Ketergantungan Beras Sulit Dipatahkan, Kapan Diversifikasi Pangan Terwujud?

Ketergantungan Beras Sulit Dipatahkan, Kapan Diversifikasi Pangan Terwujud?

Ketergantungan Indonesia pada beras sulit dipatahkan meski diversifikasi pangan terus diupayakan. Tantangan struktural dan budaya jadi penghambat utama.

(Bisnis.Com) 14/04/26 13:18 190776

Bisnis.com, JAKARTA — Fluktuasi harga beras kembali menguji ketahanan sistem pangan nasional yang selama ini bertumpu pada satu komoditas utama. Di tengah tekanan tersebut, program diversifikasi pangan yang telah lama digaungkan kembali disorot. Namun implementasinya masih menghadapi tantangan struktural yang kompleks.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, nasi masih menjadi konsumsi utama. Preferensi ini tidak hanya dipengaruhi faktor harga dan ketersediaan, tetapi juga budaya yang telah mengakar lintas generasi. Hal ini setidaknya tecermin dalam kalimat, Belum kenyang kalau belum makan nasi.

Namun konsumsi nasi yang besar tak lepas dari dinamika beras sebagai bahan bakunya. Sebagai komoditas global dengan neraca yang sangat sensitif, kenaikan harga beras tak semata dipicu faktor pasokan domestik.

Tekanan eksternal seperti kenaikan biaya bahan baku, kemasan, dan logistik akibat dinamika geopolitik global turut berpengaruh. Kondisi ini mempertegas kerentanan sistem pangan yang bertumpu pada satu komoditas utama.

Di sisi lain, agenda diversifikasi pangan terus menunjukkan progres, namun belum cukup kuat untuk menggeser dominasi beras dalam pola konsumsi nasional.

Deputi III Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional Andriko Noto Susanto menyampaikan diversifikasi pangan merupakan strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan.

“Diversifikasi pangan merupakan agenda strategis jangka panjang yang terus diperkuat untuk mendukung ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan pangan nasional,” ujarnya kepada Bisnis.

Dia menjelaskan kualitas konsumsi masyarakat terus membaik, tercermin dari skor Pola Pangan Harapan yang mencapai 95,1 pada 2025, naik dari 93,5 pada 2024 dan melampaui target nasional 94,0.

Namun, perbaikan kualitas tersebut belum diikuti perubahan struktur konsumsi. Secara agregat, konsumsi pangan masih didominasi beras dan terigu, sementara pangan lokal seperti umbi-umbian, jagung, dan sagu belum mengalami peningkatan signifikan.

Ketergantungan ini terlihat dari kebutuhan beras nasional yang diproyeksikan mencapai 31 juta ton pada 2026, dengan konsumsi rumah tangga sekitar 22,58 juta ton atau 87,3 kg per kapita per tahun.

Menurutnya, dominasi beras tidak hanya dipengaruhi faktor ketersediaan dan harga, tetapi juga budaya yang telah mengakar lintas generasi. Infrastruktur produksi dan distribusi beras yang lebih matang turut memperkuat posisi komoditas ini dibandingkan pangan alternatif.

Data Konsumsi Padi-padian dan Umbi-umbian 2025

Komoditas

Konsumsi (kg/kapita/tahun)

Pangsa

Beras

87,3

71,8%

Terigu

14,8

12,2%

Singkong

10,9

9,0%

Ubi jalar

4,0

3,3%

Kentang

2,5

2,1%

Jagung

1,5

1,2%

Umbi lainnya

0,6

0,5%

Sagu

0,3

0,2%

Total

121,9

100%

Catatan Penting

  • Konsumsi beras hampir enam kali lipat dibanding terigu
  • Total konsumsi umbi-umbian masih di bawah 20% dari total
  • Diversifikasi pangan masih terbatas di luar beras

Sumber:Susenas Maret 2025, Badan Pangan Nasional, diolah

Senada, Peneliti Indef Afaqa Hudaya juga menilai dominasi beras merupakan hasil dari sistem pangan yang terbentuk secara struktural sejak lama.

“Ini bukan sekadar soal pilihan konsumsi, tetapi sudah menjadi bagian dari sistem pangan yang terbentuk secara struktural,” ujarnya.

Menurutnya, kebijakan pemerintah yang selama ini cenderung bias terhadap beras melalui subsidi dan bantuan sosial turut melemahkan insentif pengembangan pangan alternatif.

Di sisi lain, diversifikasi dinilai tetap realistis dari sisi potensi, mengingat Indonesia memiliki keragaman sumber pangan lokal. Namun, implementasinya menghadapi tantangan struktural yang kompleks, mulai dari preferensi konsumen hingga keterbatasan rantai pasok.

“Diversifikasi tidak cukup dilakukan melalui program normatif, tetapi harus berbasis pasar yang dibentuk secara aktif oleh pemerintah,” katanya.

Hambatan perubahan pola konsumsi juga datang dari aspek kepraktisan dan ketersediaan. Produk pangan lokal dinilai masih kalah dibandingkan beras yang lebih mudah diakses dan diolah.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI) Kusnan menambahkan bahwa meskipun ada tren peningkatan konsumsi pangan non-beras di kalangan urban, pergeseran tersebut belum signifikan secara nasional.

“Di level masif, tantangannya adalah ketergantungan psikologis. Beras masih dianggap sebagai pangan utama yang paling mudah diakses dan diolah,” ungkapnya.

Dari sisi produksi, petani masih cenderung memilih padi karena kepastian pasar yang lebih terjamin, dukungan infrastruktur irigasi, serta pengetahuan budidaya yang sudah mapan.

Komoditas alternatif seperti singkong dan sorgum dinilai memiliki ketahanan yang baik terhadap perubahan iklim, namun menghadapi kendala pada ketersediaan benih, industri pengolahan, dan efisiensi distribusi.

“Petani ragu menanam sorgum dalam skala besar jika tidak ada pabrik pengolah di dekat lahan mereka,” kata Kusnan.

Persoalan harga juga menjadi tantangan utama. Komoditas alternatif belum memiliki dukungan harga yang kuat, sementara biaya logistik yang masih tinggi menekan daya saing di tingkat konsumen.

Pemerintah berupaya menjawab tantangan tersebut melalui Peraturan Presiden No. 81 Tahun 2024 yang mengatur percepatan penganekaragaman pangan berbasis potensi lokal.

Kebijakan ini mencakup penguatan dari hulu hingga hilir, mulai dari peningkatan produktivitas, pengembangan industri pengolahan, hingga efisiensi distribusi dan penciptaan pasar.

Selain itu, intervensi juga diarahkan pada perubahan perilaku konsumsi melalui edukasi, kampanye pangan lokal, serta integrasi dalam program bantuan sosial dan makan bergizi.

Namun, perubahan pola konsumsi dinilai bisa membutuhkan waktu panjang. Afaqa memperkirakan dampak awal baru terlihat dalam 3 hingga 5 tahun, sementara perubahan signifikan dapat memakan waktu hingga dua dekade.

“Yang diubah bukan hanya produksi, tetapi juga kebiasaan, sistem distribusi, dan industri pengolahan,” ujarnya.

Di tengah tekanan harga beras, diversifikasi pangan menjadi semakin relevan. Namun, tanpa pembenahan menyeluruh pada sisi produksi, distribusi, dan permintaan, upaya tersebut berisiko berjalan lambat dan tidak mampu mengurangi ketergantungan secara signifikan.

#beras #diversifikasi-pangan #ketahanan-pangan #konsumsi-beras #harga-beras #pangan-lokal #ketergantungan-beras #komoditas-utama #sistem-pangan #konsumsi-nasional #pangan-alternatif #kebijakan-pangan #n-a

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260414/99/1966308/ketergantungan-beras-sulit-dipatahkan-kapan-diversifikasi-pangan-terwujud