Tutup 160 Toko Offline pada 2026, Ini Profil Pendiri H&M

Tutup 160 Toko Offline pada 2026, Ini Profil Pendiri H&M

H&M akan menutup 160 toko offline global pada 2026 karena penjualan menurun. Didirikan oleh Erling Persson di Swedia pada 1947, H&M berkembang pesat di era fast fashion.

(Bisnis.Com) 10/04/26 07:10 187153

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan fesyen cepat H&M dikabarkan segera menutup total 160 tokonya di seluruh dunia pada tahun 2026 ini.

Melansir dari pemberitaan Bisnis.com sebelumnya, H&M diketahui tengah berupaya memulihkan operasional bisnis mereka di tengah penjualan yang menurun akibat berubahnya perilaku konsumen global.

Sejak tahun 2019 hingga 2025, H&M telah menutup total hampir 1.000 gerai secara global sehingga jumlah toko offline mereka turun signifikan dari masa kejayaannya yang mencapai 5.000 gerai.

Perusahaan yang didirikan di Swedia tersebut pernah mencapai puncak kesuksesannya dengan menjadi salah satu market leader global dari industri fesyen cepat.

Selain itu, brand tersebut pernah menjadi bagian dari arena fesyen kelas atas pada Paris Fashion Week, bersaing dengan perusahaan fesyen mewah seperti Chanel, Louis Vuitton, dan sebagainya.

Profil Pendiri dan Sejarah Perkembangan H&M

Kesuksesan H&M pada era awal fast fashion di tahun 90-an hingga pertengahan 2000-an tidak luput dari peran pendirinya, Erling Persson, yang membangun fondasi pada tahun 1947 di Västerås, Swedia, berawal dari satu gerai.

Erling Persson merupakan pengusaha asal Swedia yang lahir pada 21 Januari 1917 di kota kecil bernama Borlänge, Swedia tengah.

Erling berasal dari keluarga sederhana yang berbisnis penjualan daging hewan di kota industri Borlänge selama masa krisis ekonomi akibat perang dunia.

Erling hanya menempuh pendidikan dasar di Borlänge, setelah itu dirinya pindah ke ibu kota Stockholm pada tahun 1930 untuk mencari kehidupan yang lebih layak.

Dengan berbagai pekerjaan dan usaha yang ia jalani, akhirnya Erling berhasil membuka usaha fesyen pertamanya yang bernama Hennes pada tahun 1947.

H&M awalnya bernama Hennes yang berfokus pada penjualan pakaian wanita hingga pada tahun 70-an berubah menjadi Hennes & Mauritz dan mulai menawarkan pakaian pria dan anak-anak.

Setelah era 70-an, Erling Persson berhasil membawa H&M menjadi perusahaan fesyen yang berkembang pesat di skala global, khususnya Eropa, dengan membuka lima sampai enam toko setiap tahunnya.

Pada tahun 1982, Erling Persson mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO H&M, dan dilanjutkan oleh putranya, Stefan Persson.

Pada era 80-an hingga akhir 90-an, H&M tumbuh menjadi raksasa dengan model industri baru yakni fesyen cepat.

Perkembangan di bawah Stefan Persson sangat signifikan bagi perusahaan H&M. Bahkan, brand ini berhasil menjadi bagian dari fesyen kelas kakap di Paris Fashion Week pada tahun 2013 hingga saat ini, serta mampu bersaing dengan perusahaan glamor lainnya seperti Chanel, Louis Vuitton, dan sebagainya.

Pada tahun 2020, Stefan Persson mengundurkan diri dari jabatannya setelah 20 tahun memimpin H&M dan digantikan oleh generasi ketiga, Karl-Johan Persson yang menjabat hingga tahun 2024.

Hingga saat ini, perusahaan H&M masih bertahan meskipun telah menutup banyak gerai sepanjang 2019–2025 akibat pergeseran budaya belanja masyarakat yang beralih ke toko online.

#h-amp-m #h-amp-m-tutup-toko #h-amp-m-2026 #h-amp-m-global #h-amp-m-fesyen-cepat #h-amp-m-paris-fashion-week #erling-persson #pendiri-h-amp-m #sejarah-h-amp-m #h-amp-m-swedia #h-amp-m-fast-fashion #h-a

https://entrepreneur.bisnis.com/read/20260410/265/1965502/tutup-160-toko-offline-pada-2026-ini-profil-pendiri-hm