Daging yang menyeberangi batas

Daging yang menyeberangi batas

Di sudut desa yang tak pernah benar-benar sepi dari suara ternak, seorang peternak menimbang seekor sapi dengan tatapan penuh hitungan.Bukan sekadar soal ...

(Antara) 05/05/26 06:41 211089

Perjalanan peternak Jawa Timur menuju pasar global bukan sekadar soal menjual daging ke luar negeri. Ia adalah cerita tentang perubahan cara berpikir dari bertahan hidup menjadi berdaya saing, dari pasar lokal menjadi pemain dunia.

Surabaya (ANTARA) - Di sudut desa yang tak pernah benar-benar sepi dari suara ternak, seorang peternak menimbang seekor sapi dengan tatapan penuh hitungan.

Bukan sekadar soal bobot atau harga jual di pasar lokal, melainkan tentang kemungkinan yang lebih jauh, yakni tentang bagaimana hasil peliharaannya suatu hari bisa menembus batas negeri.

Di kandang sederhana itu, arah usaha peternakan perlahan berubah mulai dari rutinitas harian menjadi bagian dari arus perdagangan global yang kian terbuka.

Dorongan untuk menembus pasar internasional bukan sekadar ambisi. Ia lahir dari kenyataan bahwa kebutuhan daging dunia terus meningkat, sementara Indonesia yang selama ini masih bergantung pada impor justru memiliki potensi besar untuk membalik keadaan.

Jawa Timur, sebagai salah satu lumbung ternak nasional, kini berada di titik krusial untuk bisa bertahan sebagai pemasok domestik atau naik kelas menjadi pemain global.

Data terbaru menunjukkan, kekuatan sektor peternakan di Jawa Timur tidak bisa dipandang sebelah mata. Ketersediaan sapi mencapai lebih dari 629 ribu ekor, jauh melampaui kebutuhan kurban yang hanya sekitar 70 ribu ekor.

Surplus juga terjadi pada kambing dan domba, masing-masing ratusan ribu ekor. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal kuat bahwa kapasitas produksi sudah melampaui kebutuhan lokal.

Namun, angka surplus hanyalah pintu masuk. Tantangan sesungguhnya justru dimulai ketika pasar yang dituju adalah dunia.


Pasar global

Pasar global daging bukan ruang kosong. Ia telah lama dikuasai oleh negara-negara seperti Brasil dan Australia yang memiliki sistem produksi efisien, standar kualitas tinggi, serta rantai pasok yang matang.

Ketika Jawa Timur menyatakan kesiapan memasok daging ke negara seperti Arab Saudi atau Malaysia, maka standar yang dihadapi bukan lagi sekadar kuantitas, tetapi kualitas, konsistensi, dan kepercayaan.

Di sinilah transformasi peternakan menjadi penting. Pengembangan sapi unggulan seperti Belgian Blue melalui teknologi inseminasi buatan dan embrio transfer menjadi contoh nyata bagaimana inovasi mulai diadopsi.

Sapi dengan karakter double muscle menawarkan hasil karkas lebih tinggi, lemak lebih rendah, dan nilai ekonomi yang lebih besar. Bagi pasar global yang menuntut efisiensi, karakter ini menjadi daya tarik tersendiri.

Namun, modernisasi genetika saja tidak cukup. Ada prasyarat lain yang tak kalah penting, yakni sistem kesehatan hewan yang kuat. Pengalaman menghadapi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menjadi pelajaran berharga bahwa satu celah dalam biosekuriti dapat mengguncang seluruh rantai produksi. Karena itu, pengerahan ribuan tenaga medis veteriner, paramedik, hingga juru sembelih halal bersertifikat menjadi langkah strategis untuk memastikan standar kesehatan terpenuhi.

Di sisi lain, aspek halal menjadi kunci penting, terutama untuk pasar Timur Tengah. Rumah Potong Hewan (RPH) harus memenuhi standar internasional, bukan hanya dari sisi syariah, tetapi juga kebersihan, traceability, dan keamanan pangan. Ini berarti investasi tidak hanya pada ternak, tetapi juga pada infrastruktur dan tata kelola.

Meski demikian, optimisme tetap perlu dibarengi kewaspadaan. Indonesia saat ini masih mengimpor sekitar 58 persen kebutuhan daging nasional. Artinya, sebelum berbicara ekspor, persoalan domestik belum sepenuhnya selesai. Ada paradoks yang harus diurai: bagaimana mungkin menargetkan pasar global ketika ketergantungan impor masih tinggi?

Jawabannya terletak pada strategi bertahap. Jawa Timur bisa menjadi lokomotif, tetapi gerbongnya harus diisi oleh provinsi lain melalui sinergi nasional. Tanpa itu, ambisi ekspor berpotensi menggerus pasokan dalam negeri dan memicu kenaikan harga.


Peternak tangguh

Di balik narasi besar tentang ekspor, ada aktor utama yang sering luput dari sorotan, yakni peternak kecil. Mereka adalah tulang punggung produksi, tetapi sekaligus pihak paling rentan ketika pasar berubah.

Kebijakan impor daging selama ini kerap menjadi dilema. Di satu sisi, impor dibutuhkan untuk menutup defisit dan menstabilkan harga. Di sisi lain, masuknya daging murah dari luar negeri dapat menekan harga di tingkat peternak lokal. Jika tidak diatur dengan hati-hati, peternak justru menjadi korban di tengah upaya membuka pasar global.

Di sinilah kebijakan harus berpihak secara cerdas. Impor dalam bentuk sapi hidup untuk pembibitan masih bisa diterima karena memperkuat kualitas genetik. Namun, impor daging jadi perlu dikendalikan agar tidak mematikan insentif produksi lokal.

Selain itu, persoalan klasik seperti pakan, akses pembiayaan, dan skala usaha masih menjadi hambatan. Banyak peternak bekerja dalam skala kecil dengan produktivitas terbatas. Tanpa intervensi, mereka akan sulit memenuhi standar ekspor yang menuntut konsistensi volume dan kualitas.

Solusi yang bisa didorong adalah penguatan koperasi atau klaster peternakan. Dengan skala kolektif, peternak dapat meningkatkan daya tawar, menekan biaya produksi, dan memenuhi standar pasar global. Pendampingan teknologi juga perlu diperluas, tidak hanya pada reproduksi, tetapi juga manajemen pakan dan kesehatan.

Digitalisasi menjadi peluang lain yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Sistem pencatatan ternak berbasis digital dapat meningkatkan traceability, sebuah syarat penting dalam perdagangan internasional. Dengan data yang transparan, kepercayaan pasar akan lebih mudah dibangun.

Yang tak kalah penting adalah memastikan keberlanjutan. Pasar global kini semakin sensitif terhadap isu lingkungan. Produksi daging harus memperhatikan jejak karbon, penggunaan air, dan kesejahteraan hewan. Jika tidak, produk lokal akan kalah bersaing, bukan karena kualitas daging, tetapi karena standar etika produksi.


Masa depan

Jawa Timur telah menunjukkan bahwa ia memiliki modal kuat, yakni populasi ternak besar, inovasi teknologi yang mulai berkembang, serta dukungan kebijakan yang relatif konsisten. Namun, untuk benar-benar menembus pasar global, diperlukan lompatan yang lebih terstruktur.

Pertama, penguatan ekosistem dari hulu ke hilir harus menjadi prioritas. Dari pembibitan, pakan, hingga distribusi, semua harus terintegrasi.

Kedua, standar internasional harus dijadikan acuan utama, bukan sekadar target jangka pendek.

Ketiga, perlindungan terhadap peternak kecil harus tetap menjadi fondasi agar transformasi tidak meninggalkan mereka.

Lebih jauh, ambisi ekspor seharusnya tidak hanya dipahami sebagai peluang ekonomi, tetapi juga sebagai jalan menuju kedaulatan pangan. Ketika produksi dalam negeri kuat dan mampu bersaing di pasar global, ketergantungan impor akan berkurang secara alami.

Perjalanan peternak Jawa Timur menuju pasar global bukan sekadar soal menjual daging ke luar negeri. Ia adalah cerita tentang perubahan cara berpikir dari bertahan hidup menjadi berdaya saing, dari pasar lokal menjadi pemain dunia.

Dan di kandang-kandang sederhana itu, masa depan tersebut sedang dijahit, perlahan, tetapi pasti.

Copyright © ANTARA 2026

#daging #peternak #jatim #ekspor #global

https://www.antaranews.com/berita/5553955/daging-yang-menyeberangi-batas