OPINI: Ketika Petani Terimbas Rudal
Konflik di Timur Tengah mengganggu ekspor pupuk dan energi, menaikkan biaya produksi petani global. Dampaknya, margin keuntungan petani tertekan.
(Bisnis.Com) 15/04/26 12:00 191848
Bisnis.com, JAKARTA - Sudah lebih dari sebulan rudal-rudal berterbangan di kawasan Timur Tengah. Di jalur sempit bernama Selat Hormuz, pertarungan teknologi perang antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat menjadi tontonan warga seluruh dunia. Dentuman rudal tak sampai ke desa-desa. Namun, ketika satu-satunya jalur laut Teluk ke laut lepas yang menjadi urat nadi ekspor 27% minyak dunia, 20% ekspor gas alam cair global, dan 20%—30% ekspor pupuk global terhenti, dampak ikutannya terasa sampai ke desa-desa dan lahan petani.
Penurunan pengiriman gas alam cair, bahan baku utama pupuk berbasis nitrogen seperti urea, telah mendorong kenaikan harga pupuk. Ekspor pupuk dari Teluk Persia juga menurun drastis. Qatar, Arab Saudi, Bahrain, dan Oman adalah pengekspor pupuk besar, khususnya urea, diammonium fosfat (DAP), dan amonia anhidrat. Iran juga produsen utama pupuk nitrogen, tetapi ekspornya sedikit. Sejumlah analis memperkiraan sebanyak sepertiga perdagangan pupuk (urea, fosfat, sulfur) global dapat terpengaruh.
Banyak negara di dunia bergantung pasokan pupuk dari kawasan Teluk Persia. Thailand menggantungkan impor urea dari kawasan Teluk Persia, disusul Afrika Selatan (67%), India (41%), dan Brasil (35%). Apabila ketidakpastian berlanjut, negara-negara importir ini harus mencari sumber alternatif. Persoalannya, jika pun sumber alternatif tersedia, harganya pasti naik. Ketika perang terjadi dan pengiriman minyak terganggu, harga energi akan naik. Harga energi yang naik membuat ongkos transportasi juga naik. Ditambah biaya asuransi maritim yang jadi mahal, efek domino perang makin terasa.
Sebulan lebih perang membuat harga-harga pupuk naik. Meskipun harga pupuk masih jauh di bawah rekor tertinggi akhir 2021 dan awal 2022, dampaknya langsung terasa ke lahan petani: biaya produksi naik. Sialnya, petani di berbagai belahan dunia saat ini menghadapi harga panen biji-bijian yang rendah. Implikasi dua kecenderungan yang bertolak belakang ini jelas: margin keuntungan petani tergerus. Tak banyak pilihan yang tersedia bagi petani: beralih komoditas atau menyunat pembelian pupuk untuk tanaman.
Dampak langsung terhadap produksi bagi petani di belahan bumi utara sepertinya kecil. Mereka telah membeli berbagai input untuk musim semi. Akan tetapi, jika konflik berkepanjangan dapat memengaruhi keputusan penanaman dan hasil panen di belahan bumi selatan dan penggunaan pupuk untuk padi di Asia Selatan dan Tenggara. Ini bakal berdampak pada produksi, salah satunya, beras global. Ini sinyal buruk bagi negara-negara importir beras rutin berjumlah besar: Cina, Uni Eropa, Filipina, dan Arab Saudi.
Harga minyak yang naik juga jadi sinyal buruk bagi petani dan lahannya. Setiap kenaikan US$10 per barel, dalam berbagai simulasi ekonomi, dapat mendorong inflasi global hingga 0,3%—0,5%. Perang akhirnya memberikan tekanan biaya yang menjalar ke seluruh sektor. Dari energi, merambat ke pertanian. Ditambah harga pestisida yang naik sekitar 20% dan harga kemasan yang naik tinggi, logistik pun menjadi lebih mahal. Bisa naik 10%—25%. Dalam ilmu ekonomi ini disebut cost-push inflation. Namun, bagi petani, ini kenyataan sederhana: biaya tanam menjadi lebih mahal dan margin keuntungan tertekan.
Dampak langsung perang terhadap ketahanan pangan sebagian besar bersifat regional. Negara-negara Teluk Persia amat bergantung pada pangan impor. Gangguan pengiriman yang berkepanjangan melalui Selat Hormuz akan berdampak signifikan pada pasokan dan harga pangan. Seperti sebagian besar negara di Timur Tengah dan Afrika Utara, konsumsi gandum per kapita mereka cukup tinggi: lebih 100 kg/kapita/tahun. Wilayah ini juga amat bergantung pada minyak nabati, minyak kedelai, dan gula.
Dampak langsung perang di Teluk Persia bagi petani dan pertanian Indonesia belum terasa saat ini. Dampak itu, bagi pemerintah, seperti terasa jauh. Dengan mandiri dalam produksi pupuk nitrogen, Indonesia tak terimbas kenaikan gas alam cair. Akan tetapi, jangan lupa, Indonesia importir rutin bahan pupuk NPK. Perang berkepanjangan akan membuat bahan baku pupuk naik. Bagi petani, dampaknya langsung ke kantong mereka: ongkos produksi naik, terutama bagi petani yang tidak mendapatkan jatah pupuk subsidi.
Di tengah perang rudal, petani gurem berdiri di titik paling rapuh. Sebanyak 16,89 juta keluarga petani Indonesia (60,84%) mengelola lahan kurang 0,5 hektare. Mereka tidak memiliki ruang cukup untuk menyerap guncangan akibat perang. Ketika harga pupuk naik, mereka tak menambah biaya, tapi mengurangi dosis. Ketika harga solar naik, mereka menunda panen dan pengolahan. Dampaknya tak langsung terlihat sebagai krisis, tapi produktivitas bisa turun 10%—30% perlahan. Tekanan ini tak meledak, tetapi mengikis.
Kenaikan harga komoditas pangan global tidak selalu menjadi kabar baik. Karena kenaikan harga itu tak selalu tecermin di kantong petani. Rantai distribusi yang panjang, struktur pasar yang timpang, dan informasi asimetris selalu menjadi perintang. Dunia akademik menyebutnya asymmetric transmission. Bagi petani, ini nasib (timpang) yang berulang. Di atas semua itu, bagi petani ada hal yang tidak berubah: mereka harus tetap menanam. Apa pun yang terjadi. Pesan petani amat tegas: no farmer, no food, no future.
#rudal-timur-tengah #selat-hormuz #ekspor-minyak-dunia #ekspor-gas-alam-cair #ekspor-pupuk-global #harga-pupuk-naik #pupuk-nitrogen #perdagangan-pupuk-global #ketahanan-pangan #harga-energi-naik #biaya
https://ekonomi.bisnis.com/read/20260415/99/1966748/opini-ketika-petani-terimbas-rudal