Tegas! Iran Tidak Akan Tunduk pada AS, Meski Ada Ancaman Serangan
Iran menolak tunduk pada tekanan AS meski ada ancaman serangan militer terkait program nuklir. Ketegangan meningkat di Teluk, namun solusi diplomatik masih diupayakan.
(Bisnis.Com) 23/02/26 11:01 144000
Bisnis.com, ANKARA – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah pada tekanan Amerika Serikat setelah Presiden AS, Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan serangan militer terbatas guna memaksa tercapainya kesepakatan terkait program nuklir Teheran.
Dikutip melalui Aljazeera, Pezeshkian menyebut tekanan dari kekuatan dunia tidak akan membuat Iran menundukkan kepala sedikitpun terhadap negara Paman Sam tersebut.
“Kami tidak akan tunduk dalam menghadapi kesulitan apa pun. Kekuatan dunia berbaris dengan pengecut untuk memaksa kami menundukkan kepala. Sebagaimana kalian tidak menyerah pada kesulitan, kami pun tidak akan menyerah,” katanya di agenda upacara penghormatan bagi atlet Paralimpiade Iran, pada Sabtu (21/2/2026) waktu setempat.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk, dengan Amerika Serikat memperkuat kehadiran militernya. Menurut laporan media AS, Washington telah mengerahkan lebih dari 120 pesawat tempur ke Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir.
Kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford, dilaporkan sedang menuju kawasan tersebut untuk bergabung dengan kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln yang telah lebih dulu ditempatkan di Laut Arab. Penumpukan kekuatan udara ini disebut-sebut sebagai yang terbesar sejak invasi AS ke Irak pada 2003.
Iran dan AS sebelumnya kembali menggelar perundingan tidak langsung mengenai program nuklir Iran di Oman awal bulan ini, sebelum melanjutkan putaran kedua di Swiss pekan lalu. Meski kedua pihak menggambarkan pembicaraan berlangsung positif, belum ada terobosan konkret yang dihasilkan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan solusi diplomatik berada dalam jangkauan dan Iran berencana merampungkan rancangan kesepakatan dalam dua hingga tiga hari ke depan untuk diserahkan kepada Washington.
Namun, di dalam negeri, warga Teheran menunjukkan kekhawatiran akan kemungkinan konflik bersenjata.
Sejumlah warga yang diwawancarai media internasional menyebut kekhawatiran terhadap masa depan anak-anak mereka jika perang benar-benar pecah, sementara pelaku usaha mengeluhkan perlambatan ekonomi yang sudah terasa. Meski demikian, ada pula warga yang optimistis bahwa konfrontasi militer dapat dihindari.
Trump sebelumnya memperingatkan bahwa hal-hal buruk akan terjadi jika tidak ada kesepakatan yang berarti dengan Iran. Dia bahkan menyebut Teheran memiliki waktu 10 hingga 15 hari, maksimal untuk mencapai kesepakatan.
Menanggapi eskalasi tersebut, Iran melalui surat resmi kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menegaskan bahwa penumpukan militer AS tidak boleh dianggap sebagai retorika semata. Teheran menyatakan tidak mencari perang, namun setiap agresi akan dibalas secara tegas dan proporsional.
Ketegangan ini juga memicu kekhawatiran internasional. Sejumlah negara seperti Swedia, Serbia, Polandia, dan Australia telah mengimbau warganya yang berada di Iran untuk meninggalkan negara tersebut guna mengantisipasi potensi konflik regional.
Dengan perundingan yang masih berlangsung dan ancaman militer yang terus digaungkan, Iran dan Amerika Serikat kini berada di persimpangan krusial yang dapat menentukan arah stabilitas kawasan Timur Tengah dalam waktu dekat.
#iran #as #ancaman-serangan #program-nuklir #tekanan-amerika #ketegangan-teluk #kehadiran-militer #kapal-induk #perundingan-nuklir #solusi-diplomatik #konflik-bersenjata #perlambatan-ekonomi #konfronta