OPINI: Jalan Melingkar Penerimaan Bea Keluar
Target APBN 2026 untuk penerimaan bea keluar dan cukai terancam tidak tercapai tanpa strategi efektif. Bea keluar dari sektor mineral dan cukai rokok perlu kebijakan strategis untuk mengatasi defisit.
(Bisnis.Com) 01/04/26 08:01 178266
Bisnis.com, JAKARTA - Antoine de Saint-Exupéry, penyair prancis (1900—1944) mengatakan, ”A goal without a plan is just a wish”. Tujuan tanpa direncanakan hanyalah sebuah harapan.
Tercapainya target APBN 2026 dari penerimaan bea keluar yang telah dibebankan mulai Januari 2026 jika tidak dibarengi strategi pencapaiannya, boleh jadi menjadi harapan saja.
Tentu kita tidak menghendaki itu terjadi. Dan tulisan ini menggugah beberapa pihak untuk mengambil langkah strategis sesuai porsinya sehingga target dari sektor tersebut bisa dicapai.
Dalam konferensi pers realisasi APBN sampai dengan Februari 2026, kinerja penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai secara keseluruhan negatif. Hanya sektor bea masuk yang tumbuh meski baru 1,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Meski terlalu dini menyimpulkan 10 bulan ke depan, situasi global uncertainty tidak bisa menggaransi ke depan. Nilai tukar berubah dan juga alur logistiknya lantaran perang makin menguatkan ketidakpastian.
Sektor cukai pernah bertahun-tahun menjadi andalan penerimaan Kemenkeu dalam hal ini Bea Cukai. Dua tahun terakhir performanya masih belum maksimal. Sampai Februari 2026, sektor cukai ini masih minus 14%.Tak ada aksi buffer stock di akhir tahun sehingga sampai penerimaan Januari dan Februari 2026 tidak maksimal. Demikian program ekstensifikasi objek cukai baru yang menginjak “ulang tahun” ke-5, melihat situasi makro ekonomi saat ini, naga-naganya tidak bisa dieksekusi.
Situasi ini “mencadangkan” kekurangan target cukai Rp7,6 triliun. Jika melihat pengalaman 2019 di mana pada tahun tersebut cukai rokok tidak dinaikkan, penerimaan cukainya dapat tumbuh sampai 7%. Tahun 2019 memang berbeda situasinya dengan 2026.
Saat ini pabrik besar menurun drastis dan market share-nya di bawah 50% nasional. Harga eceran sudah tidak kompetitif untuk konsumen. Bahkan dengan pabrik ilegal saat ini, pabrik besar pun sudah tersaingi. Perlu kebijakan strategis menyasar layer ini agar bisa berkontribusi menutup tambahan Rp13 triliun atau 6% dari tahun 2025. Jika pabrik yang ada di tier ini bisa mencapai 53% market nasional, pertumbuhan produksi 3%—5% secara agregat dapat mengcover target cukai 2026.
Semoga ini menjadi fokus pembahasan dalam policy cukai rokok 2026. Tarif transisi jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM) penting sebagai salah satu mengatasi rokok ilegal. Namun, signifikansinya terhadap penerimaan cukai untuk mencapai target APBN 2026 kalah efektif dibanding pabrik bertarif tinggi dapat mengambil market ilegalnya.
Selain cukai, kinerja yang minus adalah penerimaan dari bea keluar. Dari target Rp42,5 triliun, baru Rp2,8 triliun per Februari 2026 atau 6,5% dari target. Harga sawit yang terkena bea keluar mengalami penurunan karena harga patokan tahun 2025 mencapai di atas Rp1.000 metrik ton sedang tahun 2026 hanya di US$917 per metrik ton.
Memang masih ada harapan ke depan dengan membaiknya harga sawit dunia di tengah situasi perang. Bea keluar yang harus diantisipasi adalah bea keluar dari sektor mineral yakni batu bara, tembaga, dan emas.
Batu bara menjadi kontributor utama bea keluar dengan porsi mencapai 64%. Sampai Februari 2026 belum ada pemasukan dari bea keluar sektor mineral ini. Batu bara dikenakan bea keluar dengan asumsi harga batu bara dunia mencapai US$150 per metrik ton. Dalam situasi normal asumsi ini sulit terwujud.
Tahun 2022, harga batu bara dunia menyentuh US$150 per metrik ton. Namun, karena ada moratorium ekspor dan pascapandemi. Awal Maret 2026 harga acuan menyentuh US$140 per metrik ton.
Namun, kemudian turun kembali dan hingga tulisan ini diselesaikan US$137 per metrik ton. Sampai dengan kuartal pertama APBN 2026 dari bea keluar mineral belum ada pemasukan signifikan. Kalaupun asumsi harga batu bara acuan dunia tercapai, untuk mencapai target APBN tarif bea keluar sampai dengan 5% tak bisa mencapai target. Menaikkan tarif bea keluar yang telah disepakati perlu waktu pembahasan lagi. Bersiap saja jika tak ada langkah strategi di sektor ini maka APBN 2026 dari sektor bea keluar minus di kisaran Rp27 triliun.
Lebaran usai dan kuartal pertama APBN 2026 telah lewat. Agar pihak yang terkait tergugah membahas dengan segera maka paparan ini adalah membahas potensi pesimisnya.
Bahwa pencapaian target APBN 2026 justru ditentukan bagaimana kalkulasi pada saat penyusunan. Langkah “akrobatik” di akhir tahun memang dapat bisa jadi penentu, tetapi pasti terbatas pada limit angka tertentu.
Dua sektor penerimaan pabean dan cukai masing masing bergantung ke kementerian pembina sektor. Bea Keluar sangat bergantung kebijakan kementerian yang membidangi mineral. Ekstensifikasi objek cukai baru juga demikian bergantung kementerian yang membidangi industri.
Situasi ekonomi global dan kekhawatiran mendisrupsi pertumbuhan ekonomi, akan menjadikan tambahan minus target APBN Rp27 triliun. Sebuah angka yang memiliki multiplier effect banyak terhadap berbagai asumsi parameter APBN ditargetkan.
Kita tidak mau kinerja APBN 2026 tak mencapai tujuan menyejahterakan, memacu angka pertumbuhan ekonomi ditargetkan. Tahun 2025 defisit APBN hampir menyentuh 3%. Dan tahun 2026 sebagaimana Menkeu Purbaya sampaikan, akan terus menjaga defisit APBN di bawah 3%. Semua pihak harus mendukung tekad ini termasuk bagaimana mengamankan angka penerimaan APBN yang kami paparkan.
#bea-keluar #penerimaan-bea #target-apbn #cukai-rokok #harga-sawit #sektor-mineral #batu-bara #harga-batu-bara #kebijakan-cukai #tarif-bea #penerimaan-cukai #kinerja-apbn #ekonomi-global #defisit-apbn #n-a
https://ekonomi.bisnis.com/read/20260401/259/1963509/opini-jalan-melingkar-penerimaan-bea-keluar