ESDM tekankan integrasi pengembangan energi hijau dengan industri

ESDM tekankan integrasi pengembangan energi hijau dengan industri

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menekankan pentingnya integrasi pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) atau energi hijau dengan akses ...

(Antara) 28/04/26 16:11 205370

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menekankan pentingnya integrasi pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) atau energi hijau dengan akses dan kebutuhan industri.

"Kalau kita melihat pengembangan energi dan industri ini memang masih belum terintegrasi, sehingga saat sekarang pun masih banyak sekali industri yang sebenarnya butuh renewable energy, tetapi mereka tidak bisa mendapatkannya," kata Direktur Pembinaan Ketenagalistrikan Strategis Kementerian ESDM Andriah Feby dalam diskusi publik di Jakarta, Selasa.

Feby mengatakan saat ini regulasi untuk mendorong pengembangan EBT di Indonesia sudah cukup banyak, beserta dengan target dan potensi-potensi sumber EBT-nya.

Salah satunya adalah Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang menjadi acuan strategis pembangunan sistem ketenagalistrikan nasional selama 10 tahun ke depan.

Berdasarkan rencana tersebut, total penambahan pembangkit listrik selama 1 dekade ke depan sebesar 69,5 gigawatt (GW) dengan porsi bauran energi baru terbarukan (EBT) mencapai 76 persen sekaligus menjadikan RUPTL 2023-2034 yang paling hijau dari sebelumnya.

Pemerintah menetapkan porsi bauran EBT dan sistem penyimpanan energi (storage) hingga 76 persen atau sebesar 52,9 GW dari total tambahan kapasitas pembangkit yang terdiri dari pembangkit tenaga surya sebesar 17,1 GW, tenaga air 11,7 GW, panas bumi 5,2 GW, bioenergi 0,9 GW, dan energi nuklir 0,5 GW.

Pembangkit hijau tersebut juga ditopang oleh sistem penyimpanan energi sebesar 10,3 GW yang terdiri atas pumped storage dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sebesar 6 GW dan battery energy storage system (BESS) 4,3 GW.

Sementara, porsi energi fosil hanya mencakup 24 persen dari total kapasitas tambahan yang terdiri atas pembangkit berbahan bakar gas sebesar 10,3 GW dan batu bara sebesar 6,3 GW.

"Nah, ini yang mungkin memang dari sisi perencanaan harus kita integrasikan antara kebutuhan industri juga dengan rencana pengembangan energinya," kata Feby.

Pengembangan energi bersih ini, lanjut dia, bisa dipertimbangkan dengan pembuatan zona khusus EBT (renewable energy zone) yang diharapkan menjadi wadah kolaborasi kementerian/lembaga terkait guna mempercepat proses pengembangan energi ke depannya.

"Mudah-mudahan kebutuhan industri terhadap energi bersih itu bisa lebih mudah dan lebih cepat," ujar dia.

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

#esdm #kementerian-esdm #ebt #transisi-energi #ruptl #renewable-energy-zone

https://www.antaranews.com/berita/5545639/esdm-tekankan-integrasi-pengembangan-energi-hijau-dengan-industri