Kemilau Prospek Kartu Kredit Nonbank di Tengah Bayang-Bayang Risiko Kredit Macet

Kemilau Prospek Kartu Kredit Nonbank di Tengah Bayang-Bayang Risiko Kredit Macet

Prospek kartu kredit nonbank dinilai masih terbuka lebar seiring dengan tingginya kebutuhan akses kredit yang lebih inklusif dan fleksibel di masyarakat.

(Bisnis.Com) 23/04/26 11:15 200221

Bisnis.com, JAKARTA — Prospek kartu kredit nonbank dinilai masih terbuka lebar seiring dengan tingginya kebutuhan akses kredit yang lebih inklusif dan fleksibel di masyarakat.

Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) berpandangan bahwa kartu kredit memiliki potensi yang besar di Indonesia seiring penetrasinya yang masih rendah dibandingkan dengan instrumen pembayaran lainnya.

Ketua Umum ASPI Santoso menuturkan pengguna kartu kredit tercatat baru sekitar 7 juta nasabah, meskipun pengguna paylater juga jauh lebih besar.

“Saya pikir peluang baik bagi bank maupun nonbank untuk lisensi kartu kredit masih besar. Dibandingkan dengan debit card yang jumlahnya diatas 150 juta nasabah,” katanya kepada Bisnis, Selasa (21/4/2026).

Kendati memiliki peluang yang cukup besar, Santoso mengingatkan bahwa tantangan yang akan dihadapi adalah portofolio kredit di tengah-tengah kondisi ekonomi yang lebih berat.

“Jadi potensi kredit bermasalah atau Non-Performing Loan [NPL] lebih besar walaupun potensi besar,” sebutnya.

Lebih jauh, dia turut menjelaskan bahwa pada dasarnya kartu kredit adalah produk yang masuk dalam kategori alat pembayaran, meskipun sumber dana yang digunakan berasal dari skema kredit.

Sebab itu, lanjut Santoso, alat pembayaran ini harus mengacu pada ketentuan Alat Pembayaran Menggunakan Kart (APMK) yang diterbitkan oleh Bank Indonesia (BI).

PT Honest Financial Technologies (Honest Card) membeberkan bahwa keunggulan kartu kredit nonbank adalah dapat menjangkau segmen yang lebih luas dengan pendekatan yang inklusif dan berbasis digital.

Director of Operations Panji Puntadewa mengatakan Honest Card berkomitmen menghadirkan pengalaman kartu kredit yang transparan dan bertanggung jawab, dengan inovasi yang terus berkembang sesuai kebutuhan pengguna.

“Kini dengan hadirnya QRIS, manfaat yang selama ini dinikmati pengguna Honest dapat dirasakan dalam lebih banyak transaksi sehari-hari,” katanya kepada Bisnis, Selasa (21/4/2026).

Asal tahu saja, Honest Card baru meluncurkan fitur pembayaran QRIS MPM (Merchant Presented Mode) dalam penggunaan kartu kredit untuk transaksi sehari-hari pada Selasa (21/4/2026).

Inovasi yang dilakukan Honest Card ini juga terkait dengan optimistis bahwa prospek kartu kredit nonbank di Indonesia sangat besar. Penetrasi kartu kredit di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara.

“Kami fokus menghadirkan pengalaman kartu kredit yang inklusif, transparan, dan bertahap bagi pengguna,” sebut Panji.

Lebih lanjut, Panji turut menyampaikan Honest Card memiliki dua lisensi yakni lisensi penerbit kartu kredit dari Bank Indonesia dan perusahaan pembiayaan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Dengan ini kami berada dalam posisi yang baik untuk terus mengembangkan produk yang makin relevan bagi pengguna,” tegasnya.

Tantangan Pengembangan Kartu Kredit Nonbank

Sementara itu, Director of Compliance Honest Card Christin Hutabarat menilai tantangan utama dalam mengembangkan kartu kredit nonbank adalah harus bisa terus memastikan produk berkembang seiring dengan kebutuhan pengguna yang semakin beragam.

“Ke depan, kami fokus pada inovasi yang relevan dan berkelanjutan, seiring dengan perkembangan ekosistem pembayaran digital di Indonesia,” ucapnya kepada Bisnis.

Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi melihat tantangan utama yang dihadapi mencakup regulasi yang harus mengikuti inovasi tanpa menghambat pertumbuhan, terutama terkait perlindungan konsumen dan batasan kredit.

Dia meneruskan, dari sisi manajemen risiko, pemain perlu memastikan kualitas underwriting di tengah ekspansi cepat agar risiko gagal bayar tetap terkendali. Infrastruktur juga menjadi kunci, khususnya integrasi dengan sistem pembayaran nasional seperti QRIS agar transaksi tetap efisien dan aman.

“Selain itu, edukasi pengguna dan penguatan keamanan siber menjadi aspek penting untuk menjaga kepercayaan dan keberlanjutan industri,” ujar Heru.

Bagi Heru, hal yang perlu diwaspadai dari inovasi fitur pembayaran QRIS seperti yang dilakukan Honest adalah perlu mewaspadai situasi pertumbuhan cepat kredit digital di Indonesia yang mulai diiringi kenaikan risiko gagal bayar, terutama pada segmen muda dan underbanked yang juga menjadi target utama.

Meskipun, imbuhnya, memang integrasi QRIS memperluas penggunaan, tetapi berpotensi mendorong frekuensi transaksi dan akumulasi utang lebih cepat. Sebab itu, tantangan utamanya adalah menjaga kualitas underwriting dan disiplin manajemen risiko.

“Tanpa itu, ada risiko Honest mengikuti pola Buy Now Pay Later [BNPL] yakni ekspansi agresif di awal, lalu menghadapi tekanan kualitas aset dan kredit macet dalam jangka menengah,” tegas Heru.

Dia melanjutkan, kartu kredit nonbank saat ini umumnya mengarah pada segmen generasi muda urban (generasi Z dan milenial), pekerja awal karier serta kelompokunderbankedyang belum sepenuhnya terlayani bank tradisional.

Mereka, lanjutnya, cenderung melek digital, aktif di e-commerce, dan membutuhkan akses kredit cepat tanpa proses rumit. Selain itu, penggunaannya sederhana karena mudah diakses, persetujuannya cepat, pembayarannya fleksibel, dan bisa terintegrasi dengan ekosistem seperti QRIS.

“Selain itu, fitur cicilan ringan, kontrol limit via aplikasi, dan transparansi biaya membuatnya terasa lebih praktis dibanding kartu kredit konvensional,” ucapnya.

Ke depannya, Heru menilai pertumbuhan kartu kredit nonbank akan ditopang oleh literasi keuangan yang meningkat, ekspansi ekosistem digital, serta kemampuan pemain menghadirkan pengalaman pengguna yang seamless dan relevan.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menuturkan kartu kredit nonbank ditujukan pada kelompok unbanked dan underbanked society. Kehadirannya memudahkan kelompok ini dalam melakukan pembiayaan guna belanja dan sebagainya.

“Sebenarnya, pada prinsipnya sama seperti BNPL yang sudah eksis. Mereka sama-sama menawarkan pinjaman dengan plafon tertentu guna berbelanja barang. Bedanya BNPL itu bisa full digital nonkartu, sedangkan kartu kredit nonbank ini ada bentuk fisik kartunya,” sebutnya.

Menurutnya, dengan kartu kredit nonbank bisa diintegrasikan dengan QRIS maka perbedaannya semakin tipis dengan BNPL. Pembedanya terletak pada sumber dana, kartu kredit nonbank mengandalkan modal awal serta obligasi.

“Ke depan saya rasa akan ada bentuk kerja sama lebih matang dengan perbankan [utamanya perbankan digital] dalam penyediaan dana,” pungkasnya.

#kartu-kredit #kartu-kredit-nonbank

https://finansial.bisnis.com/read/20260423/89/1968571/kemilau-prospek-kartu-kredit-nonbank-di-tengah-bayang-bayang-risiko-kredit-macet