Batam Jadi Motor Ekonomi Kepri
Batam jadi motor ekonomi Kepulauan Riau, menunjukkan kinerja impresif sepanjang 2025 dengan mencatat pertumbuhan sebesar 6,76 persen (year-on-year) tanpa migas.
(Bisnis.Com) 04/05/26 10:29 210014
Bisnis.com, Batam — Perekonomian Kota Batam menunjukkan kinerja impresif sepanjang 2025 dengan mencatat pertumbuhan sebesar 6,76 persen (year-on-year) tanpa migas, tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau serta melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi provinsi dan nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau pada 2025 tercatat sebesar 5,88 persen, sementara pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen. Capaian tersebut menempatkan Batam sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tanpa migas tertinggi di Kepri.
Kabupaten Bintan tumbuh 6,43 persen, disusul Karimun 5,44 persen, Lingga 3,53 persen, Tanjungpinang 3,31 persen, dan Kepulauan Anambas 2,87 persen. Sementara itu, Kabupaten Natuna mengalami kontraksi sebesar minus 1,61 persen. Selain menjadi yang tertinggi, Batam juga tercatat sebagai kontributor terbesar terhadap perekonomian Kepri dengan kontribusi mencapai 66,44 persen pada 2025.
Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan kinerja ekonomi Batam ditopang oleh meningkatnya aktivitas industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, transportasi dan logistik, serta arus investasi yang terus menguat.
“Struktur ekonomi berbasis manufaktur, perdagangan internasional dan jasa logistik menjadi fondasi pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan,” kata Amsakar.
Lanjut dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi tanpa migas mencerminkan transformasi ekonomi Batam yang semakin bertumpu pada sektor industri dan investasi.
“Pertumbuhan ekonomi Batam sebesar 6,76 persen tanpa migas menunjukkan bahwa mesin ekonomi Batam digerakkan oleh sektor produktif seperti industri manufaktur, perdagangan, logistik, serta investasi yang terus meningkat,” ujarnya.
Menurut dia, indikator tanpa migas memberikan gambaran yang lebih nyata terhadap kekuatan ekonomi daerah karena tidak terpengaruh fluktuasi harga energi global.
“Sektor migas sangat bergantung pada harga energi dunia dan volume produksi. Dengan melihat pertumbuhan tanpa migas, kita dapat melihat kekuatan riil ekonomi Batam yang ditopang industri dan investasi,” katanya.
Investasi Besar
Realisasi investasi di Kota Batam menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, memperkuat posisi daerah tersebut sebagai lumbung investasi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Amsakar Achmad mengatakan berbagai indikator menunjukkan Batam tidak hanya menjadi tujuan investasi, tetapi juga pusat pengumpulan modal yang mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan.
“Batam ini negerinya investasi. Pertumbuhan ekonomi kita selalu berada di atas rata-rata nasional,” ujarnya, Senin.
Dia bilang, pertumbuhan ekonomi Batam pada 2025 mencapai sekitar 6,76 persen dan meningkat menjadi 6,89 persen pada 2026. Capaian ini memperkuat posisi Batam sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional.
Dari sisi investasi, realisasi pada 2025 tercatat mencapai Rp69,3 triliun atau 115,5 persen dari target Rp60 triliun. Sementara pada triwulan I 2026, investasi sudah menembus Rp17,5 triliun, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp8,6 triliun.
“Lonjakan ini menunjukkan Batam menjadi tempat utama bagi investor untuk menanamkan modalnya,” kata Amsakar.
Menurut dia, status Batam sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (free trade zone/FTZ) menjadi salah satu faktor utama yang membuat wilayah ini menjadi “lumbung” bagi investasi.
Berbagai insentif seperti pembebasan bea masuk, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), hingga Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) menjadi daya tarik tersendiri bagi pelaku usaha.
“Inilah istimewanya Batam, jadi saya minta berhenti untuk membuat narasi yang kontraproduktif, jangan asik mencari kesalahan saja. Ayo sama-sama kita bangun Batam ini,” kata dia.
Selain itu, keberadaan empat kawasan ekonomi khusus (KEK) turut memperkuat peran Batam sebagai pusat investasi. KEK tersebut meliputi kawasan dirgantara dan logistik di Bandara Hang Nadim, KEK Tanjung Sauh untuk industri, KEK Nongsa Digital Park di sektor digital, serta KEK kesehatan di Sekupang.
“KEK ini menjadi ruang tumbuh bagi investasi di berbagai sektor strategis,” ujarnya.
Amsakar menilai, kuatnya arus investasi juga mencerminkan tata kelola yang semakin baik serta kepercayaan investor terhadap Batam. Dampaknya tidak hanya terlihat pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada perbaikan indikator sosial seperti penurunan angka pengangguran dan kemiskinan.
“Kalau Batam ini tak bagus mana mungkin orang mau berinvestasi di sini,” kata dia.
Bahkan, Batam baru-baru ini meraih penghargaan nasional dari Kementerian Dalam Negeri bersama detik.com atas keberhasilan dalam pengentasan kemiskinan.
Dengan tren tersebut, BP Batam optimistis Batam akan terus berperan sebagai lumbung investasi yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kita ingin memastikan setiap investasi yang masuk dapat tumbuh dan memberikan dampak luas bagi ekonomi daerah maupun nasional,” kata Amsakar.
Sektor Prioritas
Strategi Batam sebagai motor investasi tidak dilakukan secara acak. Amsakar menjelaskan bahwa BP Batam telah memetakan beberapa sektor prioritas yang akan menjadi pilar utama hingga tahun 2045. Sektor-sektor ini bertindak seperti silo-silo penyimpanan modal.
Pertama, logistik Internasional: Pengembangan Pelabuhan Batu Ampar untuk menampung hingga 900.000 TEUs. Kedua, Industri Dirgantara: Melalui KEK Batam Aero Technic yang berfokus pada MRO (perawatan pesawat).
Ketiga, Digital & Kreatif: Mengandalkan KEK Nongsa Digital Park yang kini menjadi pusat data (data center) unggulan. Keempat, Kesehatan Terpadu: KEK Kesehatan Sekupang yang diprediksi menarik investasi hingga Rp 6,9 triliun. Terakhir, Energi Baru Terbarukan (EBT): Fokus pada industri panel surya dan energi hijau di Rempang dan Galang.
“Ini adalah unggulan Batam,” kata dia.
Lebih Kompetitif
Amsakar bilang, alasan mengapa para investor memilih "mengisi" lumbung mereka di Batam ketimbang wilayah tetangga seperti Johor, Malaysia, adalah efisiensi yang nyata.
“Batam menawarkan biaya tenaga kerja yang 27% lebih rendah dibandingkan Johor, dengan upah minimum berkisar USD 290-301 dibandingkan Johor yang mencapai USD 401,” kata dia.
Selain itu, pasokan tenaga kerja di Batam sangat melimpah dengan 60.000 hingga 70.000 pekerja baru yang bermigrasi ke pulau ini setiap tahunnya.
“Jumlah tenaga kerja yang mempunyai kompetensi melimpah,” kata Amsakar.
“Batam adalah lumbung yang sudah siap. Dengan kepastian hukum melalui PP 25/2025 dan perluasan kawasan perdagangan bebas (FTZ), kami memastikan setiap dolar yang masuk akan tumbuh dan berkembang di sini,” kata dia.
Badan Pengusahaan (BP) Batam, Kepulauan Riau (Kepri) mencatat realisasi investasi di Batam pada triwulan I 2026 sebesar Rp17,4 triliun dan tumbuh 102,85 persen secara tahunan.
Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengatakan bahwa capaian ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap Batam.
“Lonjakan ini menunjukkan bahwa Batam tidak hanya menarik investasi, tetapi juga mampu mengeksekusinya dengan lebih cepat, pasti, dan produktif,” ujarnya.
Capaian ini menandai akselerasi kuat Batam memasuki tahun 2026, sekaligus mempertegas perannya sebagai pusat pertumbuhan investasi paling dinamis di Indonesia.
Komposisi investasi menunjukkan struktur yang semakin tangguh, dengan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp8,8 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp8,5 triliun.
Pertumbuhan signifikan PMDN yang mencapai 216 persen secara tahunan menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan investor domestik, sementara PMA tetap terjaga.
Secara sektoral, investasi didorong oleh industri mesin dan elektronik (23,65 persen), kimia dan farmasi (21,18 persen), jasa lainnya (17,70 persen), serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran (13,09 persen).
Pola ini menunjukkan bahwa pertumbuhan Batam bertumpu pada sektor bernilai tambah dan penguatan ekosistem industri.
Dari sisi regional, Batam menyumbang sekitar 73,5 persen dari total realisasi investasi Kepulauan Riau yang mencapai lebih dari Rp23,8 triliun pada triwulan I ini.
Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra menambahkan bahwa kontribusi dominan Batam terhadap investasi Kepri memiliki makna strategis.
“Batam memegang fungsi sentral dalam menggerakkan ekonomi kawasan. Pertumbuhan ini membawa efek berantai ke sektor industri, logistik, perdagangan, dan jasa,” kata Li Claudia.
Sementara itu, Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis menekankan pentingnya kualitas pertumbuhan.
“Ini bukan sekadar lonjakan angka. Struktur investasi yang sehat, dengan PMA tetap kuat dan PMDN tumbuh secara agresif, menunjukkan bahwa Batam semakin dipersepsikan sebagai kawasan yang feasible, bankable, dan executable,” kata dia.
Dari sisi negara, Singapura menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp4,82 triliun, diikuti Hong Kong, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang.
BP Batam akan terus menjaga momentum ini melalui penguatan layanan investasi, percepatan penyediaan lahan dan utilitas, serta peningkatan kepastian usaha.
Ke depan, Batam tidak hanya berfokus pada peningkatan nilai investasi, tetapi juga pada pembangunan ekosistem industri yang berdaya saing dan berkelanjutan.
PADMeningkat
Selain pertumbuhan ekonomi, kinerja fiskal Batam juga menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Batam tercatat meningkat signifikan menjadi Rp2,36 triliun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp1,78 triliun atau naik sekitar 32 persen.
Peningkatan tersebut turut mendorong total pendapatan daerah Batam pada 2025 menjadi Rp4,29 triliun, naik dari Rp3,7 triliun pada 2024.
Amsakar Achmad mengatakan capaian tersebut tidak terlepas dari sinergi seluruh komponen daerah dalam mendorong daya saing dan pembangunan ekonomi.
“Pencapaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh pihak dalam memperkuat Batam sebagai Kota Madani yang inovatif dan kompetitif,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi pemerintah daerah terus diarahkan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global.
“Saya dan Ibu Li Claudia optimistis Batam akan terus tumbuh. Masukan dan kritik konstruktif dari masyarakat menjadi bagian penting dalam mempercepat akselerasi pembangunan,” kata Amsakar.
Akselerasi Ekonomi 2026
Dengan tren pertumbuhan ekonomi yang konsisten dan peningkatan kapasitas fiskal daerah, Batam diproyeksikan tetap menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi paling dinamis di Indonesia.
BP Batam, pelaku usaha, asosiasi industri, dan tokoh masyarakat berkolaborasi dalam merumuskan arah kebijakan dan akselerasi ekonomi di tengah dinamika global dan tuntutan masyarakat yang kian kompleks.
Beragam persoalan turut mendapat atensi penuh masing-masing pihak seperti pertumbuhan ekonomi, iklim investasi, penguatan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) di tengah daya saing global, hingga permasalahan sosial maupun politik.
“Di tengah situasi global saat ini, capaian kinerja BP Batam dan Pemerintah Kota Batam patut kita apresiasi. Kolaborasi kepemimpinan Bapak Amsakar dan Bu Li Claudia dengan dukungan seluruh komponen daerah berhasil menjaga ritme pertumbuhan ekonomi Batam,” ujar tokoh masyarakat Kepri, Asman Abnur.
Menurut Asman, tidak mudah bagi suatu daerah mendapatkan keistimewaan dari pemerintah pusat seperti yang saat ini BP Batam dapatkan. Mulai dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 Tahun 2025, PP Nomor 28 Tahun 2025, PP Nomor 4 Tahun 2025, serta PP Nomor 47 Tahun 2025.
“Harmonisasi beragam kebijakan tersebut tidak mudah. Dampak positif dari ini adalah memangkas alur birokrasi dan menyederhanakan proses perizinan seperti yang selama ini menjadi keluhan pelaku usaha. Sehingga, tidak ada lagi kekhawatiran untuk berinvestasi di Batam,” tambahnya.
Sementara itu, CEO Citramas Group Kris Wiluan menekankan bahwa kunci utama untuk tetap bertahan dan menjaga stabilitas ekonomi adalah melalui penguatan kemitraan antara pelaku usaha dan pemerintah.
Kris Wiluan menjelaskan bahwa ketegangan yang melibatkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu efek domino terhadap ekonomi dunia. Salah satu dampak yang paling dirasakan oleh para pelaku industri adalah kenaikan harga bahan bakar dan biaya logistik.
"Kondisi tersebut memberikan tekanan langsung terhadap aktivitas industri. Kita melihat adanya kenaikan-kenaikan, baik itu BBM maupun biaya logistik yang menjadi lebih mahal," ujar Kris.
Di tengah ketidakpastian ini, Kris menekankan bahwa ego sektoral harus dikesampingkan. Baginya, sinkronisasi kebijakan antara pengusaha dan regulator dalam hal ini BP Batam menjadi sangat krusial untuk memastikan iklim investasi tetap kondusif.
"Sebagai pengusaha, kita harus bisa bermitra dengan baik. Untuk perizinan, tentu kami mengikuti arahan dari BP Batam. Kita berharap ke depan tetap bisa bekerja sama dengan baik untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih luas," tambahnya.
Meski ekonomi global masih menggelayut, Kris Wiluan tetap menyisipkan nada optimis bagi perekonomian dalam negeri. Ia menilai Indonesia memiliki resiliensi atau daya tahan yang cukup kuat dibandingkan banyak negara lain.
Fokus utama para pengusaha saat ini adalah bagaimana tetap kreatif dalam menarik investasi dan menciptakan solusi yang mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja di tengah situasi sulit.
#batam #ekonomi-batam #kepri #riau #kepulauan-riau #ekonomi-riau #pertumbuhan-ekonomi #pertumbuhan-ekonomi-batam
https://sumatra.bisnis.com/read/20260504/534/1971062/batam-jadi-motor-ekonomi-kepri