Wamentan nilai bongkar ratoon strategi pacu produksi gula nasional
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menilai bongkar ratoon atau peremajaan tanaman tebu menjadi salah satu strategi untuk memacu produksi gula ...
(Antara) 14/04/26 18:53 191275
Bongkar ratoon itu penting. Jadi kita cari varietas yang standarnya bagus, dengan pengeluarannya yang bagus, sehingga rendemennya itu bagus
Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menilai bongkar ratoon atau peremajaan tanaman tebu menjadi salah satu strategi untuk memacu produksi gula nasional.
Sudaryono saat ditemui di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Selasa, mengatakan bongkar ratoon merupakan upaya dengan membongkar total tanaman lama (ratoon) yang produktivitasnya menurun, lalu menggantinya dengan bibit baru yang unggul guna meningkatkan tonase tebu dan rendemen gula.
“Bongkar ratoon itu penting. Jadi kita cari varietas yang standarnya bagus, dengan pengeluarannya yang bagus, sehingga rendemennya itu bagus,” kata Wamentan.
Ia menilai penggunaan varietas tanaman komoditas yang lebih unggul dapat memengaruhi produksi hingga 20-30 persen.
Oleh karena itu, lanjutnya, kini pemerintah mendorong penggunaan bibit unggul dalam kegiatan di sektor pertanian dan mencapai target swasembada gula.
“Kalau Indonesia itu bisa meningkatkan rendemennya tinggi … itu bukan hanya kita ini swasembada gula, bahkan harga gulanya bisa kita turunkan,” ujar Wamentan Sudaryono.
Selain bongkar ratoon, pembukaan lahan baru juga ia sebut menjadi langkah lainnya untuk mendorong peningkatan produksi gula dan mempercepat pencapaian target swasembada gula.
“Mau tidak mau kita cari lahan baru yang cocok untuk penduduk, tanpa harus mengganggu ekologi,” ujar Sudaryono.
Di sisi lain, Wamentan juga mengatakan pihaknya tak hanya mendorong swasembada pangan seperti gula, tapi juga memacu sektor pertanian untuk berkontribusi dalam perekonomian hijau melalui implementasi Nilai Ekonomi Karbon (NEK).
“Pertanian itu juga bisa menjadi penyerap karbon. Dengan jutaan petani dan lahan yang luas, sektor ini bisa menjadi pemasok kredit karbon global dan juga menarik investasi hijau,” kata Sudaryono.
Pemerintah, kata dia, telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 110 Tahun 2025 yang mengatur penyelenggaraan instrumen ekonomi karbon secara lintas sektor.
“Adaptasi dan mitigasi menjadi dua pendekatan utama dalam menghadapi perubahan iklim, yang saling melengkapi dalam meningkatkan ketahanan sekaligus penurunan emisi,” ujar Wamentan.
Ia melanjutkan adaptasi difokuskan pada peningkatan kapasitas sektor pertanian agar lebih tangguh terhadap dampak iklim.
“Sementara, mitigasi diarahkan untuk mengurangi efek gas rumah kaca (GRK), peningkatan penyerapan karbon, dan termasuk mendorong sektor agrikultur dan Forestry and Other Land Use (FOLU) menjadi net sink,” kata Sudaryono.
“Ini adalah kondisi ketika suatu sektor atau ekosistem menyerap lebih banyak emisi gas rumah kaca daripada yang dilepaskan,” ujarnya menambahkan.
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
#wamentan #kementan #sudaryono #swasembada-gula #swasembada-pangan #tebu