Kemenkes: WNA Kontak Erat Hantavirus Dinyatakan Negatif
Kemenkes menyatakan WNA di Jakarta negatif hantavirus setelah kontak erat di kapal MV Hondius. Pemeriksaan cepat dilakukan, hasil negatif, namun kewaspadaan tetap diperlukan.
(Bisnis.Com) 11/05/26 19:25 218176
Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan seorang warga negara asing (WNA) di Jakarta yang menjadi kontak erat kasus hantavirus dari kapal pesiar MV Hondius dinyatakan negatif. Pemeriksaan dilakukan setelah adanya notifikasi internasional dari International Health Regulation (IHR) Inggris pada 7 Mei 2026 malam.
Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan respons cepat langsung dilakukan begitu laporan diterima dari otoritas kesehatan internasional.
“Begitu kami menerima notifikasi pada 7 Mei pukul 21.55 WIB, kami langsung melakukan koordinasi dan keesokan harinya penyelidikan epidemiologi dilakukan. Ini penting untuk memastikan risiko penularan bisa segera dikendalikan,” ujarnya.
Kasus ini berawal dari kontak erat seorang WNA di Jakarta dengan dua kasus konfirmasi dari kapal pesiar MV Hondius. Salah satu kasus dilaporkan merupakan perempuan berusia 69 tahun yang meninggal setelah perjalanan dari St. Helena menuju Johannesburg, Afrika Selatan.
Kontak erat tersebut diketahui sempat berada dalam satu penerbangan dan satu penginapan dengan kasus kedua selama perjalanan lintas negara tersebut. Informasi ini kemudian dilaporkan melalui sistem IHR dan ditindaklanjuti oleh otoritas kesehatan.
WNA yang diperiksa merupakan laki-laki berusia 60 tahun yang tinggal di Jakarta Pusat dan bekerja di perusahaan asing. Dia tidak mengalami gejala, namun memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol serta kebiasaan vaping.
Kemenkes kemudian melakukan pemeriksaan laboratorium lengkap dari berbagai spesimen, termasuk serum, urin, saliva, usap tenggorok, dan darah lengkap. Hasil seluruh pemeriksaan menunjukkan hasil negatif hantavirus.
“Seluruh sampel yang diperiksa, baik PCR maupun spesimen lainnya, hasilnya negatif hantavirus. Ini menjadi kabar baik dari proses investigasi ini,” ujar Andi.
Dari hasil penelusuran epidemiologi, WNA tersebut memiliki riwayat perjalanan ke beberapa lokasi di Amerika Selatan sebelum naik kapal MV Hondius, termasuk Argentina dan St. Helena, hingga kemudian kembali ke Indonesia pada akhir April 2026.
Setelah notifikasi dari Inggris diterima, Kemenkes langsung melakukan isolasi, pemantauan, serta koordinasi dengan WHO, RSPI Sulianti Saroso, BBLK Jakarta, dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Pasien saat ini masih dalam pengawasan medis meski dalam kondisi stabil.
Meski hasil pemeriksaan menunjukkan negatif, Andi mengingatkan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Hal ini merujuk pada laporan global yang mencatat tingkat fatalitas kasus di kapal pesiar tersebut.
“Perlu tetap waspada karena dalam klaster global yang dilaporkan WHO, terdapat tiga kematian dari kasus di kapal pesiar tersebut dengan case fatality rate mencapai 37,5 persen,” ujarnya.
Kasus di kapal MV Hondius sendiri merupakan bagian dari klaster penyakit pernapasan akut yang kemudian teridentifikasi sebagai Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) dari strain Andes. Virus ini dikenal memiliki tingkat kematian tinggi dan dapat menular melalui paparan rodensia atau tikus.
Meski demikian, Kemenkes menegaskan bahwa hingga saat ini Indonesia belum pernah melaporkan kasus HPS. Yang tercatat hanya infeksi Hantavirus tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dalam jumlah terbatas sejak 1991.
“Di Indonesia, sampai saat ini belum ada laporan penularan HPS dari tikus ke manusia. Kasus yang ada hanya HFRS dalam jumlah terbatas,” kata dr. Andi.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah memperkuat sistem surveilans penyakit infeksi emerging, termasuk pemeriksaan di pintu masuk negara, penggunaan thermal scanner, serta aplikasi All Indonesia untuk pelaku perjalanan internasional.
Selain itu, pengawasan dilakukan oleh 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan di seluruh Indonesia serta penguatan deteksi di 21 rumah sakit rujukan nasional untuk memastikan kasus serupa dapat segera diidentifikasi.
Kemenkes juga terus melakukan pemantauan faktor risiko pada hewan pembawa penyakit, penyelidikan epidemiologi, serta pelaporan dan sistem peringatan dini untuk menjaga kesiapsiagaan nasional terhadap penyakit menular baru.
#hantavirus-negatif #kemenkes-wna #kontak-erat-hantavirus #kasus-hantavirus #pemeriksaan-laboratorium-hantavirus #epidemiologi-hantavirus #kapal-pesiar-mv-hondius #hanta-pulmonary-syndrome #strain-ande