HSBC Ramal Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 Tak Sampai 5%, Defisit APBN Dijaga di Bawah 3%
HSBC memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 di bawah 5% akibat guncangan harga energi, meski defisit APBN diperkirakan tetap di bawah 3%.
(Bisnis.Com) 24/04/26 14:52 201776
Bisnis.com, JAKARTA — Tim ekonom dan analis HSBC memprakirakan pemerintah tetap bisa menjaga defisit di bawah 3% terhadap PDB. Namun pertumbuhan ekonomi diramal berisiko tak sampai 5%.
Pada taklimat media HSBC Indonesia Economy and Investment Outlook Kuartal II/2026, Kamis (23/4/2026), Managing Director, Chief India Economist and Macro Stretegsit, Asean Economist, HSBC Global Investment Research, Pranjul Bhandari mengatakan ekonomi Indonesia dibuka pada awal 2026 dengan baik.
Hal ini tidak lepas dari pengaruh pertumbuhan ekonomi hampir 5,4% pada kuartal IV/2025, berkat pelonggaran kebijakan fiskal dan moneter.
Kendati demikian, Pranjul memandang guncangan harga energi akibat perang AS-Israel dan Iran bakal memberikan dampak dari sejumlah jalur. Utamanya, guncangan yang turut menyebabkan disrupsi di jalur perdagangan energi dunia yakni Selat Hormuz turut berdampak pada kecukupan pasokan.
"Mengapa ini berbeda dengan guncangan-guncangan sebelumnya yang pernah kita lihat, karena ini tidak hanya karena harga energi, namun juga kuantitasnya. Apakah akan ada cukup minyak? Apakah akan ada cukup gas?," jelasnya, dikutip Jumat (24/4/2026).
Dampaknya kepada Indonesia, lanjut Pranjul, akan terasa pada seluruh indikator perekonomian yaitu pertumbuhan ekonomi, inflasi, neraca pembayaran, serta APBN. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia.
Dari sisi inflasi, kenaikan indeks harga konsumen bisa dapat dikendalikan apabila harga minyak bertengger di sekitar US$80 per barel tahun ini. Pranjul menyebut itu adalah skenario dasar (base case scenario) pihaknya.
Di Indonesia, apabila hal tersebut terjadi, maka inflasi sepanjang tahun diprakirakan bisa dijaga di bawah 3,5%. Namun, ini sudah berada di atas target BI yaitu 2,5%+-1%. Keputusan pemerintah menjaga harga BBM subsidi dinilai bisa membantu meredam inflasi.
Kemudian, pada pertumbuhan ekonomi, dampaknya masuk utamanya dari sektor perdagangan dan transportasi. Apabila dampak perang berkepanjangan, maka sektor industri bisa terdampak akibat kenaikan harga-harga terkait dan berujung ke daya beli.
"Saya tidak akan itu akan meningkat tinggi, namun apabila itu naik sedikit saja, yang mana kami prediksi, maka itu akan bisa menurunkan daya beli masyarakat sehingga konsumsi melemah," terangnya.
Di sisi lain, pengaruh pelemahan pada investasi akibat banyaknya ketidakpastian bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di bawah 5%. Sementara itu, pemerintah diketahui menargetkan ekonomi tumbuh 5,4% sesuai dengan yang ditargetkan tahun lalu.
"Untuk itu, kami percaya bahwa turun dan mungkin bisa di bawah 5% sepanjang tahun," ujar Pranjul.
Pada sisi neraca pembayaran, kenaikan impor bisa memengaruhi kinerja neraca dagang dan berdampak ke transaksi berjalan. Apabila defisit transaksi berjalan melebar, maka otoritas moneter harus mencari cara guna memperbaikinya dari sisi transaksi modal dan finansial atau aliran modal masuk ke pasar keuangan.
Namun demikian, pemerintah pada sisi fiskal diprakirakan bisa menjaga batas defisit APBN di bawah 3%.
"Apakah pemerintah akan mempertahankan batas defisit 3%? Menurut kami secara umum mereka akan mempertahankan batas defisit," tutur Pranjul.
Menurutnya, pemerintah masih dapat membuat ruang fiskal dalam jangan pendek di tengah tingginya belanja subsidi. Efisiensi belanja, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) serta optimalisasi penerimaan negara dinilai membantu pemerintah untuk mengelola fiskal secara efisien.
"Tentu jangka menengah merupakan pertanyaan berbeda. Dalam jangka menengah, apabila batas defisit betul-betul diinginkan 3%, maka harus ada banyak reformasi penerimaan," pungkasnya.
#pertumbuhan-ekonomi-ri #defisit-apbn #ekonomi-indonesia-2026 #pertumbuhan-ekonomi-5 #inflasi-indonesia-2026 #harga-energi-global #dampak-perang-as-israel #selat-hormuz-perdagangan #harga-minyak-dunia