pemuliha

https://market.bisnis.com/read/20251125/7/1931620/menakar-peluang-right-issue-jumbo-terserap-pasar-jelang-tutup-tahun