BPS: Nilai Tukar Petani Naik, Pemasukan Lebih Besar
NTP Februari naik 1,5% jadi 125,45%, indikasi kesejahteraan petani membaik. Panen raya lebih awal, pemerintah targetkan surplus beras hingga 9 juta ton.
(Kompas.com) 02/03/26 16:10 152160
JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Nilai Tukar Petani (NTP) bulan Februari mencapai 125,45 persen, naik 1,5 persen dibanding Januari kemarin.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik atau BPS Ateng Hartono, mengatakan, kenaikan tersebut dipengaruhi Indeks harga yang Diterima Petani (IT) naik 2,17 persen.
“Masih lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang mengalami kenaikan 0,65 persen,” kata Ateng dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (2/3/2026).
Adapun NTP menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani.
NTP didapatkan dari selisih pendapatan hasil penjualan produk pertanian dengan biaya konsumsi rumah tangga dan produksi pertanian.
Di luar kenaikan margin pemasukan dan biaya produksi, BPS juga mencatat rata-rata nasional harga beras di tingkat grosir dan eceran naik 0,45 persen dan 0,43 persen.
“Adapun rata-rata harga beras di tingkat penggilingan turun 0,33 persen,” ujar Ateng.
Untuk diketahui, NTP bersifat fluktuatif.
NTP turun 1,4 persen dari 125,35 pada Desember 2025 menjadi 123,6 pada Januari 2026.
Penurunan itu justru terjadi ketika harga beras terpantau mengalami kenaikan.
Saat itu, di tingkat penggilingan harga beras terpantau naik 0,75 persen secara bulanan (m to m). Sementara, di tingkat grosir harga beras naik 0,40 persen dan 0,16 persen di tingkat eceran.
Jadwal Panen Raya Maju
Saat ini, petani padi sedang menghadapi masa panen raya.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas), menyebut musim panen raya tahun ini lebih cepat dibanding 2025.
Panen raya dimulai pada Februari, Maret, dan berlanjut sampai April.
Oleh karena itu, ia meminta Perum Bulog memastikan kesiapan untuk menyerap Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebanyak 4 juta ton pada 2026.
“Diperkirakan produksinya lebih tinggi daripada tahun 2026. Sekitar 5-10 persen lebih tinggi lagi,” kata Zulhas di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Senin (12/1/2026).
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, menyebut stok CBP di gudang Bulog saat ini mencapai 3,5 juta ton.
Kementerian Pertanian memproyeksikan produksi beras itu terus naik 15 persen selama bulan Maret.
Jika tren ini terus bertahan sampai akhir bulan, pemerintah memperkirakan stok CBP mencapai 6 juta ton.
“Ini belum pernah terjadi selama kita merdeka, Kalau konsisten hingga akhir tahun, potensi surplus diperkirakan bisa mencapai sekitar 9 juta ton,” tutur Amran, Senin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#nilai-tukar-petani #kesejahteraan-petani #cadangan-beras-pemerintah #panen-raya-beras