UNDP: Konflik Timur Tengah Pangkas Ekonomi Arab hingga Rp 3.291 T

UNDP: Konflik Timur Tengah Pangkas Ekonomi Arab hingga Rp 3.291 T

Eskalasi konflik di Timur Tengah yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir diperkirakan menghapus capaian pertumbuhan ekonomi kawasan Arab.

(Kompas.com) 01/04/26 09:19 178324

JAKARTA, KOMPAS.com – Eskalasi konflik di Timur Tengah yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir diperkirakan menghapus capaian pertumbuhan ekonomi kawasan Arab yang telah dibangun selama lebih dari satu tahun terakhir.

Laporan terbaru dari United Nations Development Programme (UNDP) menyebutkan, dampak konflik tersebut berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi dalam skala besar, sekaligus meningkatkan angka kemiskinan dan pengangguran di kawasan.

Dalam rilis resmi yang diterbitkan Selasa (31/3/2026), UNDP memperkirakan bahwa eskalasi militer di kawasan Timur Tengah yang kini memasuki minggu kelima dapat memangkas Produk Domestik Bruto (PDB) kawasan Arab sebesar 3,7 persen hingga 6,0 persen.

AFP/KAWNAT HAJU Ledakan di salah satu bangunan Lebanon yang diserang Israel di Desa Abbasiyyeh, 13 Maret 2026. Israel menyerang Hizbullah di Lebanon dalam lanjutan perang Iran yang meluas di Timur Tengah.

Kerugian tersebut setara dengan 120 miliar dollar AS hingga 194 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 2.036 triliun hingga Rp 3.291 triliun (asumsi kurs Rp 16.968 per dollar AS).

Nilai ini bahkan melampaui total pertumbuhan ekonomi kawasan yang dicapai sepanjang tahun 2025.

Selain itu, konflik juga diperkirakan menyebabkan lonjakan pengangguran hingga 4 poin persentase, dengan potensi kehilangan sekitar 3,6 juta lapangan kerja.

Angka ini lebih besar dibandingkan total pekerjaan yang berhasil diciptakan di kawasan tersebut sepanjang 2025.

Jutaan orang terancam jatuh miskin

Dampak sosial dari konflik tidak kalah signifikan. UNDP memperkirakan hingga 4 juta orang di kawasan Arab dapat terdorong ke dalam kemiskinan akibat memburuknya kondisi ekonomi.

Laporan tersebut menyoroti bahwa guncangan ekonomi akibat konflik dapat dengan cepat memperburuk kondisi sosial, terutama di wilayah yang sudah memiliki tingkat kerentanan tinggi.

PLANET LABS PBC via AFP Citra satelit dari Planet Labs PBC memperlihatkan sisa kebakaran dari serangan Iran di Dubai, Uni Emirat Arab, Minggu (1/3/2026). Iran menargetkan pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah untuk membalas serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

“Temuan kami menunjukkan kebutuhan mendesak untuk memperkuat kolaborasi regional guna mendiversifikasi ekonomi, melampaui ketergantungan pada hidrokarbon,” ujar Asisten Sekretaris Jenderal PBB sekaligus Direktur Biro Regional Negara Arab UNDP, Abdallah AlDardari.

Ia menambahkan, kawasan perlu memperluas basis produksi, mengamankan sistem perdagangan dan logistik, serta memperluas kemitraan ekonomi untuk mengurangi paparan terhadap guncangan dan konflik.

Dampak tidak merata di tiap subwilayah

UNDP mencatat, dampak ekonomi konflik tidak terjadi secara merata di seluruh kawasan Arab. Besarnya dampak sangat bergantung pada struktur ekonomi masing-masing subwilayah.

Kerugian ekonomi terbesar diperkirakan terjadi di kawasan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) dan Levant, yang sangat bergantung pada perdagangan internasional dan stabilitas pasar energi.

Di kedua wilayah tersebut, PDB diperkirakan menyusut antara 5,2 persen hingga 8,5 persen di GCC dan 5,2 persen hingga 8,7 persen di Levant.

Penurunan ini dipicu oleh gangguan perdagangan, volatilitas harga energi, serta menurunnya investasi dan aktivitas ekonomi.

Sementara itu, Afrika Utara diperkirakan mengalami dampak yang lebih moderat, meskipun tetap signifikan dalam nilai absolut.

Levant jadi episentrum lonjakan kemiskinan

Wilayah Levant menjadi kawasan yang paling terdampak dari sisi sosial, terutama dalam hal peningkatan kemiskinan.

UNDP memperkirakan tingkat kemiskinan di wilayah tersebut akan meningkat sekitar 5 persen, dengan tambahan 2,85 juta hingga 3,30 juta orang jatuh miskin. Angka ini mencakup lebih dari 75 persen dari total peningkatan kemiskinan di seluruh kawasan Arab.

FREEPIK/JCOMP Ilustrasi kemiskinan, warga miskin, tuna wisma.

Kondisi ini menunjukkan, dampak konflik tidak hanya bersifat makroekonomi, tetapi juga langsung memengaruhi kesejahteraan masyarakat, terutama di negara-negara dengan tingkat kerentanan yang tinggi.

Indeks pembangunan manusia turun

Selain indikator ekonomi, konflik juga berdampak pada penurunan kualitas pembangunan manusia.

UNDP memperkirakan Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index/HDI) di kawasan Arab akan turun sekitar 0,2 persen hingga 0,4 persen. Penurunan ini setara dengan kemunduran pembangunan selama sekitar setengah tahun hingga hampir satu tahun.

Penurunan HDI mencerminkan memburuknya berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk kesehatan, pendidikan, dan pendapatan.

Simulasi dampak konflik di Timur Tengah dan jalur transmisi ekonomi

Dalam analisisnya, UNDP menggunakan pendekatan Computable General Equilibrium (CGE) untuk mengukur dampak konflik terhadap perekonomian kawasan.

Model ini mengidentifikasi beberapa jalur utama transmisi dampak, antara lain peningkatan biaya perdagangan, penurunan produktivitas sementara, serta kerusakan modal di wilayah terdampak konflik.

UNDP juga menyusun lima skenario simulasi, mulai dari gangguan moderat hingga skenario ekstrem yang mencakup lonjakan biaya perdagangan hingga 100 kali lipat dan penghentian produksi hidrokarbon.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa bahkan konflik jangka pendek dapat memicu dampak ekonomi yang luas dan berkepanjangan, terutama di kawasan dengan kerentanan struktural tinggi.

Peringatan atas kerentanan struktural kawasan

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa dampak besar dari konflik tidak terlepas dari kerentanan struktural yang telah lama ada di kawasan Arab.

Unsplash/Raff Liu Ilustrasi kilang minyak.

Ketergantungan pada sektor energi, khususnya hidrokarbon, serta keterbatasan diversifikasi ekonomi membuat kawasan ini lebih rentan terhadap guncangan eksternal, termasuk konflik geopolitik.

Selain itu, keterbatasan dalam sistem perdagangan dan logistik turut memperbesar dampak gangguan terhadap aktivitas ekonomi.

UNDP menilai bahwa kondisi ini memungkinkan konflik militer yang relatif singkat sekalipun dapat menghasilkan dampak sosial-ekonomi yang luas dan bertahan dalam jangka panjang.

Konflik picu titik balik kebijakan ekonomi

Menurut UNDP, krisis yang terjadi saat ini dapat menjadi titik balik penting bagi negara-negara di kawasan dalam merumuskan ulang kebijakan pembangunan.

“Krisi ini membunyikan alarm bagi negara-negara di kawasan untuk mengevaluasi kembali pilihan strategis kebijakan fiskal, sektoral, dan sosial mereka,” kata AlDardari.

Ia menegaskan, situasi ini merupakan momen penting dalam menentukan arah pembangunan kawasan ke depan.

Tekanan tambahan terhadap sistem ekonomi kawasan

Secara keseluruhan, laporan UNDP menggambarkan konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga menyebar ke seluruh kawasan melalui berbagai saluran ekonomi.

Gangguan perdagangan, fluktuasi harga energi, serta penurunan investasi menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi ekonomi regional.

Dengan skala kerugian yang mencapai ribuan triliun rupiah, serta dampak sosial yang luas, konflik ini berpotensi menghapus capaian pembangunan yang telah diraih dalam beberapa tahun terakhir.

UNDP menekankan, tanpa langkah mitigasi yang tepat, dampak ekonomi dan sosial dari konflik ini dapat bertahan dalam jangka panjang dan memperdalam ketimpangan di kawasan Arab.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#undp #pertumbuhan-ekonomi #indepth #konflik-di-timur-tengah #kawasan-timur-tengah #kawasan-arab

https://money.kompas.com/read/2026/04/01/091900126/undp--konflik-timur-tengah-pangkas-ekonomi-arab-hingga-rp-3.291-t