Aprindo dorong pemangkasan rantai distribusi beras fortifikasi
Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mendorong pemangkasan rantai distribusi beras fortifikasi guna menekan harga jual produk, sehingga lebih ...
(Antara) 24/06/26 16:12 258643
Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mendorong pemangkasan rantai distribusi beras fortifikasi guna menekan harga jual produk, sehingga lebih terjangkau bagi masyarakat dan memperluas akses terhadap pangan bernutrisi.
"Kita akan membantu dari aspek distribusi supaya rantai jejaringnya tidak terlalu panjang, karena kalau semakin panjang proses semakin tinggi biayanya," kata Direktur Eksekutif Aprindo Dasep Suryanto dalam diskusi panel "Making Quality Fortified Rice Affordable in Retail Market" di Jakarta, Rabu.
Menurut Dasep, pemangkasan jalur distribusi dapat dilakukan dengan memperkuat hubungan langsung antara penggilingan padi dan peritel modern sehingga biaya yang muncul di sepanjang rantai pasok dapat ditekan.
Ia mengatakan langkah tersebut diperlukan karena harga beras fortifikasi yang beredar di pasar saat ini masih memiliki rentang yang cukup lebar.
"Saat ini di ritel kita kesulitan mendapatkan beras premium. Yang sekarang ada justru banyak beras fortifikasi, tetapi beras fortifikasi ini harganya range-nya sangat lebar," ujarnya.
Dasep menyebut harga beras fortifikasi di pasar ritel modern saat ini berkisar Rp90 ribu hingga Rp130 ribuan per kemasan lima kilogram (kg).
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi peritel yang ingin menyediakan produk pangan bernutrisi dengan harga yang dapat dijangkau lebih banyak konsumen.
Selain distribusi, Aprindo juga mengusulkan adanya kebijakan yang dapat menjaga rentang harga beras fortifikasi agar tidak terlalu jauh antarproduk yang memiliki kandungan gizi serupa.
"Kita ingin masyarakat dengan mudah mendapatkan beras yang mengandung nutrisi yang cukup, tetapi dengan harga yang terjangkau," ucap dia.
Dasep menambahkan peritel juga siap mendukung edukasi konsumen mengenai manfaat beras fortifikasi agar keputusan pembelian tidak semata-mata didasarkan pada harga produk.
Usulan Aprindo tersebut sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap aspek keterjangkauan harga beras fortifikasi.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah mendorong pengawasan harga beras fortifikasi agar tetap dapat diakses masyarakat luas dan tidak dilepas dengan harga yang terlalu tinggi.
Pemerintah mencatat konsumsi beras masyarakat Indonesia mencapai sekitar 87 kg per kapita per tahun, sehingga beras dinilai menjadi media fortifikasi yang efektif untuk menjangkau masyarakat tanpa mengubah pola konsumsi sehari-hari.
Bapanas juga telah menekankan pengembangan beras fortifikasi perlu didukung kesiapan seluruh rantai pasok, mulai dari industri kernel beras fortifikan, penggilingan padi, sistem distribusi, hingga pengawasan mutu produk.

Sementara itu, Direktur Utama PT Jatim Grha Utama Mirza Muttaqien menilai fondasi regulasi dan standar beras fortifikasi di Indonesia telah tersedia, sehingga fokus berikutnya adalah memperluas adopsi dan pasar produk tersebut.
Ia menyebut pemerintah telah menerbitkan sejumlah regulasi dan standar, termasuk SNI untuk kernel beras fortifikan dan beras fortifikasi, sehingga pelaku usaha memiliki acuan yang lebih jelas dalam pengembangan produk.
"Pertanyaan sekarang adalah bagaimana mempercepat adopsinya, memperluas pasarnya, dan memperbesar dampaknya bagi masyarakat," tutur Mirza.
Ia menjelaskan industri dalam negeri mulai memiliki kapasitas produksi fortified rice kernel (FRK) untuk mendukung pengembangan beras fortifikasi, dengan kapasitas produksi FRK yang tersedia mencapai sekitar 1.000 ton per bulan.
Menurut Mirza, kapasitas tersebut setara dengan sekitar 100 ribu ton beras fortifikasi apabila menggunakan komposisi pencampuran 1 persen FRK dan 99 persen beras sosoh.
Penguatan ekosistem dari hulu hingga hilir, lanjutnya, tetap harus didorong melalui kolaborasi antara pemerintah, industri penggilingan padi, produsen FRK, dan peritel agar distribusi beras fortifikasi semakin luas dan harga produk lebih kompetitif di pasar.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
#beras-fortifikasi #aprindo #ritel #distribusi-pangan #bapanas