Kenali Risiko Keamanan Digital di Era Otak Imitasi

Kenali Risiko Keamanan Digital di Era Otak Imitasi

Adopsi AI meningkatkan ancaman siber, terutama pada API. Keamanan digital harus fokus pada kerentanan, bukan hanya teknologi. Integrasi AI perlu pengawasan ketat.

(Bisnis.Com) 01/01/70 07:00 205558

Lonjakan adopsi teknologi mutakhir telah membuka celah baru ancaman siber. Bersamaan dengan adopsi otak imitasi (artificial intelligence) yang masif, kerentanan keamanan digital pun meningkat di tengah ekosistem digital yang saling terhubung.

Seiring adopsi teknologi cloud, arsitektur microservices, dan aplikasi berbasis AI yang kian meluas, ancaman siber terhadap situs web dan aplikasi juga mengalami lonjakan signifikan. Laporan terbaru State of the Internet (SOTI) 2026 dari Akamai mengungkap bahwa pendekatan AI-first justru memperbesar celah keamanan, khususnya pada Application Programming Interface (API).
Pada 2025, Akamai mencatat hampir 65 miliar serangan yang menargetkan aplikasi web dan API di kawasan APAC, naik 23% dibanding tahun sebelumnya. Peneliti keamanan siber Alfons Tanujaya menilai bahwa temuan AI-first berpotensi memperlebar celah keamanan pada API harus disikapi secara serius.
Dia menggarisbawahi bahwa pendekatan AI-first memang seperti pedang bermata dua. Sebab, ia bisa sangat membantu, tetapi juga dapat meningkatkan risiko, terutama jika diterapkan oleh pihak yang tidak memahami fondasinya.
Alfons menyebut ketika seluruh keputusan diserahkan kepada AI tanpa memahami latar belakang dan tujuan, petaka serangan menjadi makin terbuka.

#keamanan-digital #ancaman-siber #otak-imitasi #artificial-intelligence #keamanan-api #ai-first #serangan-aplikasi-web #keamanan-siber #celah-keamanan #teknologi-ai #risiko-keamanan #malware #sistem-ke

https://premium.bisnis.com/read/20260428/662/1969865/kenali-risiko-keamanan-digital-di-era-otak-imitasi