Ungguli Negara-negara Lain, Airlangga Ungkap Modal Besar Hilirisasi RI
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut Indonesia lebih unggul dalam hilirisasi dibandingkan negara lain berkat bahan baku melimpah.
(Bisnis.Com) 23/04/26 15:05 200566
Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia memiliki keunggulan yang dinilai sulit disaingi negara lain dalam pengembangan sektor hilirisasi, mulai dari ketersediaan bahan baku hingga struktur biaya yang lebih kompetitif.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, hilirisasi menjadi fondasi utama daya saing Indonesia karena didukung oleh sumber daya alam yang tidak dimiliki banyak negara lain.
Menurutnya, keunggulan tersebut menempatkan Indonesia dalam posisi strategis dalam rantai nilai global, khususnya pada sektor hilirisasi industri berbasis sumber daya alam.
“Negara lain tidak punya bahan bakunya. Ini menunjukkan comparative advantage dan competitiveness Indonesia sehingga ini adalah kekuatan daripada Indonesia ke depan,” ujar Airlangga dalam Konferensi Pers Realisasi Investasi Kuartal I/2026 yang dipantau secara daring pada Kamis (23/4/2026).
Selain bahan baku, Airlangga menyoroti struktur biaya investasi di Indonesia yang relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara. Dia menjelaskan, biaya lahan dinilai menjadi salah satu faktor pembeda yang memperkuat daya tarik investasi industri hilirisasi di dalam negeri.
Dari sisi energi, Indonesia juga dinilai memiliki kombinasi yang lebih fleksibel antara sumber energi baru terbarukan dan energi fosil. Hal ini memberikan ruang bagi industri untuk menekan biaya produksi.
Namun, pemerintah mengakui bahwa peningkatan daya saing masih membutuhkan penguatan infrastruktur kelistrikan, terutama melalui konektivitas jaringan antarpulau.
Airlangga menjelaskan, saat ini Pulau Jawa mengalami kelebihan pasokan listrik, tetapi dalam beberapa tahun ke depan diperlukan penyerapan yang lebih optimal, termasuk melalui integrasi dengan sistem kelistrikan Sumatra.
“Hari ini [pasokan listrik] di Pulau Jawa kita berlebih, tetapi 3—4 tahun lagi akan menyedot kelebihan ini sehingga konektivitas Jawa-Sumatra menjadi penting,” ujarnya.
Selain itu, pengembangan proyek energi baru terbarukan, khususnya panas bumi (geothermal), juga terus berjalan dan menjadi bagian dari strategi memperkuat pasokan energi bersih untuk industri.
Airlangga mencontohkan, beberapa proyek geothermal di Sumatra Barat dan Aceh disebut masih berada dalam pipeline dan berpotensi meningkatkan kapasitas energi nasional jika terhubung dengan pusat permintaan di Jawa.
Selanjutnya, dari sisi pendanaan, peluang pembiayaan global untuk proyek energi dan hilirisasi dinilai semakin terbuka.
Airlangga mengungkapkan adanya komitmen pendanaan internasional, termasuk dari Jepang melalui forum Asia Zero Emission Committee (AZEC), yang menyiapkan dana sekitar US$10 miliar atau sekitar Rp1,5 triliun untuk mendukung investasi energi.
Menurutnya, Indonesia berada dalam posisi siap memanfaatkan peluang tersebut karena telah memiliki sejumlah proyek yang siap ditawarkan kepada investor.
Dengan kombinasi keunggulan tersebut, pemerintah menilai akselerasi hilirisasi kini bergantung pada kesiapan pelaku usaha dalam menangkap peluang yang tersedia.
“Seluruhnya tergantung kepada para pengusaha di Indonesia untuk bisa memanfaatkan apa yang sudah disediakan,” ujarnya.