Mengenal Grisna Anggadwita, Dosen Telkom University Pejuang Inklusi Disabilitas

Mengenal Grisna Anggadwita, Dosen Telkom University Pejuang Inklusi Disabilitas

Jumlah penyandang disabilitas di Indonesia masih tergolong besar, namun belum sepenuhnya diiringi dengan kesempatan ekonomi yang setara. Jumlah penyandang disabilitas... | Halaman Lengkap

(SINDOnews Ekbis) 29/01/26 17:49 118807

JAKARTA - Jumlah penyandang disabilitas di Indonesia masih tergolong besar, namun belum sepenuhnya diiringi dengan kesempatan ekonomi yang setara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat, terdapat sekitar 22,97 juta penyandang disabilitas di Tanah Air.

Dari jumlah tersebut, sekitar 17 juta berada pada usia produktif, tetapi hanya sekitar 45 persen yang terserap di dunia kerja. Ironisnya, mayoritas dari mereka, sekitar 83 persen, bekerja di sektor nonformal, sehingga potensi ekonomi yang belum tergarap diperkirakan mencapai 66,7 persen.

Gambaran yang lebih suram juga dirilis International Labour Organization (ILO). Hingga Desember 2024, hampir 90 persen penyandang disabilitas di Indonesia tercatat tidak bekerja atau masih aktif mencari pekerjaan.

Kondisi inilah yang menjadi perhatian serius Grisna Anggadwita, dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University . Selama bertahun-tahun, Grisna aktif melakukan riset sekaligus pendampingan terhadap kelompok minoritas, termasuk penyandang disabilitas.

“Potensi penyandang disabilitas itu sangat besar, tetapi sering kali tidak tergali. Tantangan utama mereka sebenarnya soal akses. Kemampuan mereka bisa setara dengan siapa pun, tinggal apakah diberi kesempatan yang sama atau tidak,” ujar Grisna.

Berangkat dari temuan risetnya, Grisna tak memilih diam. Ia merancang platform pembelajaran khusus bagi penyandang disabilitas, dengan tujuan meningkatkan motivasi dan keterampilan praktis. Upaya tersebut juga diperluas melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi dan berbagai lembaga untuk membangun strategi pemberdayaan yang lebih menyeluruh.

“Pemberdayaan kaum minoritas idealnya melibatkan banyak pihak, bukan berjalan sendiri-sendiri,” katanya.

Konsisten Mengkaji Dunia Kaum Minoritas



Ketertarikan Grisna pada isu kelompok rentan bermula sejak menempuh studi Magister Sains Manajemen di Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2013. Saat itu, ia meneliti kewirausahaan perempuan dan menemukan bahwa kesetaraan gender yang kerap digaungkan belum sepenuhnya terwujud di lapangan.

“Perempuan wirausaha masih menghadapi tantangan besar, tidak hanya ekonomi, tetapi juga dari lingkungan sosial, budaya, hingga aspek keagamaan,” tuturnya.

Penelitian tersebut kemudian dipublikasikan dalam jurnal internasional Journal of Entrepreneurship in Emerging Economies dengan judul Socio-cultural Environments and Emerging Economy Entrepreneurship: Women Entrepreneurs in Indonesia. Dari sana, Grisna semakin menyadari bahwa perempuan masih termasuk kelompok rentan di Indonesia.

Minat risetnya lalu berlanjut pada kelompok yang lebih jarang tersentuh, yakni perempuan mantan warga binaan lembaga pemasyarakatan. Ia sempat melakukan penelitian di lapas di Lampung dan Bandung, meski harus berhadapan dengan tantangan birokrasi serta kuatnya stigma sosial.

“Banyak dari mereka sebenarnya punya potensi besar, tapi terpinggirkan,” ujarnya.

Fokus pada Pemberdayaan Penyandang Disabilitas



Titik balik Grisna menuju isu disabilitas terjadi ketika ia bertemu seorang wirausaha perempuan penyandang disabilitas di Yogyakarta yang memasarkan produk komunitas disabilitas. Dari situ, Grisna melihat langsung besarnya potensi ekonomi, terutama di wilayah pedesaan.

Sebagai alumni Program Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Grisna kemudian melakukan berbagai penelitian kolaboratif. Ia bekerja sama dengan Prof. Nurul Indarti (UGM), Rochmat Aldy Purnomo (Universitas Muhammadiyah Ponorogo), hingga Richard Tomlins dari Coventry University.

Kolaborasi tersebut melahirkan riset tentang kewirausahaan sosial dalam pemberdayaan penyandang disabilitas di Yogyakarta dan Ponorogo yang dipublikasikan di Journal of Social Entrepreneurship. Penelitian lain juga dikembangkan dalam bentuk book chapter terbitan Springer berjudul Gender in Digital Entrepreneurship: Recent Issues in Emerging Countries.

Dari rangkaian riset tersebut, Grisna menemukan satu benang merah: penyandang disabilitas membutuhkan pendampingan yang spesifik dan berkelanjutan, karena setiap individu memiliki kondisi dan tantangan yang berbeda.

“Jenis disabilitas itu sangat beragam, tidak hanya fisik, tapi juga intelektual dan lainnya. Pendekatannya tidak bisa disamaratakan,” jelasnya.

Menurut Grisna, stigma negatif masih menjadi tantangan terbesar. Pandangan bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan terbatas kerap memengaruhi kepercayaan diri mereka sendiri.

“Mereka seperti terpenjara oleh pikiran sendiri. Mindset ini yang akhirnya menghambat pengembangan potensi,” katanya.

Memotivasi Lewat Cerita dan Teknologi



Pengalaman Grisna sebagai tenaga ahli di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 2014 turut membekalinya dalam pengembangan solusi berbasis digital. Saat ini, bersama tim riset Telkom University, ia tengah mengembangkan aplikasi pembelajaran jarak jauh bagi penyandang disabilitas.

Aplikasi tersebut memuat materi praktis seperti pembukuan sederhana dan model usaha, yang dipadukan dengan pendekatan storytelling. Cerita-cerita sukses penyandang disabilitas digunakan untuk membangun motivasi dan kepercayaan diri.

“Storytelling itu menggugah. Dari riset kami, kelompok yang mendapat paparan cerita mengalami peningkatan motivasi,” ujarnya.

Selain itu, Grisna juga menginisiasi pengembangan inkubator usaha khusus disabilitas bekerja sama dengan Lembaga Pemerhati dan Pemberdayaan Penyandang Disabilitas (LPPPD) di Yogyakarta. Program ini diharapkan mendapat dukungan hibah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Dukungan serupa juga datang dari Universitas Telkom, yang tengah membangun pusat disabilitas bagi mahasiswa. Hal ini membuat upaya Grisna semakin terlembaga dan berkelanjutan.

Mengajak Semua Pihak Terlibat



Sebagai penerima National Champion Scholarship Tanoto Foundation 2013, Grisna menilai dukungan beasiswa tersebut berperan besar dalam perjalanan akademiknya. Menurutnya, semangat inklusivitas dan kesetaraan juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Ia pun mengajak semua pihak untuk terlibat dalam pemberdayaan penyandang disabilitas, tidak melulu melalui bantuan finansial, tetapi juga pendampingan, pembinaan, dan pembukaan akses.

“Isu kesetaraan semakin menguat. Akan sangat baik jika semua pihak ikut berperan memberdayakan kaum minoritas,” katanya.

Pengalaman Grisna sebagai visiting researcher di Prancis dan pengamatannya di Swiss juga membuatnya menyadari bahwa fasilitas bagi penyandang disabilitas di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Namun, keterbatasan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup peluang.

“Setiap berinteraksi dengan penyandang disabilitas, saya justru banyak belajar. Mereka berjuang luar biasa dengan keterbatasan yang ada,” pungkasnya.
(nnz)

#disabilitas #penyandang-disabilitas #tanoto-foundation #dosen #telkom-university-telu

https://edukasi.sindonews.com/read/1671375/211/mengenal-grisna-anggadwita-dosen-telkom-university-pejuang-inklusi-disabilitas-1769680901