Simpanan Kelas Menengah Bawah Masih Lesu, OJK Ungkap Penyebabnya
OJK menyoroti kondisi simpanan masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah bawah, yang masih menghadapi tekanan pada awal tahun 2026.
(Kompas.com) 18/05/26 10:08 223373
JAKARTA, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti kondisi simpanan masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah bawah, yang masih menghadapi tekanan pada awal tahun 2026.
Meski demikian, secara umum Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan nasional tercatat masih tumbuh positif hingga Maret 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, DPK perbankan pada Maret 2026 tumbuh sebesar 13,55 persen secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 10.230,81 triliun.
ANTARA/Rizka Khaerunnisa Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan strategi penurunan bunga kredit di Jakarta, Kamis (26/2/2026).Angka tersebut meningkat dibandingkan Februari 2026 yang tumbuh sebesar 13,18 persen yoy.
“Pada Maret 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan dapat tumbuh sebesar 13,55 persen yoy menjadi sebesar Rp 10.230,81 triliun, meningkat dibandingkan Februari 2026 sebesar 13,18 persen,” ujar Dian dalam jawaban tertulis Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, dikutip pada Senin (18/5/2026).
Ia menjelaskan, pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan pada seluruh komponen simpanan masyarakat di perbankan, baik giro, deposito, maupun tabungan.
Adapun pertumbuhan giro tercatat sebesar 21,37 persen (yoy), deposito tumbuh 8,36 persen (yoy), dan tabungan meningkat 11,57 persen (yoy).
Aktivitas ekonomi jadi penopang simpanan
Menurut Dian, kinerja DPK perbankan secara umum dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama peningkatan pendapatan masyarakat seiring membaiknya aktivitas ekonomi di berbagai sektor.
Ia menyebutkan, perbaikan aktivitas ekonomi baik di sektor formal maupun informal turut mendukung kemampuan masyarakat untuk menyimpan dana di perbankan.
SHUTTERSTOCK/EGGEEGG Ilustrasi tabungan, rekening.“Kinerja Dana Pihak Ketiga (DPK) umumnya dipengaruhi oleh sejumlah faktor, utamanya peningkatan pendapatan masyarakat seiring membaiknya aktivitas ekonomi, baik di sektor formal maupun informal,” kata Dian.
Selain faktor aktivitas ekonomi, ia menjelaskan bahwa faktor musiman juga berkontribusi terhadap pertumbuhan likuiditas masyarakat.
Beberapa faktor musiman tersebut antara lain pembayaran bonus akhir tahun, pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), hingga realisasi belanja pemerintah.
“Selain itu, faktor musiman seperti pembayaran bonus akhir tahun, Tunjangan Hari Raya (THR), maupun realisasi belanja pemerintah, juga berperan dalam meningkatkan likuiditas di masyarakat,” ujar dia.
Ketidakpastian global dorong masyarakat menahan konsumsi
Di sisi lain, Dian mengatakan ketidakpastian global yang masih berlangsung turut memengaruhi perilaku masyarakat dalam mengelola keuangan.
Menurut dia, kondisi global yang penuh ketidakpastian membuat masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan konsumsi.
Masyarakat disebut memilih menempatkan dana di instrumen perbankan sebagai langkah berjaga-jaga atau precautionary saving.
“Ketidakpastian global yang masih berlanjut juga mendorong preferensi masyarakat untuk menahan konsumsi dan menempatkan dana pada instrumen perbankan sebagai bentuk kehati-hatian (precautionary saving),” jelas Dian.
Ia menambahkan, dinamika geopolitik global masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi domestik, termasuk pertumbuhan simpanan masyarakat.
OJK proyeksikan simpanan rumah tangga tumbuh moderat
Untuk sepanjang 2026, OJK memperkirakan tren DPK rumah tangga masih akan mencatatkan pertumbuhan moderat.
KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, usai Peluncuran Buku Khutbah Syariah Muamalah PPDP di Jakarta Selatan, Senin (15/12/2025)Proyeksi tersebut ditopang oleh sejumlah faktor, mulai dari stabilitas inflasi, peningkatan aktivitas ekonomi, hingga berbagai kebijakan yang mendukung sektor riil.
“Untuk tahun 2026, tren DPK rumah tangga diperkirakan akan tetap tumbuh moderat, ditopang oleh stabilitas inflasi, peningkatan aktivitas ekonomi, dan kebijakan yang mendukung sektor riil,” ungkap Dian.
Namun demikian, ia mengingatkan, kondisi global yang dinamis dapat sewaktu-waktu memengaruhi proyeksi tersebut.
“Namun mempertimbangkan kondisi geopolitik global yang penuh dinamika, kondisi ini dapat sewaktu-waktu berubah,” sebut dia.
OJK dan KSSK siapkan strategi dorong simpanan masyarakat
Dian mengatakan, OJK terus melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendorong peningkatan simpanan rumah tangga.
Koordinasi tersebut dilakukan bersama Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam kerangka Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
“OJK senantiasa berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan antara lain Bank Indonesia, Kementerian Keuangan dan Lembaga Penjamin Simpanan dalam kerangka Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam rangka mendorong peningkatan DPK rumah tangga,” ujar Dian.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah strategi yang dilakukan untuk mendukung peningkatan simpanan masyarakat di perbankan nasional.
Salah satunya melalui peningkatan inklusi dan literasi keuangan agar masyarakat semakin memahami produk dan manfaat layanan perbankan.
Menurut Dian, peningkatan pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan diharapkan dapat memperkuat budaya menabung.
SHUTTERSTOCK/ELLE AON Ilustrasi tabungan, menabung.Strategi lain yang juga didorong OJK adalah percepatan digitalisasi layanan perbankan, termasuk penguatan layanan mobile banking dan ekosistem sistem pembayaran nasional.
“OJK juga mendorong percepatan digitalisasi layanan perbankan, termasuk mobile banking dan penguatan ekosistem sistem pembayaran, sehingga aktivitas menabung menjadi lebih aman, mudah dan menarik,” kata Dian.
Ia menambahkan, penguatan layanan digital juga diharapkan dapat memperkuat fungsi intermediasi perbankan.
Selain itu, OJK bersama otoritas terkait juga terus menyinergikan kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga daya beli masyarakat tanpa mengurangi kemampuan menabung.
“Selain itu, OJK juga memperkuat fungsi intermediasi, menyinergikan kebijakan fiskal dan moneter, termasuk pemberian stimulus yang tepat sasaran untuk menjaga daya beli tanpa menggerus kemampuan menabung masyarakat,” ujar dia.
Kelas menengah bawah masih menghadapi tekanan
Meski DPK perbankan secara keseluruhan tumbuh positif, kondisi kelompok kelas menengah bawah masih menjadi perhatian.
Kelesuan simpanan kelompok tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap daya beli masyarakat masih berlangsung pada awal tahun ini.
Situasi tersebut terlihat dari belum pulihnya kemampuan sebagian masyarakat untuk meningkatkan tabungan secara signifikan.
Di tengah kondisi tersebut, OJK menilai penguatan aktivitas ekonomi, stabilitas inflasi, serta berbagai stimulus yang tepat sasaran menjadi faktor penting untuk menjaga keseimbangan antara konsumsi dan kemampuan menabung masyarakat.
Selain itu, peningkatan akses terhadap layanan keuangan dan digitalisasi perbankan juga dinilai dapat membantu memperluas partisipasi masyarakat dalam sistem keuangan formal.
Dengan berbagai strategi tersebut, OJK berharap pertumbuhan DPK rumah tangga dapat terus terjaga sepanjang 2026 meski ketidakpastian global masih membayangi perekonomian dunia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#menabung #simpanan #ojk #mengelola-keuangan #kelas-menengah #simpanan-masyarakat