BEM USU Laporkan Dugaan Bawang Merah Ilegal, Mentan Langsung Minta Polisi Turun Tangan
Mahasiswa laporkan bawang merah ilegal dan pupuk langka, Mentan langsung minta penindakan cepat dan pencabutan izin perusahaan.
(Kompas.com) 06/05/26 11:41 212887
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sumatera Utara Muzammil Ihsan melaporkan dugaan bawang merah impor ilegal dari Thailand kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Laporan disampaikan dalam forum dialog di kediaman Amran, Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2026) pagi.
Amran mengumpulkan ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Pertemuan membahas tata kelola pertanian dan pangan.
Pantauan Kompas.com, mahasiswa hadir sejak pagi dan mengikuti dialog interaktif. Diskusi menyinggung peran distributor yang memengaruhi harga pangan.
Muzammil mengungkapkan petani di daerahnya sempat berunjuk rasa. Aksi dipicu beredarnya bawang merah ilegal di pasaran.
Menanggapi laporan tersebut, Amran langsung meminta jajarannya menghubungi kepolisian untuk menindaklanjuti dugaan penyelundupan.
“Ada juga mahasiswa tadi bawang ilegal dari Sumatera Utara,” kata Amran saat ditemui usai pertemuan.
Selain itu, Amran menerima laporan kelangkaan pupuk di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.
Seorang mahasiswa menyebut ada perusahaan yang diduga menjadi penyebab kelangkaan pupuk.
Amran merespons dengan meminta jajarannya turun ke lapangan untuk memeriksa laporan tersebut.
“Dicopot, dicopot tadi sudah dicopot (izinnya). Cuma sepuluh menit dicopot karena online. Dan itu diproses hukum,” ujar Amran.
Amran menyebut pertemuan ini bertujuan memberi penjelasan terkait tata kelola pangan dan pertanian.
Diskusi juga menyinggung program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih sebagai offtaker produk pertanian.
“Saya salut pada BEM mahasiswa yang hadir pada hari ini, cukup kritis tapi konstruktif. Bukan fitnah, kritis tapi konstruktif,” tutur Amran.
Ia menilai pemerintah membutuhkan kritik yang konstruktif untuk memperbaiki kebijakan.
Amran juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan berbagai elemen masyarakat.
“Kita tunjukkan pakai data, bukan opini, bukan untuk pencitraan, tapi kita tunjukkan apa adanya,” tutur Amran.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang