El Nino Berpotensi Muncul September, Waspada Risiko Karhutla di Indonesia Meningkat
El Nino diprediksi muncul September 2026 dan meningkatkan risiko karhutla di Indonesia.
(Bisnis.Com) 13/03/26 11:32 163991
Bisnis.com, JAKARTA — Lembaga prakiraan cuaca Amerika Serikat memperkirakan fenomena El Nino berpotensi muncul di Samudra Pasifik pada September. Fenomena ini berisiko meningkatkan suhu global serta mengganggu produksi pertanian dalam beberapa bulan mendatang.
Ilmuwan dari US Climate Prediction Center memperkirakan peluang terbentuknya El Nino mencapai sekitar 62% pada musim panas di Belahan Bumi Utara dan meningkat pada periode musim gugur.
Fenomena pemanasan suhu laut tersebut diperkirakan akan menambah tekanan pemanasan pada bumi yang saat ini sudah mengalami kenaikan suhu karena perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia.
Meteorolog dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), Nat Johnson, mengatakan dampak El Nino terhadap pola cuaca global biasanya meluas dan dapat berlangsung selama satu tahun atau lebih.
Menurutnya, risiko kebakaran hutan cenderung meningkat ketika kekeringan meluas di sejumlah negara seperti Australia, Indonesia, dan Afrika Selatan.
Sementara itu di Amerika Serikat, fenomena ini umumnya berkaitan dengan curah hujan tinggi di wilayah tenggara serta suhu di atas rata-rata di bagian utara negara tersebut.
Johnson menyebut sinyal kemunculan El Nino saat ini tergolong kuat, meski para peramal cuaca masih memiliki ketidakpastian terkait intensitasnya karena hasil model prakiraan yang berbeda-beda.
“Kami tidak menutup kemungkinan fenomena ini menjadi sangat kuat, tetapi masih terlalu dini untuk memastikan tingkat kekuatannya,” ujarnya, dikutip dari Bloomberg, Jumat (13/3/2026).
Dalam sejumlah kejadian sebelumnya, El Nino dikaitkan dengan pola cuaca ekstrem seperti hujan lebat dan kekeringan yang memengaruhi produksi komoditas global.
Fenomena ini pernah berdampak pada hasil panen kopi di Vietnam, produksi kedelai di Brasil, serta produksi kakao di berbagai wilayah Afrika.
Selain itu, peningkatan suhu laut global juga berpotensi menekan sektor perikanan dan memicu pemutihan terumbu karang.
El Nino juga biasanya menekan aktivitas badai di Samudra Atlantik, tetapi sebaliknya dapat meningkatkan aktivitas badai di Samudra Pasifik bagian timur.
El Nino sendiri merupakan bagian dari siklus iklim El Nino–Southern Oscillation (ENSO) yang terdiri atas fase pemanasan El Nino dan fase pendinginan La Niña.
Pada 2025, sistem tersebut menghasilkan La Niña lemah yang memicu gelombang udara dingin dari Arktik serta meningkatkan curah salju di sejumlah wilayah Amerika Serikat. La Niña juga dikaitkan dengan banjir besar di wilayah selatan Afrika.
Menurut Climate Prediction Center, sisa pengaruh La Niña diperkirakan akan melemah dan menghilang pada April tahun ini.
#el-nino #risiko-karhutla #suhu-global #perubahan-iklim #cuaca-ekstrem #produksi-pertanian #kebakaran-hutan #kekeringan-indonesia #curah-hujan-tinggi #suhu-laut-global #pemutihan-terumbu-karang #aktivi