MSCI Soroti Pasar Modal RI: Transparansi dan Saham Gorengan Jadi Isu
MSCI menyoroti pasar modal Indonesia terkait transparansi dan praktik 'saham gorengan'. Meskipun ada catatan, posisi RI di Emerging Market dinilai tetap kuat.
(Kompas.com) 23/06/26 07:40 257172
JAKARTA, KOMPAS.com - Hasil Global Market Accessibility Review periode Juni 2026 yang dirilis Morgan Stanley Capital International (MSCI) memberi sinyal penting bagi pasar modal Indonesia.
Laporan itu dirilis pada Jumat (19/6/2026) WIB, menjelang pengumuman klasifikasi pasar pada Selasa (23/6/2026) hari ini.
Dari total 18 kriteria, Indonesia memperoleh dua penilaian minus atau “-”. Dua kriteria tersebut ialah Foreign Exchange Market Liberalization dan Information Flow.
PEXELS/ROMULO QUEIROZ Ilustrasi saham, pasar saham, bursa saham.Sementara, mayoritas kriteria lain memperoleh penilaian “++”. Penilaian itu menunjukkan posisi Indonesia dalam kelompok Emerging Market masih relatif kuat.
Namun, aspek Foreign Exchange Market Liberalization dan Information Flow juga menentukan seberapa cepat pemulihan pasar setelah gejolak yang berlangsung sejak awal 2026.
Investment Specialist Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menyebut MSCI mendeteksi adanya aktivitas coordinated trading atau perdagangan terkoordinasi pada sejumlah saham.
Dalam catatan MSCI, ada pola transaksi yang dilakukan secara terstruktur dan terencana oleh kelompok tertentu yang mengganggu mekanisme pasar yang sehat, sehingga menghambat proses pembentukan harga wajar (fair price) yang seharusnya mencerminkan fundamental perusahaan.
Praktik coordinated trading inilah menjadi faktor utama di balik penurunan penilaian transparansi pasar modal Indonesia.
Aktivitas menggerakkan harga saham secara terstruktur oleh kelompok tertentu, yang kerap disebut publik sebagai praktik “saham gorengan”, dinilai menciptakan berbagai anomali di pasar.
Kondisi tersebut kemudian dipandang MSCI sebagai faktor yang mengurangi tingkat transparansi dan integritas pasar modal di mata investor institusi global.
PEXELS/HANNA PAD Ilustrasi saham, pasar saham, bursa saham.“Ya betul sekali, praktik coordinated trading inilah yang menjadi pemicu utamanya. Aktivitas penggerakan harga saham secara terstruktur oleh kelompok oknum tertentu atau sebagai praktik "saham gorengan" menciptakan riak anomali yang dinilai MSCI mengurangi tingkat transparansi dan integritas pasar modal kita di mata investor institusi global,” ujar Azharys saat dihubungi Kompas.com, Senin (22/6/2026).
Turunnya penilaian transparansi pasar oleh MSCI tidak perlu disikapi secara berlebihan karena dampaknya terhadap kepercayaan investor asing masih relatif terukur.
Azharys mencatat, Indonesia hanya mengalami penurunan pada satu kriteria penilaian, sementara secara keseluruhan kualitas tata kelola pasar modal nasional masih berada di level yang kompetitif dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia.
Posisi Indonesia sebagai salah satu tujuan utama investasi di kawasan regional juga diperkirakan tidak akan berubah hanya karena penurunan pada satu indikator tersebut.
Menurutnya, investor asing tetap melihat pasar capital market domestik sebagai pasar yang menarik karena didukung ukuran pasar yang besar, likuiditas yang memadai, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang masih kuat.
Karena itu, penurunan penilaian ini lebih tepat dipandang sebagai catatan untuk perbaikan daripada ancaman serius terhadap daya tarik investasi di Indonesia.
“Secara keseluruhan, peringkat tata kelola pasar modal Indonesia masih masuk dalam jajaran salah satu yang terbaik di Asia. Indonesia dipastikan akan tetap menjadi salah satu opsi tujuan investasi utama bagi dana asing yang masuk ke kawasan regional,” paparnya.
Adapun soal akses informasi, termasuk bahasa Inggris, yang dianggap kurang oleh MSCI, Azharys mengatakan penilaian itu perlu dicermati lebih jauh, lantaran secara umum keterbukaan informasi di pasar modal sudah cukup baik.
Laporan keuangan emiten maupun berbagai dokumen keterbukaan informasi dalam bahasa Inggris saat ini telah tersedia secara luas dan relatif mudah diakses oleh investor asing.
PEXELS/IAM HOGIR Ilustrasi saham, pasar saham.Azharys mengaku belum melihat secara spesifik bagian mana atau kelompok emiten tertentu yang dinilai MSCI masih memiliki kekurangan dalam penyediaan informasi berbahasa Inggris.
Namun demikian, catatan MSCI tetap menjadi masukan penting bagi regulator dan pelaku pasar untuk terus meningkatkan kualitas layanan informasi.
Salah satunya memperkuat integrasi sistem pelaporan dan keterbukaan informasi agar lebih mudah diakses, lebih terstandarisasi, serta semakin ramah bagi investor global yang membutuhkan informasi secara cepat dan transparan.
“Kami sendiri belum melihat secara spesifik di bagian mana atau informasi emiten kelas apa yang dinilai MSCI masih kurang. Namun, catatan ini tetap harus direspons dengan peningkatan integrasi sistem pelaporan yang lebih ramah bagi investor global,” pungkas dia.
Bursa Indonesia tetap bertahan di Emerging Market atau turun kasta?
Peluang Indonesia turun dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market diyakini sangat kecil.
Ia optimistis posisi Indonesia akan tetap bertahan dalam kelompok pasar berkembang karena didukung oleh ukuran pasar dan fundamental yang masih kuat dibandingkan negara-negara yang berada di kategori Frontier Market.
Data komparatif yang dirilis MSCI pada 18 Juni menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia secara agregat masih memiliki skala dan karakteristik yang cukup tangguh sehingga belum memenuhi alasan yang kuat untuk diturunkan statusnya.
Perhatian utama pelaku pasar saat ini bukan semata-mata pada penurunan satu indikator tersebut, melainkan pada hasil Global Market Classification Review MSCI yang akan diumumkan pada 24 Juni.
Investor menantikan kepastian mengenai status pembekuan (freeze) sejumlah saham Indonesia yang selama ini menjadi perhatian MSCI.
Jika status pembekuan tersebut berakhir, kondisi itu berpotensi membuka jalan bagi proses penataan ulang portofolio (rebalancing) oleh investor global pada tinjauan indeks MSCI berikutnya.
“Namun esensinya, perhatian utama semua pihak saat ini tertuju pada tanggal 24 Juni nanti. Pasar ingin melihat apakah status pembekuan (freeze) beberapa saham kita akan resmi berakhir, karena hal itu yang akan memicu proses penataan ulang portofolio di review indeks MSCI berikutnya,” lanjutnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#saham-gorengan #pasar-modal #emerging-market #msci #msci-indonesia #msci-review #hasil-review-msci