RI Masih Bergantung Impor Pangan, Indef Wanti-Wanti Lonjakan Harga Imbas Konflik Global

RI Masih Bergantung Impor Pangan, Indef Wanti-Wanti Lonjakan Harga Imbas Konflik Global

Indef menyoroti Indonesia masih ketergantungan impor sejumlah komoditas pangan hingga berisiko memicu lonjakan harga di tengah memanasnya kondisi geopolitik.

(Bisnis.Com) 06/03/26 15:36 157171

Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menyoroti Indonesia masih ketergantungan impor sejumlah komoditas pangan hingga berisiko memicu lonjakan harga di tengah memanasnya kondisi geopolitik.

Tauhid menyebut salah satu komoditas pangan yang masih bergantung pada impor ialah kedelai. Dia memaparkan bahwa sekitar 80% kebutuhan kedelai Indonesia masih bergantung kepada impor.

Hal ini disampaikan Tauhid saat ditemui usai agenda rilis hasil penelitian US–Indonesia Agreement on Reciprocal Tariff di Jakarta, Kamis (5/3/2026). Dia menanggapi pertanyaan terkait komitmen impor komoditas pertanian dari Amerika Serikat (AS) ke Indonesia di tengah wacana swasembada kedelai pemerintah.

“Kalau impor itu lebih dari 70% atau 80% ya. Kedelainya masih jauh ya [untuk swasembada], karena kalau saya lihat untuk industri tempe itu sebagian besar impor, enggak bisa pakai kedelai lokal,” kata Tauhid.

Menurutnya, rencana pemerintah untuk mencanangkan swasembada pangan masih membutuhkan waktu panjang apabila mencakup seluruh kebutuhan.

Dia juga menyinggung potensi fluktuasi harga komoditas pangan di tengah gejolak geopolitik global, terutama imbas serangan Israel dan AS ke Iran belum lama ini.

Kendati situasi perang lebih berdampak langsung terhadap harga komoditas energi, Tauhid menggarisbawahi bahwa lonjakan harga pangan yang diperoleh dari impor juga mesti diwaspadai. Hal ini berlaku untuk Indonesia yang memiliki ketergantungan impor kedelai hingga gandum.

“Jangan sampai kenaikannya itu tidak bisa diantisipasi gitu. Mungkin kalau [komoditas produksi] lokal tidak masalah, tetapi yang impor seperti harga kedelai pasti naik, kemudian gandum, itu pasti ikut-ikutan naik,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menjelaskan bahwa sebagian besar produk pertanian yang akan banyak diimpor dari Negeri Paman Sam imbas kesepakatan tarif merupakan bahan baku yang tidak tersedia di dalam negeri, seperti kedelai dan gandum.

Dengan mempermudah impor bahan baku tersebut, dia menyebut bahwa biaya produksi di dalam negeri akan turut turun, sehingga harga komoditas pangan dapat lebih terjaga.

“Kedelai kan kita juga butuh, kita impor terbesar dari Amerika. Kalau kita tidak mempermudah [impor], itu justru menyusahkan industri kita. Gandum juga kita butuh, karena kita tidak punya,” kata Budi saat berjumpa wartawan di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Jumat (20/2/2026).

#impor-pangan #impor-kedelai #impor-gandum #harga-pangan #kedelai-impor #kebutuhan-kedelai #swasembada-kedelai #impor-kedelai-indonesia #kedelai-lokal #harga-kedelai #komoditas-pangan #impor-gandum #ha

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260306/12/1958374/ri-masih-bergantung-impor-pangan-indef-wanti-wanti-lonjakan-harga-imbas-konflik-global