Ekonomi Global Terancam Stagflasi, IMF Soroti Dampak Perang Iran
IMF memperingatkan, ekonomi global akan menghadapi tekanan inflasi yang lebih tinggi disertai perlambatan pertumbuhan sebagai dampak dari perang Iran.
(Kompas.com) 07/04/26 18:29 184265
WASHINGTON, KOMPAS.com — Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan, ekonomi global akan menghadapi tekanan inflasi yang lebih tinggi disertai perlambatan pertumbuhan sebagai dampak dari perang Iran.
Kondisi tersebut dinilai tak terhindarkan dan berpotensi mengubah proyeksi ekonomi global yang sebelumnya lebih optimistis.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, mengatakan dampak konflik telah menggeser arah ekonomi dunia secara signifikan.
Freepik Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.“Semua jalan sekarang mengarah ke harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat,” ujar Georgieva dalam wawancara dengan Reuters, Senin (6/4/2026) malam waktu setempat, dikutip dari CNBC, Selasa (7/4/2026).
Sebelum konflik pecah, IMF memperkirakan akan sedikit menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,3 persen pada 2026 dan 3,2 persen pada 2027.
Namun, ekspektasi tersebut kini berubah setelah perang Iran memicu guncangan besar terhadap perekonomian dunia.
Menurut Georgieva, dampak konflik tidak hanya bersifat jangka pendek dan diperkirakan akan terus terasa bahkan jika perang berakhir dalam waktu dekat.
Salah satu faktor utama adalah terganggunya pasokan energi global. Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran enam pekan lalu memicu penutupan efektif Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi distribusi energi dunia.
Penutupan tersebut sempat menghentikan aktivitas pelayaran di kawasan Teluk. Meski kini lalu lintas kapal mulai kembali, volumenya masih jauh di bawah kondisi normal.
Data S&P Global Market Intelligence menunjukkan, sebanyak delapan kapal tanker melintas pada Senin, meningkat dibandingkan rata-rata kurang dari dua kapal per hari pada Maret 2026.
PIXABAY/TED ERSKI Ilustrasi kapal tanker. Jalur perdagangan minyak tersibuk di dunia.Namun, angka ini masih jauh dari rata-rata sebelum perang, yakni sekitar 20 juta barrel minyak mentah dan produk energi yang melintas setiap hari sepanjang 2025.
IMF mencatat, pasokan minyak global telah berkurang sebesar 13 persen akibat konflik di Timur Tengah tersebut. Selain itu, kerusakan juga terjadi pada berbagai rantai pasok penting lainnya.
Georgieva menekankan, negara-negara miskin dengan cadangan yang terbatas akan menjadi pihak yang paling terdampak.
“Kita berada di dunia dengan ketidakpastian yang meningkat,” kata dia.
Ia menjelaskan bahwa ketidakpastian tersebut dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari ketegangan geopolitik, perkembangan teknologi, hingga perubahan iklim dan dinamika demografi.
“Semua ini berarti bahwa setelah kita pulih dari guncangan ini, kita perlu tetap waspada terhadap guncangan berikutnya,” lanjutnya.
Kombinasi antara inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melemah juga memicu kekhawatiran akan kembalinya kondisi stagflasi. Kekhawatiran ini mulai dirasakan oleh konsumen, pelaku bisnis, hingga pembuat kebijakan.
Kepala ekonom Moody’s Analytics, Mark Zandi, menilai arah kondisi ekonomi saat ini mengarah pada fenomena tersebut.
“Secara umum, ini adalah stagflasi,” ujar Zandi.
“Inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah adalah hasil dari kebijakan, (yakni) kebijakan tarif dan kebijakan imigrasi," imbuh dia.
Isu dampak perang Iran terhadap ekonomi global diperkirakan akan menjadi topik utama dalam pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia pekan depan.
Georgieva dijadwalkan menyampaikan pidato pada Kamis (9/4/2026) mendatang terkait perkembangan tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#pertumbuhan-ekonomi #ekonomi-global #imf #konflik-di-timur-tengah