Saham UNTR Jeblok Usai Kabar Pencabutan Izin Tambang Emas Agincourt

Saham UNTR Jeblok Usai Kabar Pencabutan Izin Tambang Emas Agincourt

Saham UNTR anjlok 12,74% setelah Presiden Prabowo mencabut izin tambang emas Agincourt, anak usaha UNTR, karena pelanggaran pemanfaatan hutan.

(Bisnis.Com) 21/01/26 09:11 109162

Bisnis.com, JAKARTA —Saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) dibuka jeblok pada perdagangan hari ini, Rabu (21/1/2026) menyusul kabar pencabutan izin usaha anak usahanya oleh Presiden Prabowo Subianto.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 09.05 WIB, saham UNTR jeblok 4.075 poin atau 12,74% ke level Rp27.900 per saham. Pada awal perdagangan ini, UNTR bergerak di rentang Rp27.200 hingga Rp28.250 per saham.

Seperti diberitakan Bisnis, Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah tegas dengan mencabut izin usaha 28 perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran pemanfaatan kawasan hutan di Sumatra. Keputusan itu diumumkan oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Selasa (20/1/2026) malam.

“Berdasarkan laporan tersebut, Bapak Presiden mengambil keputusan tegas untuk mencabut izin 28 perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran,” kata Prasetyo.

Sebanyak 22 perusahaan di antaranya merupakan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) Hutan Alam dan Hutan Tanaman dengan total luas mencapai 1.010.592 hektare. Salah satu di antara 22 perusahaan pemegang PBPH, adalah PT Toba Pulp Lestari Tbk. (INRU).

Sementara itu, enam perusahaan lainnya bergerak di sektor pertambangan dan perkebunan. Di sektor pertambangan, Presiden Prabowo mencabut izin PT Agincourt Resources (PTAR).

Agincourt Resources merupakan pengelola Tambang Emas Martabe di Tapanuli Selatan dan merupakan entitas usaha milik PT United Tractors Tbk. (UNTR) dalam konglomerasi Grup Astra.

UNTR melalui anak perusahaannya, PT Danusa Tambang Nusantara menyelesaikan akuisisi 95% kepemilikan atas PT Agincourt Resources pada 4 Desember 2018. Transaksi itu disepakati bernilai jumbo, yaitu sekitar US$1 miliar.

Setelah transaksi akuisisi tersebut, sebanyak 95% saham PT Agincourt Resources dimiliki oleh PT Danusa Tambang Nusantara, sementara 5% saham sisanya dimiliki oleh pemerintah daerah atas nama PT Artha Nugraha Agung.

Kala itu, Presiden Direktur United Tractors Gidion Hasan mengatakan akuisisi terhadap PT Agincourt Resources merupakan bagian dari usaha diversifikasi dan ekspansi strategis UNTR untuk menambah portofolio investasi di bidang mineral lainnya termasuk emas.

“Diharapkan ke depan perseroan memiliki portofolio yang semakin berimbang dan dapat menghasilkan sustainable earning contribution dalam jangka panjang.”

Adapun, konstruksi tambang emas Martabe dimulai sejak tahun 2008 dan produksi dimulai pada 2012. Per Desember 2017, sumber daya mineral Tambang Emas Martabe adalah 8,8 juta ons emas dengan estimasi cadangan emas sebesar 4,7 juta ons. Pada 2017, Tambang Emas Martabe menjual sekitar 352.000 ons emas.

Sementara itu, pada 2024, Martabe mencatatkan penjualan setara emas sebesar 230 ribu ons atau naik 31% dari periode yang sama tahun 2023.

Pendapatan bersih UNTR dari bisnis emas dan mineral lainnya meningkat 90% menjadi Rp9,9 triliun, terutama disebabkan oleh menguatnya harga jual emas. Hingga 2024, PTAR memiliki lebih dari 3.000 karyawan yang mayoritas adalah tenaga kerja lokal.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#untr #saham-untr #united-tractors #izin-tambang-dicabut #agincourt-resources #tambang-emas-martabe #prabowo-subianto #pencabutan-izin-usaha #saham-jeblok #pt-danusa-tambang-nusantara #grup-astra #inve

https://market.bisnis.com/read/20260121/7/1945822/saham-untr-jeblok-usai-kabar-pencabutan-izin-tambang-emas-agincourt