Mahasiswa Rentan FOMO dan Impulsif, Literasi Keuangan Kian Penting
Kemampuan mengelola keuangan menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki generasi muda, khususnya mahasiswa.
(Kompas.com) 24/06/26 20:08 258915
JAKARTA, KOMPAS.com – Kemudahan akses layanan keuangan digital dinilai membawa tantangan baru bagi generasi muda, terutama dalam mengelola keuangan secara bijak di tengah maraknya transaksi digital dan tren konsumtif.
Direktur Pengembangan Bisnis perusahaan fintech lending PT Plus Ultra Abadi (UATAS) Shintya Maulida mengatakan, kemampuan mengelola keuangan menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki generasi muda, khususnya mahasiswa yang mayoritas berasal dari generasi Z.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, jumlah Gen Z di Indonesia mencapai sekitar 75 juta jiwa atau hampir 28 persen dari total populasi nasional.
FREEPIK/JCOMP Ilustrasi mengelola keuanganDengan proporsi yang mendekati sepertiga populasi Indonesia, perilaku keuangan generasi ini dinilai akan berpengaruh terhadap kualitas literasi dan kesehatan keuangan nasional pada masa mendatang.
"Di tengah kemudahan digitalisasi sekarang, nyatanya juga memberi tantangan pada generasi muda kaitannya dalam pengelolaan keuangan. Salah satunya sikap gengsi dan FOMO (fear of missing out), lalu kemudahan akses transaksi digital dan impulse buying termasuk di dalamnya tren flash sale dan paylater pun turut menjadi penyebab utama masyarakat kurang bijaksana dalam menggunakan uangnya," ujar Shintya dalam siaran pers diskusi Pindar Mengajar bertajuk Cerdas Mengelola, Bijak Bertransaksi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Malang (UNISMA), Rabu (24/6/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pindar Mengajar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dengan melibatkan pelaku industri teknologi finansial.
Financial wellness tak hanya soal besar penghasilan
Shintya mengatakan, pengelolaan keuangan yang baik sejak usia muda dapat memberikan manfaat bagi berbagai aspek kehidupan di masa depan.
Menurut dia, kebebasan finansial atau financial wellness tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya pendapatan seseorang, melainkan juga kemampuan dalam mengatur pengeluaran, menentukan prioritas, dan mempersiapkan kebutuhan jangka panjang.
"Ketika masyarakat sudah bijak dalam mengatur keuangan sejak dini tentu nanti akan bermanfaat pada setiap aspek masa depan," kata dia.
PEXELS/COTTONBRO STUDIO Ilustrasi mengatur keuangan, membuat resolusi keuangan. Freelancer kerap berhadapan dengan penghasilan naik-turun. Lalu, bagaimana cara agar keuangan tetap stabil tanpa gaji tetap? Berikut tips dan triknyaDalam kesempatan tersebut, Shintya juga membagikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan generasi muda untuk mengendalikan perilaku impulse buying.
Beberapa di antaranya adalah menyusun anggaran bulanan dan menetapkan batas pengeluaran, menghindari berbelanja ketika sedang berada dalam kondisi emosional, serta secara disiplin melakukan evaluasi terhadap pengeluaran secara berkala.
Pinjaman harus disesuaikan dengan kemampuan membayar
Selain membahas pengelolaan keuangan pribadi, UATAS juga memberikan edukasi mengenai penggunaan pinjaman secara bertanggung jawab.
Shintya menekankan, keputusan untuk mengambil pinjaman sebaiknya didasarkan pada kebutuhan yang benar-benar mendesak dan tetap mempertimbangkan kemampuan membayar.
Menurut dia, apabila dana pinjaman digunakan untuk kebutuhan produktif atau kegiatan usaha, maka jangka waktu pinjaman perlu disesuaikan dengan target pemasukan dari bisnis yang dijalankan.
Ia menilai pemahaman tersebut penting agar masyarakat dapat memanfaatkan layanan keuangan secara optimal tanpa menimbulkan risiko keuangan pada masa mendatang.
Pentingnya menjaga keamanan data pribadi
Dalam kegiatan tersebut, UATAS juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga keamanan data pribadi di tengah meningkatnya aktivitas digital masyarakat.
Kesadaran terhadap keamanan data dinilai menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung terciptanya ekosistem keuangan digital yang sehat dan aman.
Sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi, mahasiswa memiliki peluang besar untuk memanfaatkan berbagai layanan digital secara produktif.
"Namun di saat yang sama, mereka juga perlu memahami risiko yang menyertainya agar dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dan bertanggung jawab," ujar Shintya.
FREEPIK/VECTORJUICE Ilustrasi pinjaman online, pinjol, pinjaman daring.Menurut dia, pemahaman mengenai risiko keamanan digital perlu berjalan beriringan dengan peningkatan akses terhadap berbagai layanan keuangan berbasis teknologi.
Literasi keuangan masih menjadi tantangan
Upaya peningkatan edukasi keuangan dinilai masih relevan mengingat tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia belum sepenuhnya sejalan dengan tingkat akses terhadap layanan keuangan.
Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BPS, indeks literasi keuangan masyarakat tercatat sebesar 66,46 persen.
Sementara itu, indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen.
Data tersebut menunjukkan tingkat pemanfaatan layanan keuangan masih lebih tinggi dibandingkan tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan yang digunakan.
Melalui partisipasinya dalam program Pindar Mengajar, UATAS menyatakan ingin mendukung peningkatan literasi dan inklusi keuangan nasional melalui kolaborasi antara industri, dunia pendidikan, regulator, dan masyarakat.
Perusahaan juga menyebut akan terus mendorong berbagai program edukasi yang berkaitan dengan literasi keuangan digital, keamanan data, serta pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab bagi generasi muda.
Adapun berdasarkan data perusahaan, total pendanaan yang telah disalurkan sejak berdiri mencapai Rp 34,27 triliun. Sementara total pendanaan sepanjang tahun berjalan tercatat sebesar Rp 3,52 triliun.
Jumlah akumulasi peminjam (borrower) mencapai 2,95 juta orang dengan jumlah peminjam aktif sebanyak 210.000.
Adapun jumlah peminjam sepanjang tahun berjalan tercatat sebanyak 443.000 orang. Sementara jumlah pemberi dana (lender) sejak perusahaan berdiri tercatat sebanyak 13 pihak.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#konsumtif #transaksi-digital #literasi-keuangan #mengelola-keuangan