Menilik Potensi Bisnis Paylater Bank
Potensi bisnis BNPL perbankan masih besar, meski kontribusinya kecil. Pertumbuhan didorong oleh digitalisasi konsumsi, namun risiko kredit perlu diwaspadai.
(Bisnis.Com) 06/05/26 12:40 212934
Bisnis.com, JAKARTA — Produk buy now pay later (BNPL) perbankan masih memiliki ruang tumbuh yang besar, kendati belum menjadi mesin utama industri perbankan.
Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan porsi BNPL perbankan per Maret 2026 sebesar 0,33%, naik tipis dari 0,32% pada Februari 2026.
Otoritas mencatat baki debet BNPL tumbuh 24,20% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp28,3 triliun, melambat dari bulan sebelumnya 26,41% YoY. Sementara itu, jumlah rekening meningkat tipis menjadi 30,81 juta, dari posisi Februari 2026 yang sebesar 30,55 juta.
Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) Ganda Raharja Rusli menyampaikan, potensi bisnis BNPL sektor perbankan ke depan masih sangat terbuka.
Produk ini bahkan kemungkinan bisa menjadi produk pelengkap atau bahkan produk substitusi dari produk kartu kredit konvensional untuk transaksi bernilai kecil hingga menengah karena prosesnya yang jauh lebih praktis dan instan.
Bagi Allo Bank, BNPL sendiri merupakan salah satu dari produk pinjaman yang bank tawarkan dan memiliki kontribusi yang signifikan atas pendapatan bank saat ini. Kendati begitu, Ganda tidak mengungkapkan secara spesifik kontribusi BNPL terhadap pendapatan perseroan.
Ke depan, Allo bank akan terus mengintegrasikan layanannya dengan ekosistem bank, dengan ‘menjemput’ nasabah di tempat mereka berbelanja guna memperluas penetrasi BNPL.
Pembayaran via QRIS di merchant offline juga menjadi cara memperluas kegunaan paylater dari sekadar belanja online menjadi alat bayar harian.
“Bank juga akan terus mengintegrasikan fitur paylater bank langsung di halaman pembayaran (checkout) e-commerce,” ungkap Ganda kepada Bisnis, Selasa (5/5/2026).
Sementara itu, kinerja paylater PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) hingga kuartal I/2026 tetap menunjukkan pertumbuhan yang sehat. Hingga Maret 2026, pengguna layanan paylater BCA mencapai 192.000 nasabah, tumbuh 9% YoY. Sementara itu, outstanding Paylater BCA mencapai Rp342 miliar.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengungkapkan, pertumbuhan transaksi paylater utamanya untuk kebutuhan transaksi ritel serta mobilitas dan konsumsi nasabah, termasuk penggunaan pemesanan tiket pesawat dan hotel. Hal ini juga didukung momen Ramadan dan Lebaran 2026.
Adapun paylater BCA berkontribusi bagi pendapatan selain bunga BCA. Secara keseluruhan, pendapatan selain bunga BCA tumbuh 14,2% YoY pada kuartal I/2026, ditopang pendapatan fee dan komisi yang tumbuh 14,2% YoY.
Perseroan memastikan akan senantiasa membuka peluang untuk berkolaborasi dengan mitra bisnis dan menghadirkan program-program yang memberikan nilai tambah dan manfaat bagi nasabah.
“Kami juga senantiasa menghadirkan berbagai penawaran dan promo menarik sesuai dengan kebutuhan nasabah di berbagai segmen,” kata Hera kepada Bisnis, Selasa (5/5/2026).
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede mengatakan menilai, potensi pertumbuhan BNPL perbankan cukup kuat. Pasalnya, perilaku konsumsi masyarakat makin digital, transaksi harian makin banyak masuk ke kanal e-commerce dan aplikasi, serta bank memiliki keunggulan dari sisi basis nasabah, data transaksi, dana murah, dan akses ke sistem penilaian kredit.
Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) juga menunjukkan bahwa kredit konsumsi masih menjadi salah satu sumber pertumbuhan kredit baru pada kuartal I/2026, terutama dari kredit multiguna, kredit tanpa agunan, dan kredit kendaraan bermotor. Itu artinya, kata dia, permintaan terhadap pembiayaan konsumsi tetap ada, termasuk produk bernilai kecil yang prosesnya cepat dan mudah.
Kendati begitu, Josua mengingatkan bank untuk berhati-hati, mengingat BNPL sangat bergantung pada kualitas penilaian risiko.
“Semakin mudah proses persetujuan, semakin besar risiko nasabah mengambil kredit berulang di banyak tempat tanpa kemampuan bayar yang memadai,” kata Josua kepada Bisnis, Selasa (5/5/2026).
Dibandingkan perusahaan pembiayaan dan pinjaman daring, Josua menilai bahwa bank sebenarnya memiliki peluang yang lebih sehat untuk mengembangkan BNPL.
Masih merujuk data OJK, BNPL perusahaan pembiayaan per Maret 2026 tumbuh jauh lebih cepat yaitu 55,85% YoY menjadi Rp12,81 triliun, dengan NPF gross 2,51%, menunjukkan pasar BNPL secara umum masih berkembang, tetapi juga semakin kompetitif.
Dalam posisi ini, Josua menyebut bahwa bank bisa masuk dengan model yang lebih terukur karena memiliki hubungan jangka panjang dengan nasabah, data rekening, histori transaksi, dan kemampuan mengintegrasikan BNPL dengan kartu debit, kartu kredit, mobile banking, payroll, dan merchant.
“Jadi ruang tumbuhnya ada, tetapi bank sebaiknya tidak sekadar mengejar volume, melainkan membangun BNPL sebagai bagian dari ekosistem transaksi dan loyalitas nasabah,” ujarnya.
Di sisi lain, Josua melihat bahwa dalam jangka pendek, BNPL belum bisa menjadi kontributor signifikan bagi pendapatan bank dalam beberapa tahun ke depan.
Dengan baki debet Rp28,3 triliun dibanding total kredit perbankan Rp8.659 triliun, kontribusinya masih sangat kecil, bahkan belum akan menjadi penggerak utama pendapatan bunga industri jika tumbuh hingga tiga kali lipat.
Namun bagi bank tertentu, terutama bank dengan basis digital besar, nasabah ritel aktif, dan kerja sama merchant yang luas, BNPL bisa menjadi sumber pendapatan yang menarik melalui pendapatan bunga, biaya layanan, peningkatan transaksi, dan peluang menjual produk lain.
Dengan kata lain, lanjut dia, BNPL belum menjadi mesin utama industri perbankan, tetapi bisa menjadi mesin pertumbuhan ritel bagi bank yang mampu mengelola data dan risiko secara disiplin.
Tantangan utamanya ada pada kualitas kredit dan perlindungan konsumen. Secara umum, kualitas kredit perbankan masih terjaga dengan NPL gross 2,14%, NPL net 0,83%, Loan at Risk 8,94%, dan CAR 25,09% pada Maret 2026, memberi ruang bagi bank untuk berekspansi.
Meski demikian, BNPL memiliki karakter risiko yang berbeda dari kredit biasa karena tenor pendek, nilai kecil, jumlah transaksi banyak, dan sering digunakan oleh kelompok muda atau nasabah yang belum punya rekam kredit panjang.
Apabila tidak dikendalikan BNPL dapat mendorong konsumsi berlebihan, meningkatkan gagal bayar kecil-kecil dalam jumlah besar, dan menurunkan kualitas portofolio ritel.
Karena itu, pertumbuhan BNPL harus dibatasi oleh kemampuan bayar, histori transaksi, rasio utang nasabah, dan keterhubungan data lintas lembaga melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).
#paylater-bank #bisnis-paylater #potensi-bnpl #bnpl-perbankan #buy-now-pay-later #bnpl-indonesia #bnpl-pertumbuhan #bnpl-transaksi #bnpl-risiko #bnpl-ekosistem #bnpl-konsumen #bnpl-digital #bnpl-pendap
https://finansial.bisnis.com/read/20260506/90/1971754/menilik-potensi-bisnis-paylater-bank