Asuransi Sinar Mas Ungkap Penyakit yang Banyak Diklaim di Asuransi Kesehatan
Asuransi Sinar Mas mengungkap penyakit yang banyak diklaim adalah jantung, kanker, dan stroke. Klaim menurun, namun biaya kesehatan naik karena inflasi medis.
(Bisnis.Com) 07/05/26 12:23 214136
Bisnis.com, JAKARTA — PT Asuransi Sinar Mas (ASM) membeberkan beberapa jenis penyakit yang banyak diklaim oleh para pemegang polis pada akhir-akhir ini.
Direktur Asuransi Sinar Mas, Dumasi M. M. Samosir menyebut klaim masih didominasi oleh penyakit katastropik seperti jantung, kanker, dan stroke.
“Kemudian, penyakit degeneratif seperti diabetes dan hipertensi, hingga kasus rawat inap dengan tindakan medis berbiaya tinggi,” ujarnya kepadaBisnis, dikutip pada Kamis (7/5/2026).
Dikatakan Dumasi, secara keseluruhan nilai klaim asuransi kesehatan perusahaan cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh dinamika portofolio yang terjadi dalam periode berjalan.
Jika dilihat lebih dalam, imbuhnya, khususnya dari sisiburning costper peserta, terdapat tren peningkatan pada periode Januari hingga Maret 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya
“Hal ini menunjukkan bahwa secaraunderlying, tekanan biaya kesehatan masih cukup tinggi, terutama didorong oleh inflasi medis dan peningkatan biaya tindakan,” jelasnya.
Lebih lanjut, dia turut mengungkapkan dari sisi pasar pertumbuhan asuransi kesehatan masih didorong oleh segmen korporasi (employee benefit) dan segmen ritel kelas menengah yang semakin sadar akan pentingnya proteksi kesehatan.
“Adapun, premi asuransi kesehatan masih menunjukkan pertumbuhan. Namun, biaya pengobatan di fasilitas kesehatan juga mengalami peningkatan akibat kenaikan harga obat dan perawatan,” tuturnya.
Lebih jauh, dia juga mengungkapkan sederet strategi yang dijalankan dan terintegrasi dari sisi underwriting hingga pengelolaan klaim untuk menjaga rasio klaim asuransi kesehatan.
Pertama, melakukan penguatanunderwritingyangprudent. Perusahaan menerapkan seleksi risiko secara disiplin dan tidak terlibat dalam kompetisi harga yang tidak sehat, sehingga kualitas portofolio tetap terjaga.
Kedua, proses klaim yang menyeluruhdengan penerapan fungsigatekeeperdanutilization review. Dalam pengelolaan klaim, perusahaan memastikan setiap tindakan medis yang diklaim sesuai secara medis dan wajar secara biaya, sekaligus mencegah overutilization melalui proses review yang komprehensif.
“Ketiga, penguatan kapabilitas medis. Termasuk pembentukanMedical Advisory Boarddan optimalisasi peran tim medis internal untuk mendukung pengambilan keputusan klaim yang lebih akurat,” ucap Dumasi.
Keempat,digitalisasi dan integrasi dengan rumah sakit dengan sistem terintegrasi untuk meningkatkan transparansi, mempercepat proses klaim, serta mendukung pengendalian biaya dan deteksi potensi fraud.
Kelima,edukasi peserta dan kolaborasi denganstakeholder. Perusahaan mendorong pemanfaatan layanan kesehatan secara tepat serta memperkuat kerja sama dengan rumah sakit dan regulator.
“Dengan pendekatan tersebut, perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara pelayanan yang optimal bagi peserta dan keberlanjutan kinerja keuangan perusahaan. Kami juga konsisten melaksanakan Health Talk kepada nasabah ASM sejak tahun 2010 hingga saat ini setiap 2 minggu,” pungkas Dumasi.
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio klaim lini usaha asuransi kesehatan makin terkendali. Klaim asuransi kesehatan pada Januari 2026 tercatat pada level 40,85% untuk asuransi jiwa dan 17,75% pada asuransi umum.
#asuransi-kesehatan #penyakit-katastropik #klaim-asuransi #penyakit-degeneratif #biaya-kesehatan #premi-asuransi #inflasi-medis #proteksi-kesehatan #seleksi-risiko #proses-klaim #digitalisasi-klaim #ed