Inflasi China Melonjak ke Level Tertinggi dalam 3 Tahun, Ditopang Imlek dan Harga Minyak
Inflasi China melonjak ke level tertinggi dalam 3 tahun pada Februari 2026, didorong oleh kenaikan harga energi dan belanja selama Imlek. Konflik AS-Iran turut mempengaruhi harga minyak.
(Bisnis.Com) 09/03/26 11:50 158953
Bisnis.com, JAKARTA — Inflasi China meningkat ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun pada Februari 2026, didorong lonjakan harga energi serta peningkatan belanja rumah tangga selama libur Tahun Baru Imlek yang jatuh lebih lambat dari biasanya.
Berdasarkan data Biro Statistik Nasional (NBS) yang dikutip dari Bloomberg pada Senin (9/3/2026), consumer price index atau CPI China naik 1,3% (year on year/YoY) pada Februari 2026, lebih tinggi dari kenaikan 0,2% pada Januari. Angka tersebut juga melampaui median proyeksi ekonom yang disurvei Bloomberg sebesar 0,9%.
Sementara itu, penurunan harga produsen (producer price index/PPI) menyempit menjadi 0,9% secara tahunan, penurunan terkecil sejak Juli 2024, meskipun masih mencatat kontraksi selama 41 bulan berturut-turut. Adapun inflasi inti—yang tidak memasukkan komponen bergejolak seperti makanan dan energi—mencapai 1,8%, tertinggi sejak 2019.
China diperkirakan memasuki fase reflasi secara bertahap pada tahun ini setelah mengalami periode penurunan harga paling panjang dalam beberapa dekade. Lonjakan belanja selama libur panjang Imlek diduga mendorong kenaikan sejumlah harga konsumen, seiring tanda-tanda meredanya tekanan deflasi di sektor manufaktur dan jasa.
Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran juga ikut mendorong kenaikan harga minyak global serta berpotensi mengganggu pasokan impor minyak mentah diskon yang selama ini dinikmati China. Harga minyak acuan global Brent sempat melonjak hingga 24% mendekati US$115 per barel pada Senin (9/3/2026).
Jika harga minyak bertahan di kisaran US$100 per barel sepanjang tahun ini, ekonom Barclays Plc memperkirakan inflasi konsumen China dapat naik sekitar 0,3 poin persentase dibandingkan proyeksi mereka saat ini sebesar 0,4%.
Ahli statistik NBS Dong Lijuan menyatakan dampak konflik geopolitik global terhadap harga energi mulai terlihat. Menurutnya, harga bahan bakar domestik China naik 3,1% secara bulanan pada Februari, meskipun masih mencatat penurunan tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, kenaikan inflasi konsumen pada Februari diperkirakan bersifat sementara karena dipengaruhi faktor musiman terkait perayaan Tahun Baru Imlek. Pada 2025, libur tersebut berlangsung dari 28 Januari hingga 4 Februari 2026, sementara pada tahun ini seluruh periode libur jatuh pada Februari 2026.
Sejumlah komoditas dan layanan terkait libur mengalami kenaikan harga signifikan. Tiket penerbangan, sewa transportasi, biaya agen perjalanan, layanan hewan peliharaan, serta perawatan kendaraan mencatat kenaikan harga dua digit secara tahunan.
Harga pangan juga meningkat 1,7% secara tahunan pada Februari, berbalik dari penurunan 0,7% pada Januari 2026, dipicu lonjakan harga sayuran segar, daging sapi, daging domba, serta buah-buahan. Sementara itu, penurunan harga bahan bakar kendaraan menyempit menjadi 9% dari sebelumnya 10,4% pada Januari 2026.
Kenaikan harga emas turut berkontribusi terhadap inflasi. Harga perhiasan emas melonjak 76,6% secara tahunan pada Februari 2026, hampir sama dengan kenaikan pada bulan sebelumnya.
Pemerintah China mempertahankan target inflasi konsumen tahun ini di level 2%. Target tersebut lebih dipandang sebagai batas atas daripada sasaran utama, setelah sebelumnya diturunkan tahun lalu untuk mencerminkan tekanan deflasi. Sepanjang 2025, inflasi konsumen tercatat stagnan, menjadi yang terlemah sejak 2009.
Pekan lalu, para pemimpin China menyampaikan komitmen paling kuat sejauh ini untuk mengakhiri deflasi dengan janji mengarahkan tingkat harga secara umum kembali ke wilayah positif pada tahun ini. Selain Jepang yang dikenal dengan periode stagnasi panjangnya, hanya sedikit ekonomi besar yang mengalami deflasi berkepanjangan sejak Perang Dunia II.
Tekanan deflasi di China telah berlangsung sejak berakhirnya pandemi, terutama akibat krisis berkepanjangan di sektor properti serta lemahnya permintaan konsumen.
Meski fokus kebijakan mulai bergeser, langkah pemerintah sejauh ini masih terukur.
Sejak Juli 2025 lalu, Beijing berupaya menekan persaingan berlebihan di sejumlah industri sambil memastikan stabilitas lapangan kerja.
Pemerintah juga meningkatkan upaya mengatasi kelebihan kapasitas produksi. Dalam pembukaan sidang legislatif nasional pekan lalu, perencana ekonomi menyoroti industri baja dan penyulingan minyak dengan komitmen untuk melakukan pengurangan kapasitas secara teratur.
Dong menambahkan kenaikan harga global logam non-besi dan minyak mentah turut mendorong kenaikan biaya di berbagai sektor industri, termasuk ekstraksi gas dan minyak bumi.
Kampanye pemerintah untuk menekan persaingan berlebihan—dikenal sebagai kebijakan “anti-involution”—juga mulai menunjukkan hasil. Harga baterai lithium-ion naik 0,2% secara tahunan, menjadi kenaikan pertama setelah sebelumnya turun selama 33 bulan berturut-turut.
Ekonom China di Capital Economics Zichun Huang menyebut pemulihan inflasi konsumen bulan lalu sebagian besar didorong faktor sementara, seperti meredanya deflasi harga minyak serta volatilitas harga pangan dan pariwisata selama libur Imlek.
“Ketegangan di Timur Tengah akan mendorong inflasi lebih tinggi selama harga energi global tetap berada pada level tinggi,” ujarnya.
#inflasi-china #harga-minyak #cpi-china #harga-energi #belanja-imlek #harga-konsumen #reflasi-china #harga-pangan #harga-emas #inflasi-konsumen #harga-bahan-bakar #harga-global #harga-logam #harga-pari