Big Caps Unjuk Gigi di 2025, Cek Rekomendasi Saham saat Stock Picking
Kinerja emiten big caps 2025 kuat, didukung sektor bank dan komoditas. Cek rekomendasikan stock picking 2026 dengan strategi barbell.
(Bisnis.Com) 31/03/26 14:37 177585
Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah emiten berkapitalisasi besar di atas Rp100 triliun tercatat telah mengeluarkan laporan keuangannya sampai akhir Maret ini. Kinerja emiten-emiten big caps ini menunjukkan tren yang kuat, dengan strategi stock picking terhadap sejumlah saham tertentu menjadi rekomendasi untuk tahun ini.
Direktur Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang menjelaskan kinerja emiten berkapitalisasi pasar besar atau big caps di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan tren yang kuat, meski tidak merata antar sektor.
“Kinerja big caps 2025 cukup kuat, ditopang oleh emiten bank dan komoditas,” ujar Edwin, Selasa (31/3/2026).
Edwin melanjutkan secara makro, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan signifikan sekitar 18% sepanjang 2025 dan mencetak sejumlah rekor all-time high. Penguatan ini menurutnya ditopang arus dana asing yang kembali masuk, stabilitas ekonomi domestik, serta kinerja solid emiten-emiten besar.
Edwin menuturkan momentum tersebut bahkan berlanjut hingga awal 2026, dengan IHSG kembali mencetak level tertinggi baru.
Sementara itu, apabila mencermati level sektoralnya, menurutnya sektor perbankan tetap menjadi backbone IHSG dan kontributor utama kapitalisasi pasar, dengan kinerja yang relatif resilien. Hal ini karena pertumbuhan kredit stabil dan Net Interest Margin (NIM) masih terjaga.
Namun, kata dia, mulai terlihat adanya moderasi pertumbuhan laba karena high base effect dan tekanan pada cost of fund dan kualitas aset.
Edwin juga menuturkan sektor energi dan komoditas menjadi top performer pada 2025 didukung oleh harga komoditas yang relatif tinggi dan narasi hilirisasi di sektor nikel, tembaga, dan mineral. Edwin juga menjelaskan saham AMMN bahkan mencatatkan lonjakan kapitalisasi pasar paling tinggi di antara big caps.
Saham lain yang juga memiliki kapitalisasi pasar besar yaitu saham-saham teknologi dan infrastruktur. Menurutnya, saham-saham di sektor ini tetap memiliki growth, tetapi valuasi telah relatif mahal dan sensitif terhadap suku bunga global.
Sementara itu, saham-saham konglomerasi dan industrial plays menurutnya cenderung stabil karena diversifikasi bisnis, dan dukungan ekosistem usaha. Saham-saham ini diproyeksi akan tetap solid jika fundamental kuat.
Adapun untuk proyeksi kinerja 2026, Edwin memperkirakan laba emiten-emiten big caps ini masih akan tetap tumbuh, tetapi lebih selektif. Pendorong utama pertumbuhan kinerja emiten-emiten tersebut adalah pertumbuhan ekonomi domestik, suku bunga global, harga komoditas, hingga kebijakan pemerintah terkait hilirisasi dan infrastruktur.
“Tahun 2026 adalah tahun stock-picking, bukan lagi broad rally seperti 2025,” ucap Edwin.
Adapun Edwin menuturkan strategi yang optimal adalah barbell strategy, dengan saham-saham defensif seperti saham bank big cap dan cyclical. Sejumlah saham big caps yang menjadi pilihan Edwin untuk tahun 2026 ini adalah BBCA, BMRI, AMMN, BREN, dan BRMS.
Dia menjelaskan strategi investasi yang direkomendasikan saat ini adalah overweight pada saham big banks, neutral di saham telekomunikasi dan infra, serta tactical di saham komoditas.
Edwin juga mengingatkan investor untuk mewaspadai volatilitas global, geopolitik, serta perubahan arah suku bunga akibat naiknya harga crude oil yang berpotensi menaikkan inflasi.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#big-caps #kinerja-emiten #stock-picking #emiten-bank #emiten-komoditas #ihsg-2025 #arus-dana-asing #sektor-perbankan #pertumbuhan-kredit #sektor-energi #harga-komoditas #saham-teknologi #saham-infrast