PLN Mau Tambah Kapasitas PLTS Terapung Cirata 550 MWac, Calon Terbesar di Dunia
PLN berencana menambah kapasitas PLTS Terapung Cirata hingga 550 MWac, dan berpotensi menjadikannya yang terbesar di dunia.
(Bisnis.Com) 18/12/25 09:22 76927
Bisnis.com, BANDUNG — Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut dengan kapasitas tambahan hingga 550 megawatt ac (MWac).
Hal ini disampaikan oleh Outreach & Stakeholder Manager PT PMSE Respati Adi Katmoyo dalam acara media briefing di Kantor PLTS Cirata, Jawa Barat, Rabu (17/12/2025). PT PMSE merupakan joint venture antara PT PLN Nusantara Power dan Masdar yang mengelola PLTS Terapung Cirata.
Adi menuturkan, saat ini kapasitas terpasang pada PLTS Terapung Cirata mencapai 145 MWac atau setara 192 megawatt peak (MWp). Menurutnya, dengan potensi pengembangan 550 MWac, kapasitas PLTS Terapung Cirata bisa mencapai sekitar 700 MWac.
"Insyaallah untuk ke depan PLTS terapung akan dikembangkan besarnya kurang lebih mencapai 550 MWac atau setara dengan 700 MWac ditambah dengan saat ini," ucap Adi.
Kendati demikian, dia menyebut bahwa rencana pengembangan PLTS Terapung Cirata itu masih dalam kajian PT PLN Nusantara Power. Adi menyebut, jika rencana itu terwujud, maka PLTS Terapung Cirata akan menjadi yang terbesar di dunia.
Dia menuturkan, sejak pertama kali diresmikan pada 2023, PLTS Terapung Cirata telah memberikan kontribusi signifikan dalam penyediaan energi bersih bagi sekitar 50.000 rumah tangga serta mengurangi emisi karbon hingga 214.000 ton per tahun.
Lebih lanjut, Adi mengatakan, ke depan PLTS Terapung Cirata akan mengadopsi battery energy storage system (BESS). Dengan begitu, listrik yang dihasilkan dapat digunakan siang dan malam atau saat sinar matahari tak nampak.
"PLN meminta untuk next pengembangan termasuk [penggunaan] BESS," katanya.
Dia menjelaskan, penggunaan BESS kian memungkinkan seiring mulai menurunnya harga solar panel. Adi menyebut, saat awal pembangunan PLTS Terapung Cirata harga satu unit solar panel berada di level Rp7 juta.
Namun, saat ini harga panel surya itu kian turun ke level Rp1,8 juta per unit. Oleh karena itu, akan terjadi penghematan dalam pengembangan selanjutnya.
Imbas dari penghematan itu, maka penggunaan BESS jadi lebih masuk akal. Di samping itu, dengan penghematan produksi maka harga jual listrik setelah menggunakan BESS bisa ditekan.
"Tanpa BESS ini kami bisa 5,88 sen per KWh. Nah, memang ke depan dengan yang tadi saya sampaikan dengan penurunan harga [panel surya] dan juga semakin feasible-nya BESS ini, saya sangat yakin akan menjadi menarik dengan harga yang mungkin akan sama atau mungkin lebih mahal sedikit, tapi memiliki kapasitas yang jauh lebih besar," jelas Adi.
Dalam kesempatan terpisah, Presiden Direktur PT PMSE Dimas Kaharudin Indra Rupawan mengatakan, sejak beroperasi 2023 lalu, PLTS Terapung Cirata ini sukses membuktikan diri bahwa mewujudkan energi baru terbarukan (EBT) tidak mahal.
Dalam catatan yang dipaparkan, project cost untuk pembangunan PLTS terapung di badan air seluas 200 hektare ini mencapai Rp2,4 triliun saja.
"Jadi jika ingin mengaliri listrik dari PLTS terapung ke seluruh Indonesia itu membutuhkan 1.000 kali ini [PLTS Terapung Cirata]," ungkapnya beberapa waktu lalu.
Dia menjelaskan, listrik yang dihasilkan dari PLTS Terapung Cirata langsung masuk dalam sistem jaringan gardu induk yang ada di Purwakarta dan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.
Dia pun menyebut, PLTS terapung ini juga memiliki peluang untuk terus dikembangkan. Terutama jika memanfaatkan permukaan air laut di mana Indonesia menjadi negara yang memiliki teritorial laut yang luas.
"Kalau bisa memanfaatkan muka air laut dari sekian luasnya, hanya membutuhkan luasan air seluas Pulau Bali untuk menghasilkan listrik yang bisa mengaliri listrik satu Indonesia," ungkapnya.