Afaliasi UNTR Borong Dua Smelter HPAL di Morowali, Bidik Produsen Nikel Nomor 1

Afaliasi UNTR Borong Dua Smelter HPAL di Morowali, Bidik Produsen Nikel Nomor 1

Entitas asosiasi yang terafiliasi dengan PT United Tractors Tbk (UNTR) mengakuisisi dua smelter nikel di Morowali.

(Katadata) 26/06/26 14:07 260665

Entitas asosiasi PT United Tractors Tbk (UNTR) yaitu Nickel Industries Limited (NIC) memperluas portofolio bisnis pengolahan nikel. Aksi terbaru dengan mengakuisisi saham minoritas di dua proyek smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan NIC di Bursa Efek Australia atau Australian Securities Exchange (ASX), perseroan mengakuisisi 17,5% saham PT Teluk Metal Industry (TMI) senilai US$ 169 juta atau setara Rp 3,03 triliun. Pendanaan akuisisi berasal dari kas internal perusahaan serta opsi pembiayaan utang tambahan dari Shanghai Decent, pemegang saham terbesar Nickel Industries.

Selain itu, Nickel Industries juga akan mengakuisisi 36% saham PT Chengsheng New Energy (CNE) dengan nilai transaksi tersirat mencapai US$ 241,6 juta (Rp 4,33 triliun). Akuisisi tersebut dilakukan melalui mekanisme pertukaran saham (share swap), sehingga perusahaan tidak perlu mengeluarkan dana tunai.

"Pertukaran saham murni tidak memerlukan pendanaan tunai, baik untuk akuisisi maupun belanja modal proyek HPAL CNE," seperti yang ditulis manajemen NIC, dikutip dari keterbukaan informasi ASX, Jumat (26/6).

Direktur Utama Nickel Industries Justin Werner mengatakan perusahaan sejak lama meyakini pentingnya integrasi antara kepemilikan sumber daya bijih nikel dengan fasilitas pengolahan hilir, terutama untuk mendukung perolehan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Menurut dia, skema pertukaran saham antara Proyek Sampala dan proyek HPAL CNE menghasilkan peningkatan valuasi aset hingga 5,4 kali lipat sekaligus memperkuat strategi hilirisasi perusahaan.

"Yang terpenting, skema pertukaran saham ini memungkinkan Nickel Industries terus bertumbuh dengan tetap menjaga disiplin keuangan tanpa memerlukan tambahan modal ekuitas dari luar," kata Justin.

Justin menambahkan, investasi di CNE melengkapi investasi perusahaan di proyek HPAL TMI yang diumumkan pada hari yang sama. Kedua transaksi tersebut memperkuat posisi Nickel Industries sebagai produsen nikel Kelas 1 untuk rantai pasok baterai kendaraan listrik.

"Kami memperoleh eksposur ke bisnis hilir dengan model investasi yang ringan modal (capital-light), dengan biaya sekitar US$ 10.500 per ton melalui monetisasi sebagian kepemilikan di Proyek Sampala. Nilai tersebut jauh lebih rendah dibandingkan proyek-proyek HPAL lain di Indonesia," ujarnya.

Setelah beroperasi penuh, proyek TMI diperkirakan memberikan kontribusi produksi sekitar 6.775 ton nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun kepada Nickel Industries. Proyek tersebut ditargetkan mencapai kapasitas penuh paling lambat pada pertengahan 2027.

Sementara itu, CNE diperkirakan mulai beroperasi pada pertengahan 2027 dengan kapasitas produksi terpasang sebesar 28.357 ton nikel MHP per tahun. Dari kapasitas tersebut, Nickel Industries akan memperoleh porsi produksi sekitar 10.208 ton nikel MHP per tahun.

Dengan demikian, kedua investasi tersebut akan menambah produksi Nickel Industries hampir 17.000 ton nikel MHP per tahun pada saat seluruh proyek telah mencapai kapasitas penuh.

Proyek CNE Terintegrasi dengan Tambang Sampala

CNE merupakan proyek HPAL yang dikembangkan sebagai ekspansi dari proyek Excelsior Nickel Cobalt (ENC) di kawasan IMIP. Proyek ini akan memproduksi MHP sebagai bahan baku industri baterai kendaraan listrik.

Dalam transaksi tersebut, NIC bersama mitra lokal memperoleh hak atas kepemilikan di CNE melalui pertukaran saham dengan sebagian kepemilikan di dua perusahaan pemegang IUP Proyek Sampala, yakni PT Abadi Nikel Nusantara (ANN) dan PT Erabaru Timur Lestari (ETL).

CNE saat ini masih dalam tahap konstruksi dan dijadwalkan mulai memasuki tahap commissioning pada pertengahan 2027. Seluruh biaya pembangunan proyek, termasuk kebutuhan modal kerja, akan ditanggung oleh PT Jaya Agung Investasi (JAYA) melalui pembiayaan eksternal maupun pinjaman pemegang saham. Dengan begitu, Nickel Industries tidak perlu mengeluarkan tambahan belanja modal untuk pembangunan fasilitas tersebut.

Secara strategis, Proyek Sampala akan menjadi pemasok eksklusif bijih nikel bagi CNE maupun TMI. Integrasi ini membuat Nickel Industries tidak hanya menjadi investor di fasilitas HPAL, tetapi juga menjadi pemasok bahan baku utama.

Perusahaan juga menilai investasi hilir di CNE akan memperkuat posisi Proyek Sampala dalam memperoleh alokasi RKAB, mengingat investasi pada fasilitas pemrosesan menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam menetapkan kuota produksi pertambangan.

Selain itu, proyek Sampala akan dihubungkan dengan CNE melalui jaringan pipa slurry dan pipa tailing, serupa dengan sistem terintegrasi yang telah diterapkan antara Tambang Hengjaya dan proyek ENC.

Manajemen NIC menyebut kombinasi investasi di TMI, CNE dan Sampala akan memperkuat diversifikasi perusahaan ke rantai pasok baterai kendaraan listrik melalui kemitraan dengan sejumlah perusahaan besar asal Korea Selatan dan Jepang.

Berdasarkan laporan keuangan PT United Tractors Tbk (UNTR) per kuartal pertama 2026, Nickel Industries merupakan entitas asosiasi perseroan dengan sifat transasksi pendapatan jasa. Pada 2023, UNTR mencaplok 19,99% saham Nickel Industries melalui anak usahanya yaitu PT Danusa Tambang Nusantara (DTN).

Nickel Industries merupakan perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel yang tercatat di Bursa Efek Australia dengan aset utama yang berlokasi di Indonesia, terutama di kawasan Morowali dan Weda Bay.

#untr #update-me

https://katadata.co.id/finansial/bursa/6a3e24ced6801/afaliasi-untr-borong-dua-smelter-hpal-di-morowali-bidik-produsen-nikel-nomor-1