Indeks Bisnis-27 Ditutup Menguat, Saham ASII, PTBA & BBNI Jadi Penopang
Indeks Bisnis-27 menguat 0,34% ke level 498,26, didukung oleh kenaikan saham ASII, PTBA, dan BBNI.
(Bisnis.Com) 22/04/26 17:01 199417
Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Bisnis-27 ditutup di zona hijau pada penutupan perdagangan Rabu (22/4/2026), ditopang penguatan saham-saham ASII, PTBA, dan BBNI.
Berdasarkan data IDX Mobile, Indeks kerja sama dengan harian Bisnis Indonesia ini ditutup menguat 1,68 poin atau sebesar 0,34% ke level 498,26 pada penutupan perdagangan. Sepanjang hari, indeks bergerak di rentang 496,48 hingga 500,67.
Dari sisi likuiditas, total nilai transaksi pada saham-saham yang tergabung dalam Indeks Bisnis-27 mencapai Rp5,854 triliun, dengan volume perdagangan sekitar 3,473 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 372,5 ribu kali.
Sebanyak 9 saham konstituen bergerak menghijau, 13 saham konstituen memerah, dan sisanya 5 saham cenderung stagnan.
Penguatan indeks didorong oleh kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham PT Astra International Tbk. (ASII) memimpin penguatan, naik 4,35% ke level Rp6.600. Berikutnya saham PT Bukit Asam (persero) Tbk. (PTBA) menguat 3,09% ke level Rp3.000, selanjutnya saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) naik 2,68% ke level Rp3.830.
Saham PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) juga naik 1,74% ke level Rp4.100, dan saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) naik 1,64% ke level Rp32.500.
Sebaliknya saham yang masih mengalami tekanan adalah PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) turun 3,43% ke level Rp1.125, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) turun 1,89% ke level Rp2.600, saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) turun 1,75% ke level Rp9.825.
Saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) juga turun 1,74% ke level Rp2.260, dan saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) melemah sebesar 1,68% ke level Rp1.465.
Tim riset Sinarmas Sekuritas mengatakan sentimen domestik berasal dari Bank Indonesia yabg mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%.
Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak ekonomi global yang melambat karena perang timur tengah. Selain itu ruang penurunan BI Rate ke depan akan semakin lama dan semakin tertutup.
Pertimbangan kebijakan adalah berkaitan dengan inflasi. BI pun memproyeksikan ekonomi Indonesia masih solid, didorong oleh kuatnya konsumsi domestik dan investasi.
Selain itu dari faktor eksternal.Konflik geopolitik memicu outflow dari Indonesia hingga sekitar US$17 miliar.
Secara global outlook ekonomi global melambat menjadi 3,0% dari perkiraan sebelum 3,1%. Inflasi juga berpotensi naik di level global menjadi 4,2% dari sebelumnya diperkirakan di level 4,1%.
Pertumbuhan global dibayangi oleh risiko inflasi karena kenaikan harga energi di tengah konflik geopolitik.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#indeks-bisnis-27 #saham-asii #saham-ptba #saham-bbni #indeks-menguat #saham-anjlok #saham-antm #saham-untr #saham-nckl #saham-jpfa #saham-inkp #saham-brpt #saham-amrt #bi-rate #ekonomi-indonesia