Hadapi Risiko Geopolitik, China Siap Gelontorkan US$854 Miliar Stimulus Fiskal
China akan menggelontorkan US$854 miliar stimulus fiskal pada 2026 untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah risiko geopolitik.
(Bisnis.Com) 05/03/26 11:20 155822
Bisnis.com, JAKARTA - China akan mempertahankan aliran stimulus fiskal guna menopang pertumbuhan ekonominya pada 2026 di tengah berbagai tantangan domestik dan meningkatnya risiko geopolitik global.
Berdasarkan laporan kerja tahunan Kementerian Keuangan yang dikutip dari Bloomberg pada Kamis (5/3/2026), defisit anggaran 2026 China dipertahankan di kisaran 4% terhadap produk domestik bruto (PDB), tidak berubah dari rekor yang ditetapkan pada 2025.
Dengan rasio tersebut, pemerintah berencana membelanjakan 5,89 triliun yuan (sekitar US$854 miliar) lebih besar dari proyeksi pendapatan dalam pos anggaran umum. Pos ini merupakan yang terbesar dari empat kerangka anggaran China dan mencakup penerimaan pajak serta belanja untuk pendidikan, jaminan sosial, transportasi, hingga perlindungan lingkungan.
Kebijakan fiskal kini menjadi motor utama penggerak ekonomi, seiring menyempitnya margin keuntungan perbankan dan lemahnya permintaan kredit yang membatasi ruang pelonggaran moneter.
Keputusan mempertahankan rasio defisit terhadap PDB di level tertinggi tersebut mencerminkan komitmen pemerintah menjaga keran fiskal tetap terbuka demi mengamankan target pertumbuhan 4,5%—5% pada tahun ini.
Zhaopeng Xing, Senior China Strategist ANZ Bank China Co., menilai keputusan itu menunjukkan kehati-hatian pemerintah.
“Meski terdapat dana sisa yang belum terpakai dari tahun lalu, rasio defisit tetap dipertahankan di 4%. Ini mencerminkan kekhawatiran atas penerimaan fiskal serta kebutuhan menjaga ruang kebijakan untuk merespons ketidakpastian perdagangan dan ketegangan ekonomi internasional tahun ini,” ujarnya.
Pasar merespons rencana fiskal tersebut dengan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun pada perdagangan pagi. Sementara itu, yuan offshore menguat 0,2% terhadap dolar AS, melanjutkan reli sesi sebelumnya.
Selain defisit resmi, pemerintah juga berencana menghimpun 1,3 triliun yuan dari penerbitan obligasi negara tenor ultra-panjang untuk mendanai proyek infrastruktur nasional strategis, keamanan, serta program subsidi guna mendorong belanja konsumen dan korporasi.
Pemerintah juga akan menerbitkan 300 miliar yuan obligasi negara khusus untuk memperkuat permodalan bank-bank milik negara.
Sebanyak 250 miliar yuan dari obligasi ultra-panjang tersebut dialokasikan untuk subsidi pembelian smartphone, mobil, dan peralatan rumah tangga baru sebagai bagian dari program unggulan pemerintah untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga.
Di tingkat daerah, pemerintah memberikan kuota obligasi khusus baru sebesar 4,4 triliun yuan tahun ini—untuk pertama kalinya sejak 2022 tanpa kenaikan tahunan. Instrumen ini menjadi sumber pendanaan utama bagi investasi infrastruktur, pembelian rumah tak terjual dari pengembang properti, serta pengurangan utang di luar neraca.
Secara total, alokasi penerbitan obligasi tahun ini mencapai 6 triliun yuan, lebih rendah dibandingkan dengan 6,2 triliun yuan dalam anggaran tahun lalu.
Secara terpisah, pemerintah juga merencanakan pembiayaan kebijakan baru senilai 800 miliar yuan guna mendorong investasi, sebagaimana tercantum dalam Government Work Report. Instrumen tersebut berpotensi didukung bank sentral melalui kredit berbunga rendah, serta penerbitan utang oleh lembaga pembiayaan kebijakan milik negara.
Xing menilai instrumen ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam menstabilkan investasi dan menghentikan tren penurunan. Dia memperkirakan bank sentral akan mendukung pendanaan melalui skema Pledged Supplemental Lending, instrumen yang pernah digunakan untuk menopang pasar properti yang melambat satu dekade lalu.
Sejak 2020, China telah lima kali menetapkan defisit resmi di atas 3% PDB, pertama kali untuk menyerap dampak pandemi, kemudian untuk mengatasi ketegangan perdagangan yang meningkat. Meski pertikaian dengan Amerika Serikat mereda setelah gencatan tarif pada Oktober, Beijing masih menghadapi berbagai risiko terhadap pencapaian target pertumbuhan tahun ini.
Kepercayaan konsumen dan pelaku usaha masih lemah, sementara investasi menyusut di tengah tekanan deflasi dan krisis properti yang berlangsung bertahun-tahun. Kendati ekspor menunjukkan ketahanan mengejutkan tahun lalu, konflik militer yang meluas di Timur Tengah berpotensi kembali mengganggu perdagangan serta stabilitas rantai pasok global.
Jika menggabungkan anggaran umum dan anggaran dana kelolaan pemerintah, total belanja tahun ini diperkirakan melampaui pendapatan hampir 14 triliun yuan, atau setara 9,5% PDB apabila pertumbuhan mencapai 5%.
Pelaksanaan anggaran sepanjang tahun akan menjadi faktor kunci dalam menentukan seberapa besar dampaknya terhadap perekonomian.
Dalam beberapa tahun terakhir, otoritas China cenderung memberikan stimulus secukupnya untuk mencapai target pertumbuhan. Di sisi lain, menyusutnya penerimaan anggaran membatasi ruang pelonggaran lebih agresif setelah pendapatan pemerintah secara luas gagal memenuhi target resmi untuk keempat kalinya secara berturut-turut pada 2025.
#china #fiskal-china #risiko-geopolitik #pertumbuhan-ekonomi-china #defisit-anggaran-china #produk-domestik-bruto #belanja-pemerintah-china #kebijakan-fiskal-china #obligasi-pemerintah-china #investasi