Bahlil Ungkap Arahan Presiden Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Energi

Bahlil Ungkap Arahan Presiden Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Energi

Pemerintah menghitung berbagai skenario untuk menjaga pasokan energi nasional.

(Republika) 05/03/26 13:44 155997

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beberapa hari lalu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memimpin Sidang Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) untuk merespons dinamika konflik di Timur Tengah yang berdampak pada pasokan energi global. Rapat yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/2026), membahas langkah pemerintah menjaga ketahanan energi nasional di tengah penutupan Selat Hormuz.

Sidang tersebut digelar setelah Presiden Prabowo Subianto meminta pemerintah memastikan pasokan energi tetap aman bagi kebutuhan dalam negeri. Pemerintah juga menghitung berbagai skenario dampak konflik terhadap harga minyak dan rantai pasok energi global.

“Arahan Bapak Presiden kepada kami adalah kita harus sangat berhati-hati menghitung semuanya dengan tetap memastikan ketersediaan BBM dalam negeri untuk memberikan kepastian pelayanan kepada masyarakat,” kata Bahlil di Jakarta, dikutip Kamis (5/3/2026).

Penutupan Selat Hormuz menjadi perhatian pemerintah karena jalur tersebut dilalui sekitar 20,1 juta barel minyak per hari. Jalur ini juga dilalui sebagian impor minyak mentah Indonesia dari kawasan Timur Tengah.

Bahlil memaparkan impor crude Indonesia dari kawasan tersebut berkisar 20 hingga 25 persen dari total kebutuhan nasional. Sumber pasokan lain berasal dari Afrika, Amerika Serikat, serta beberapa negara lain seperti Brasil.

“Impor crude kita dari Middle East sekitar 20 sampai 25 persen. Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brasil,” ujar Bahlil.

Pemerintah menyiapkan langkah mitigasi dengan mengalihkan sebagian pembelian minyak mentah dari Timur Tengah ke negara lain. Salah satu opsi yang ditempuh ialah meningkatkan pembelian dari Amerika Serikat agar kepastian pasokan tetap terjaga.

Langkah serupa juga dilakukan pada komoditas LPG yang selama ini masih bergantung pada impor. Kebutuhan LPG nasional mencapai sekitar 7,3 juta ton per tahun dan meningkat menjadi sekitar 7,8 juta ton pada tahun ini.

“Sekarang sekitar 70 persen LPG kita ambil dari Amerika, dan sebagian dari Middle East. Kita switch lagi agar tidak mengambil risiko dari kawasan yang terkait dengan Selat Hormuz,” kata Bahlil.

Untuk impor BBM jenis bensin, pemerintah menilai pasokan relatif aman. Indonesia memperoleh pasokan dari negara di luar Timur Tengah, termasuk dari kawasan Asia Tenggara melalui kontrak jangka panjang.

Bahlil juga menyampaikan stok energi nasional masih berada di atas batas minimum yang ditetapkan pemerintah. Ketahanan stok BBM, crude, dan LPG rata-rata berada di atas standar minimum nasional sekitar 21 hari.

#ketahanan-energi #pasokan-energi-nasional #selat-hormuz #impor-minyak-mentah #kementerian-esdm #konflik-timur-tengah #bbm-dalam-negeri #lpg-nasional #rantai-pasok-energi #mitigasi-energi

https://ekonomi.republika.co.id/berita/tbeyq8423/bahlil-ungkap-arahan-presiden-hadapi-dampak-konflik-timur-tengah-terhadap-energi