Menakar Peran Jaringan Maskapai Asing dalam Mendongkrak Kunjungan Wisman ke RI
Jaringan maskapai asing berperan penting dalam meningkatkan kunjungan turis ke Indonesia pasca-pandemi, dengan konektivitas yang lebih baik dan penerbangan langsung.
(Bisnis.Com) 09/03/26 14:25 159160
Bisnis.com, JAKARTA — Setelah sempat terseok-seok selama pandemi Covid-19, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia terus mengalami pertumbuhan. Ekspansi jaringan rute maskapai asing ke berbagai kota di Indonesia semakin memperkuat konektivitas internasional dan dinilai berkontribusi signifikan dalam mendorong peningkatan jumlah wisman yang berkunjung ke Tanah Air.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 15,38 juta wisman mengunjungi Indonesia sepanjang 2025, meningkat 10,80% dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya (c to c/CtC) yang sebesar 13,88 juta kunjungan.
“Capaian kunjungan wisman di 2025 ini merupakan capaian tertinggi dalam 6 tahun terakhir atau kalau teman-teman tarik ke belakang yaitu sejak 2020. Namun, demikian ini masih sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan 2019,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers Rilis BPS pada Februari 2026.
Dari total kunjungan pada 2025, mayoritas wisman masuk ke Indonesia melalui pintu udara alias dengan moda angkutan udara. Tercatat, jumlah kunjungan melalui pintu udara mencapai 10,81 juta kunjungan atau berkontribusi sebesar 70,31% dari total kunjungan wisman pada 2025.
Arus kunjungan wisman melalui pintu udara terus meningkat dari tahun ke tahun, meski sempat tertekan selama pandemi Covid-19, dan hingga kini masih menjadi jalur kedatangan utama bagi turis asing ke Indonesia.
Berdasarkan data BPS yang dihimpun Bisnis, total kunjungan wisman yang masuk ke Indonesia pada 2019 mencapai 9,38 juta kunjungan atau 61,05% dari total kunjungan wisman sebanyak 16,10 juta kunjungan pada tahun tersebut, disusul pintu laut dan pintu darat yang masing-masing berkontribusi sebesar 25,83% dan 13,10% terhadap total kunjungan wisman sepanjang 2019.
Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia anjlok drastis sebesar 74,83%, dari 16,10 juta kunjungan pada 2019 menjadi 4,05 juta kunjungan pada 2020 alias pada saat pandemi Covid-19 mulai melanda Tanah Air.
Kendati menyusut, moda transportasi udara masih menjadi jalur kedatangan utama bagi turis asing dengan kontribusi sebesar 42,27%, disusul oleh moda transportasi darat sebesar 32,43% dan moda transportasi laut 25,28% terhadap total kunjungan wisman pada 2020.
Namun, kondisi berubah signifikan pada 2021. Menyusul adanya pembatasan perjalanan oleh pemerintah Indonesia, total wisman yang masuk ke Indonesia melalui pintu udara turun signifikan menjadi hanya 137.242 kunjungan atau 8,81% terhadap total kunjungan wisman pada 2021 yang sebanyak 1,55 juta kunjungan.
Sebaliknya, kontribusi jumlah wisman yang masuk melalui pintu darat atau moda transportasi darat tercatat sebesar 64,51% terhadap total kunjungan wisman pada 2021.
Situasi kemudian berangsur-angsur pulih, demikian halnya dengan jumlah kunjungan wisman yang masuk melalui pintu udara. Pada 2022, BPS mencatat turis asing yang masuk ke Indonesia menggunakan moda transportasi udara sebanyak 3,29 juta kunjungan, tumbuh signifikan 2.301,61% dari 2021 yang hanya sebanyak 137.242 kunjungan.
Hal ini lantas membuat pintu udara kembali menjadi pintu masuk favorit wisman yang masuk ke Indonesia, tecermin dari kontribusinya yang sebesar 55,96% terhadap total kunjungan wisman pada 2022, disusul oleh pintu laut sebesar 29,32% dan pintu darat 14,70%.
Jumlah kunjungan wisman yang masuk melalui pintu udara terus mengalami peningkatan pada tahun-tahun berikutnya dan masih mendominasi dibandingkan pintu masuk laut maupun darat.

Peran Strategis Maskapai Asing
Pengamat Pariwisata Chusmeru menilai keberadaan jaringan rute maskapai asing menjadi faktor strategis dalam meningkatkan arus kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
“Pengaruh jaringan maskapai asing terhadap arus wisatawan asing ke Indonesia sangat signifikan,” kata Chusmeru kepada Bisnis, dikutip pada Senin (9/3/2026).
Menurutnya, dominasi kapasitas kursi pada penerbangan internasional yang dioperasikan maskapai asing dapat mendorong mobilitas wisman menuju berbagai destinasi di Tanah Air.
Kehadiran maskapai asing juga dinilai mampu menutup keterbatasan maskapai domestik yang memiliki pangsa pasar dan jangkauan rute internasional yang relatif terbatas, sehingga pasar pariwisata Indonesia menjadi lebih mudah dijangkau wisatawan dari berbagai negara.
Selain itu, jaringan maskapai asing juga menciptakan persaingan yang lebih ketat di industri penerbangan internasional. Kondisi tersebut berpotensi menekan harga tiket penerbangan sehingga meningkatkan daya beli wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia, selama tetap diimbangi dengan standar pelayanan yang optimal.
Di sisi lain, keberadaan maskapai asing turut memperkuat konektivitas pariwisata Indonesia dengan berbagai kota di dunia, sehingga aksesibilitas Indonesia sebagai destinasi wisata global menjadi semakin terbuka.
“Kehadiran maskapai asing meningkatkan konektivitas pariwisata Indonesia. Aksesibilitas Indonesia sebagai destinasi wisata dunia semakin mudah dikunjungi wisatawan mancanegara,” jelas Chusmeru.
Singapore Airlines Perkuat Konektivitas Wisata Indonesia
Peran maskapai asing dalam memperkuat konektivitas pariwisata Indonesia juga tercermin dari jaringan rute yang dimiliki Singapore Airlines (SIA). Dengan memanfaatkan Singapura sebagai salah satu hub penerbangan utama di Asia Tenggara, maskapai tersebut menghubungkan berbagai kota di dunia dengan destinasi di Indonesia, sehingga memperluas akses wisatawan mancanegara ke pasar pariwisata nasional.
Chairman Singapore Airlines Peter Seah Lim Huat mengatakan kemitraan maskapai yang saling menguntungkan seperti dengan All Nippon Airways dan Garuda Indonesia memberikan akses yang lebih luas ke pasar-pasar utama.
“Dengan bekerja lebih erat bersama para mitra, kami dapat menawarkan lebih banyak pilihan perjalanan serta berbagai manfaat tambahan bagi pelanggan,” jelas Peter, dikutip dari Laporan Tahunan Singapore Airlines Tahun Buku 2024/2025, Senin (9/3/2026).

Pesawat Singapore Airlines/dok. perusahaan
Untuk diketahui, Garuda Indonesia dan SIA pada Juli 2024 resmi memperoleh persetujuan dari Competition and Consumer Commission of Singapore (CCCS) atas perjanjian joint venture komersial yang dijalin kedua maskapai.
Dengan persetujuan tersebut, kedua maskapai dapat memperdalam kemitraan strategis mereka dalam berbagai aktivitas komersial yang lebih luas, yang akan memberikan manfaat lebih besar bagi kedua maskapai, serta bagi Indonesia dan Singapura.
Melansir laman resmi SIA, kerja sama tersebut berpotensi mencakup pengoperasian penerbangan dengan skema pembagian pendapatan antara kedua negara, koordinasi jadwal penerbangan untuk memberikan lebih banyak pilihan perjalanan serta konektivitas yang lebih mulus antara Singapura dan Indonesia maupun destinasi lainnya, serta eksplorasi inisiatif penjualan dan pemasaran bersama yang memberikan nilai lebih bagi pelanggan kedua maskapai.
Sejak Garuda Indonesia dan Singapore Airlines menandatangani kesepakatan untuk memperdalam kemitraan pada Mei 2023, kedua maskapai telah mengembangkan sejumlah inisiatif, termasuk memberikan anggota GarudaMiles dan KrisFlyer kesempatan untuk mengumpulkan dan menukarkan miles pada rute codeshare. Kedua maskapai juga menjalankan berbagai inisiatif pemasaran bersama untuk mempromosikan kegiatan pariwisata.
Adapun kedua maskapai menjalankan kerja sama codeshare pada berbagai penerbangan, termasuk antara Singapura dan sejumlah kota di Indonesia seperti Bali, Jakarta, Medan, dan Surabaya, serta pada rute jarak jauh antara Singapura dan Johannesburg, London (Heathrow), serta Mumbai.
Chief Executive Officer Singapore Airlines Goh Choon Phong kala itu mengatakan kemitraan strategis yang kuat antara Garuda Indonesia dan SIA telah memungkinkan perluasan layanan codeshare dalam beberapa tahun terakhir sehingga pelanggan memiliki lebih banyak pilihan penerbangan.
“Kemitraan tersebut mencerminkan komitmen kedua maskapai untuk meningkatkan konektivitas antara Indonesia dan Singapura serta berbagai destinasi lainnya, sekaligus mendorong perjalanan bisnis dan wisata serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi,” terang Goh Choon Phong kala itu, dikutip dari laman resmi SIA, Senin (9/3/2026).
Tidak berhenti disitu, kedua maskapai juga meningkatkan frekuensi penerbangan antara Jakarta, Indonesia, dan Singapura pada kuartal IV/2024. Langkah ini ditempuh untuk menambah kapasitas serta memperkuat konektivitas antara dua hub utama di Asia Tenggara tersebut.
Adapun, SIA mulai 22 November 2024 mengoperasikan delapan penerbangan harian, meningkat dari sebelumnya enam penerbangan per hari.
Sementara itu, Garuda Indonesia menambah frekuensi penerbangan hariannya dari empat menjadi enam mulai 1 Desember 2024. Pada 1 Desember 2024, kedua maskapai kala itu diproyeksikan mengoperasikan 390 layanan codeshare per minggu, termasuk 362 penerbangan antara Singapura dan Indonesia.
Strategi Direct Flight
Setelah konektivitas pariwisata Indonesia diperkuat oleh jaringan maskapai internasional seperti Singapore Airlines, pelaku industri pariwisata menilai pemerintah juga perlu mendorong pembukaan lebih banyak rute penerbangan langsung guna meningkatkan arus wisman ke Tanah Air.
Sekretaris Jenderal DPP Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Budijanto Ardiansjah mengatakan maskapai penerbangan memegang peran yang sangat penting dalam mendukung angkutan wisatawan ke Indonesia.
Menurut dia, semakin banyak penerbangan langsung (direct flight) yang menghubungkan Indonesia dengan berbagai kota di dunia, akan semakin menguntungkan bagi sektor pariwisata nasional karena dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang datang.
Oleh karena itu, dia mendorong pemerintah untuk membuka lebih banyak rute penerbangan potensial dengan skema direct flight agar wisatawan yang diangkut ke Indonesia dapat semakin meningkat.
“Pemerintah perlu didorong untuk membuka rute-rute potensial dengan opsi direct flight supaya wisatawan yang diangkut ke Indonesia bisa semakin banyak,” ujar Budi kepada Bisnis, dikutip pada Senin (9/3/2026).
Upaya tersebut, kata dia, juga dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak swasta, dengan catatan pemerintah memberikan kemudahan regulasi agar pengembangan rute baru dapat berjalan lebih cepat.
Namun apabila wisatawan masih harus melalui hub penerbangan internasional seperti Singapore, Dubai, atau Doha, promosi pariwisata Indonesia di hub-hub tersebut perlu diperkuat agar wisatawan tertarik melanjutkan perjalanan ke Indonesia.
#maskapai-asing #kunjungan-turis #wisatawan-mancanegara #pariwisata-indonesia #penerbangan-internasional #konektivitas-pariwisata #singapore-airlines #garuda-indonesia #direct-flight #rute-penerbangan #n-a