Pasar Domestik Direbut Impor, Industri Kulit Garut Kian Kehilangan Daya
Industri kulit Garut tertekan produk impor dan teknologi usang. Pemda Garut berkolaborasi dengan IPB dan Australia-Indonesia Centre untuk revitalisasi.
(Bisnis.Com) 10/03/26 12:02 160225
Bisnis.com, GARUT- Industri kulit yang selama puluhan tahun menjadi identitas ekonomi Kabupaten Garut mulai menghadapi tekanan serius akibat persaingan produk impor, keterbatasan teknologi produksi, serta minimnya akses ke pasar global.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah mencari strategi baru agar sektor unggulan tersebut tidak semakin tertinggal.
Bupati Garut,Abdusy Syakur Amin, mengatakan industri kulit Garut saat ini berada pada titik penting yang membutuhkan pembenahan menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.
Menurutnya, tanpa perubahan signifikan, industri yang pernah berjaya itu berpotensi semakin terdesak oleh produk kulit dari luar negeri.
“Kami melihat sektor industri kulit di Garut memiliki potensi besar, tetapi juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Karena itu kami membuka kerja sama dengan berbagai pihak agar sektor ini bisa kembali berkembang dan mampu bersaing,” ujar Syakur, Selasa (10/3/2026).
Ia menjelaskan, salah satu persoalan utama yang dihadapi pelaku usaha kulit di Garut adalah derasnya arus produk impor yang masuk ke pasar domestik.
Produk-produk tersebut dinilai memiliki keunggulan dari sisi desain, teknologi produksi, hingga efisiensi biaya yang sulit ditandingi oleh industri lokal yang masih didominasi usaha kecil dan menengah.
Menurut Syakur, kondisi tersebut membuat banyak pengrajin dan produsen kulit di Garut kesulitan mempertahankan pangsa pasar. Jika tidak segera diantisipasi, bukan tidak mungkin sektor industri yang selama ini menjadi kebanggaan daerah itu akan semakin kehilangan daya saing.
Selain tekanan dari produk impor, masalah lain yang masih membayangi industri kulit Garut adalah teknologi produksi yang relatif tradisional.
Banyak pelaku usaha masih mengandalkan metode produksi lama yang belum sepenuhnya efisien dan belum mampu memenuhi standar kualitas pasar internasional.
“Kami menyadari sebagian besar proses produksi masih menggunakan teknologi yang sederhana. Ini tentu memengaruhi kualitas, kapasitas produksi, hingga kemampuan untuk memenuhi standar pasar global,” kata Syakur.
Padahal, menurutnya, peningkatan teknologi menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong daya saing industri. Tanpa modernisasi produksi, pelaku usaha akan sulit meningkatkan kualitas produk sekaligus menekan biaya produksi.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah keterbatasan akses pasar global. Selama ini sebagian besar produk kulit Garut masih beredar di pasar domestik, sementara penetrasi ke pasar ekspor masih sangat terbatas.
Syakur menilai, kondisi tersebut bukan semata karena kualitas produk, tetapi juga berkaitan dengan jaringan pemasaran, standar ekspor, hingga keterbatasan informasi pasar internasional yang dimiliki pelaku usaha.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten Garut mulai menjajaki kolaborasi dengan kalangan akademisi dan lembaga internasional. Salah satunya melalui kerja sama denganIPB UniversitysertaAustralia-Indonesia Centreyang diharapkan dapat memperkuat pengembangan industri kulit di daerah itu.
Syakur mengatakan kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan konsep pengembangan industri yang lebih terintegrasi, termasuk melalui kajian akademik mengenai persoalan yang dihadapi sektor kulit Garut saat ini.
“Kami berharap kerja sama ini dapat membantu mengidentifikasi berbagai permasalahan yang ada di sektor industri kulit, sekaligus merumuskan solusi yang lebih komprehensif agar industri ini bisa berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah tidak ingin industri kulit Garut hanya bertahan sebagai simbol sejarah ekonomi daerah, tetapi juga mampu berkembang menjadi sektor industri yang modern dan berorientasi ekspor.
Menurut Syakur, jika pembenahan dilakukan secara serius, industri kulit Garut masih memiliki peluang besar untuk kembali bersaing, bahkan menembus pasar global.
“Kami ingin industri kulit Garut tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga mampu menjangkau pasar internasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata dia.
#industri-kulit #kulit-garut #produk-impor #pasar-domestik #teknologi-produksi #pasar-global #daya-saing #usaha-kecil-menengah #modernisasi-produksi #akses-pasar-global #kolaborasi-akademisi #standar-e