Cadangan di AS Merosot, Harga Minyak Mentah Menguat

Cadangan di AS Merosot, Harga Minyak Mentah Menguat

Harga minyak naik karena cadangan di AS turun tajam dan sentimen positif dari rencana pertemuan Trump-Xi Jinping.

(Bisnis.Com) 30/10/25 05:31 20903

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak global naik didorong oleh penurunan tajam stok minyak AS dan sentimen positif dari rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping.

Mengutip Reuters pada Kamis (30/10/2025), harga minyak mentah jenis Brent naik 52 sen atau 0,8% di level US$64,92 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 33 sen atau 0,6% menjadi US$60,48 per barel.

Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan, stok minyak mentah, bensin, dan bahan bakar distilat di AS masing-masing turun lebih dalam dari perkiraan analis pada pekan lalu. Persediaan minyak mentah tercatat merosot hampir 7 juta barel, jauh di atas ekspektasi penurunan sebesar 211.000 barel.

Penurunan tajam ini mendorong pasar untuk meninjau kembali ekspektasi kelebihan pasokan, di tengah peningkatan produksi oleh kelompok OPEC+ dan rekor produksi minyak AS.

“Di mana kelebihan pasokan yang selama ini dikhawatirkan. Semakin lama kelebihan pasokan itu tidak muncul, semakin banyak yang meragukan apakah itu benar-benar ada,” ujar analis Price Futures Group, Phil Flynn.

Analis UBS Giovanni Staunovo menilai, data EIA juga menunjukkan permintaan minyak yang kuat. Dia mengatakan, jika dikombinasikan dengan penurunan persediaan, laporan tersebut sangat positif bagi harga minyak.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyampaikan optimisme atas hasil pembicaraannya dengan Presiden China Xi Jinping, yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (30/10/2025) dalam pertemuan puncak di Korea Selatan.

Dalam pertemuan yang sama, AS dan Korea Selatan juga merampungkan detail akhir kesepakatan dagang yang sebelumnya sempat tertunda. Sentimen positif dari pembicaraan dagang AS–China dan kesepakatan dengan Korea Selatan diharapkan dapat meredakan kekhawatiran perlambatan ekonomi akibat perang dagang dan tarif impor yang selama ini menekan permintaan minyak global.

Meski demikian, sejumlah kekhawatiran masih membayangi prospek ekonomi global. The Federal Reserve pada Rabu memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin sesuai ekspektasi, namun Ketua Jerome Powell menyampaikan nada hati-hati terhadap arah kebijakan berikutnya.

Pekan lalu, harga Brent dan WTI mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Juni setelah Trump menjatuhkan sanksi terkait Ukraina terhadap Rusia untuk pertama kalinya di masa jabatan keduanya, menargetkan perusahaan minyak besar seperti Lukoil dan Rosneft.

Namun, keraguan bahwa sanksi tersebut akan mampu menahan kelebihan pasokan, serta pembicaraan mengenai potensi peningkatan produksi OPEC+ kembali menekan harga. Kedua acuan minyak tersebut sempat anjlok 1,9% atau lebih dari US$1 pada sesi sebelumnya.

Sumber yang mengetahui pembahasan internal menyebut, OPEC+ kini condong untuk melakukan peningkatan produksi secara moderat pada Desember mendatang, dengan dua sumber menyebut tambahan sekitar 137.000 barel per hari (bph).

#minyak-mentah #harga-minyak #stok-minyak-as #minyak-brent #minyak-wti #penurunan-stok-minyak #opec #produksi-minyak-as #permintaan-minyak #pertemuan-trump-xi #kesepakatan-dagang-as-china #ekonomi-glo

https://market.bisnis.com/read/20251030/94/1924527/cadangan-di-as-merosot-harga-minyak-mentah-menguat