Indonesia menghadapi ancaman hantavirus di tengah sanitasi buruk. Pemerintah memperketat pengawasan dan mitigasi, namun masalah utama adalah lingkungan dan populasi tikus. [1,312] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Ketika dunia belum sepenuhnya pulih dari trauma pandemi Covid-19, Indonesia kembali dihadapkan pada alarm penyakit menular baru.
Kasus hantavirus tipe hantavirus pulmonary syndrome (HPS) yang terdeteksi pada kapal pesiar MV Hondius langsung memicu kewaspadaan pemerintah karena varian tersebut memiliki tingkat fatalitas global hingga 60%.
Kementerian Kesehatan mulai memperketat pengawasan pelaku perjalanan internasional, memperkuat kapasitas laboratorium, hingga mengaktifkan kembali sistem mitigasi berbasis pengalaman pandemi.
Namun di balik langkah-langkah teknis tersebut, para epidemiolog mengingatkan bahwa ancaman terbesar justru masih bersumber dari persoalan lama yang belum pernah benar-benar selesai: sanitasi lingkungan yang buruk, populasi tikus yang tidak terkendali, dan lemahnya budaya kesehatan publik di Indonesia.
Kasus hantavirus yang terdeteksi pada kapal pesiar MV Hondius menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit zoonosis belum berhenti meski pandemi Covid-19 telah berlalu. Pemerintah kini bergerak cepat menyiapkan langkah mitigasi untuk memastikan kasus tersebut tidak berkembang menjadi wabah yang lebih luas.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Andi Saguni menegaskan pemerintah berharap kasus hantavirus tetap terbatas di lingkungan kapal dan tidak berkembang menjadi pandemi global.
“Kita harap bahwa itu tidak menjadi pandemi dan cukup di klaster MV Hondius tersebut,” ujar Andi usai konferensi pers di Auditorium Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).
Pernyataan itu mencerminkan kehati-hatian pemerintah dalam membaca potensi ancaman penyakit menular baru. Terlebih, pengalaman pandemi Covid-19 masih membekas kuat dalam memori publik maupun birokrasi kesehatan nasional.
Namun berbeda dengan Covid-19 yang menyebar melalui transmisi antarmanusia secara masif, hantavirus memiliki pola penularan yang lebih spesifik. Virus ini umumnya ditularkan melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Meski begitu, varian hantavirus pulmonary syndrome (HPS) dikenal memiliki tingkat fatalitas yang jauh lebih tinggi dibanding tipe lain.
Menurut Andi, tipe HPS yang ditemukan pada kasus MV Hondius memiliki fatalitas global sekitar 60%.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding tipe hantavirus hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) yang selama ini lebih umum ditemukan di Indonesia dengan fatalitas sekitar 5% hingga 15%.
Data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat memang menunjukkan hantavirus pulmonary syndrome termasuk penyakit dengan tingkat kematian tinggi. Penyakit ini pertama kali menarik perhatian global setelah wabah di wilayah Four Corners, Amerika Serikat, pada awal 1990-an.
Gejala awal HPS biasanya menyerupai flu biasa seperti demam, nyeri otot, dan kelelahan. Namun dalam beberapa hari, kondisi pasien dapat memburuk drastis akibat gangguan pernapasan akut karena cairan memenuhi paru-paru.
Karena belum ada pengobatan spesifik maupun vaksin efektif untuk HPS, deteksi dini dan pencegahan menjadi faktor paling penting.
Menyadari risiko tersebut, Kementerian Kesehatan mulai memperkuat sistem mitigasi nasional. Salah satu fokus utama pemerintah adalah penguatan kapasitas laboratorium untuk mendeteksi infeksi hantavirus secara cepat.
“Untuk laboratorium tentunya kapasitas laboratorium, PCR maupun ELISA itu kita lengkapi,” kata Andi.
PCR dan ELISA merupakan dua metode pemeriksaan utama yang digunakan dalam identifikasi penyakit menular berbasis virus. PCR digunakan untuk mendeteksi materi genetik virus, sementara ELISA berfungsi mengidentifikasi antibodi dalam tubuh pasien.
Andi mengatakan pengalaman pandemi Covid-19 menjadi modal penting dalam membangun kesiapan sistem respons penyakit menular di Indonesia.
Selama pandemi Covid-19, Indonesia memang melakukan ekspansi besar-besaran terhadap kapasitas laboratorium molekuler nasional. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan jumlah laboratorium PCR di Indonesia meningkat tajam selama pandemi, dari hanya puluhan laboratorium menjadi ratusan fasilitas yang tersebar di berbagai daerah.
Ancaman yang Berasal dari Tikus dan Sanitasi Buruk
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan sendiri mengakui bahwa penyakit menular seperti hantavirus sangat berkaitan erat dengan kondisi lingkungan.
Oleh karena itu pemerintah mengimbau masyarakat meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta menjaga kebersihan rumah dan kawasan permukiman untuk mencegah berkembangnya populasi tikus.
Selain masyarakat umum, pekerja yang beraktivitas di lingkungan berisiko tinggi juga diminta meningkatkan kewaspadaan.
“Penggunaan masker, boot, kemudian juga handscoon atau glove itu harus,” kata Andi.
Kelompok pekerja seperti petugas kebersihan, pengelola sampah, pekerja saluran air, hingga pekerja pelabuhan memang termasuk kategori berisiko tinggi terpapar penyakit zoonosis berbasis rodent.
Selain penguatan mitigasi domestik, pemerintah juga mulai memperketat pengawasan pelaku perjalanan internasional.
Andi mengatakan perhatian khusus diberikan kepada penumpang dari kawasan Amerika Selatan, termasuk Argentina, yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi terkait kasus hantavirus.
Pengawasan dilakukan melalui sistem digital kesehatan All Indonesia yang digunakan pelaku perjalanan internasional saat masuk ke Indonesia.
Penggunaan sistem digital kesehatan ini merupakan salah satu warisan transformasi sistem pengawasan pascapandemi Covid-19. Pemerintah kini memiliki sistem pencatatan perjalanan yang lebih terintegrasi dibanding era sebelum pandemi.
Selain itu, pemerintah juga masih memanfaatkan thermal scanner di pintu masuk internasional untuk mendeteksi penumpang dengan gejala demam atau gangguan pernapasan.
Menurutnya, apabila ditemukan indikasi penyakit menular tertentu, penumpang dapat langsung dirujuk ke rumah sakit rujukan pemerintah.
Andi juga menjelaskan bahwa Indonesia saat ini memiliki 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) yang tersebar di berbagai pintu masuk internasional.
Lembaga yang sebelumnya dikenal sebagai Kantor Karantina Kesehatan itu memiliki tugas utama mencegah masuknya penyakit menular dari luar negeri.
Namun para epidemiolog mengingatkan bahwa kesiapan laboratorium bukan satu-satunya faktor penting dalam menghadapi ancaman hantavirus.
Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia Pandu Riono menilai fokus utama seharusnya bukan sekadar pemeriksaan laboratorium, melainkan pencegahan di level lingkungan.
“Yang paling penting itu bukan laboratorium, bukan rumah sakit, bukan puskesmas. Yang paling penting itu pencegahan,” ujar Pandu.
Menurutnya, sumber persoalan utama justru berada pada populasi tikus yang masih tersebar luas di lingkungan permukiman, pasar, kantor, restoran, hingga pusat perbelanjaan.
“Tikus sebagai pembawa atau rodent itu ada di mana-mana. Ada di pasar, ada di kantor, ada di rumah, ada di mal, ada di restoran, ada di dapur,” katanya.
Pandu mengingatkan bahwa selama populasi tikus tidak dikendalikan, ancaman penyakit zoonosis akan terus muncul sewaktu-waktu.
Pernyataan tersebut menyoroti persoalan mendasar kesehatan lingkungan Indonesia yang selama ini belum terselesaikan. Data World Bank menunjukkan Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sanitasi dan sampah perkotaan.
Kementerian PUPR sebelumnya mencatat akses sanitasi aman di Indonesia masih belum merata, terutama di kawasan padat penduduk dan daerah tertinggal. Sementara pengelolaan sampah di banyak kota besar juga masih menghadapi persoalan serius, mulai dari keterbatasan infrastruktur hingga perilaku masyarakat.
Dalam konteks itulah Pandu menilai pemerintah seharusnya mengarahkan energi lebih besar pada pengendalian lingkungan dibanding sekadar menenangkan publik melalui langkah-langkah administratif.
Ia menilai pengawasan kesehatan lingkungan di fasilitas publik seperti restoran, hotel, pusat perbelanjaan, dan apartemen harus diperketat.
Menurut Pandu, Dinas Kesehatan harus lebih aktif memantau sanitasi dapur dan kebersihan tempat umum.
Pandangan Pandu memperlihatkan bahwa ancaman hantavirus sesungguhnya bukan sekadar persoalan virus baru, melainkan refleksi dari lemahnya tata kelola kesehatan lingkungan perkotaan Indonesia.
Pandu Riono bahkan secara terang-terangan mengkritik kecenderungan pemerintah yang terlalu fokus pada langkah-langkah simbolik.
Menurut Pandu, pengendalian populasi tikus dan sanitasi lingkungan seharusnya menjadi prioritas utama.
Meski demikian, sejumlah ahli menilai kesiapan Indonesia masih menghadapi banyak pekerjaan rumah, terutama di daerah.
Pelajaran Covid-19 dan Sistem Kesehatan yang Masih Pincang
Ketua Umum Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia Trubus Rahardiansah mengatakan sistem antisipasi penyakit menular Indonesia memang mengalami kemajuan dibanding masa awal pandemi Covid-19, tetapi belum sepenuhnya optimal.
Menurutnya, pola respons pemerintah masih cenderung reaktif.
Trubus mengakui koordinasi pusat dan daerah saat ini lebih baik dibanding masa pandemi Covid-19 awal. Namun ia menilai kapasitas respons antarwilayah masih timpang.
“Mungkin untuk Jakarta dan kota-kota besar agak lebih siap. Tapi kalau provinsi-provinsi atau daerah kategori 3T belum,” ujarnya.
Persoalan geografis Indonesia menjadi tantangan besar dalam membangun sistem surveillance kesehatan nasional yang benar-benar merata.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan tingkat akses layanan kesehatan yang sangat bervariasi antarwilayah.
Karena itu, meski sistem digital kesehatan nasional berkembang pesat pascapandemi, efektivitas implementasi di lapangan masih sangat dipengaruhi kesiapan infrastruktur daerah.
Trubus menilai reformasi kesehatan pascapandemi memang menghasilkan kemajuan tertentu.
“Sekarang lebih terintegrasi karena pemerintah juga sudah menggontorkan anggaran cukup besar terkait deteksi dini,” katanya.
Namun ia menegaskan tantangan terbesar justru berada pada aspek sosial dan budaya masyarakat. Menurut Trubus, kesadaran kesehatan masyarakat Indonesia masih sangat beragam.
Karena itu ia menilai pemerintah perlu membangun komunikasi risiko yang lebih luas melalui kolaborasi dengan berbagai komunitas sosial.
Kontak erat kasus Hantavirus dari kapal MV Hondius masih diobservasi di RSPI Sulianti Saroso meski hasil PCR negatif. Kemenkes pantau kondisi sesuai panduan WHO. [412] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Kesehatan menyatakan kontak erat dari kasus Hantavirus yang berkaitan dengan kapal MV Hondius masih menjalani observasi di RSPI Sulianti Saroso.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Andi Saguni mengatakan secara prosedur Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, kontak erat sebenarnya dapat menjalani isolasi mandiri apabila hasil pemeriksaan PCR telah dinyatakan negatif.
“Kontak erat itu masih ada di Rumah Sakit Infeksi Sulianti Saroso,” ujar Andi usai konferensi pers di Auditorium Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, penumpang kapal MV Hondius yang telah diperiksa menggunakan tes PCR dan memperoleh hasil negatif sebenarnya diperbolehkan menjalani karantina mandiri sesuai panduan WHO.
“Ketika penumpang yang turun dari kapal MV Hondius tersebut sudah diperiksa PCR-nya dan dinyatakan negatif, itu bisa dilakukan isolasi atau karantina secara mandiri,” katanya.
Meski demikian, Kemenkes masih memantau perkembangan kondisi para kontak erat tersebut.
Andi mengatakan fasilitas tempat tinggal salah satu kontak erat bahkan dinilai sudah memenuhi syarat untuk pelaksanaan isolasi mandiri karena berada di apartemen dengan tingkat pengamanan dan fasilitas memadai.
“Dan itu sangat memungkinkan untuk dilakukan isolasi mandiri sebenarnya karena sudah sesuai dengan prosedur atau protokol panduan yang dikeluarkan oleh WHO,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Andi juga menjelaskan peran 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) yang tersebar di berbagai pintu masuk internasional Indonesia.
Menurutnya, BKK yang sebelumnya bernama Kantor Karantina Kesehatan memiliki fungsi utama melakukan pencegahan dan penangkalan masuknya penyakit menular dari luar negeri.
“Fungsi utamanya adalah untuk cegah dan tangkal. Jadi jika terjadi peningkatan kasus yang berpotensi wabah di luar negeri, tugas kantor kekarantinaan kesehatan adalah mengamati dan melindungi terhadap kemungkinan masuknya penyakit dari luar,” katanya.
Ia mencontohkan kasus hantavirus menjadi salah satu alasan pentingnya pengawasan terhadap penumpang internasional, baik melalui jalur udara maupun laut.
Kemenkes, kata Andi, melakukan pemantauan lebih intensif terhadap penumpang dari negara atau wilayah tertentu yang telah teridentifikasi memiliki risiko penularan penyakit.
Salah satu langkah pengawasan yang dilakukan adalah pemeriksaan suhu tubuh menggunakan thermal scanner di bandara dan pelabuhan internasional.
Selain itu, pemerintah juga memanfaatkan sistem digital kesehatan bagi pelaku perjalanan internasional melalui aplikasi All Indonesia yang menggantikan formulir manual berbasis kertas.
“Kalau memang ada kecenderungan seperti demam atau batuk berat, itu bisa terdeteksi oleh sistem tersebut,” ujarnya.
Menurut Andi, data yang diisi pelaku perjalanan dalam sistem digital tersebut akan menjadi peringatan dini bagi otoritas kesehatan apabila ditemukan indikasi penyakit menular.
“Apabila terdapat gejala yang mengarah pada penyakit tertentu, penumpang dapat langsung dirujuk ke rumah sakit yang telah ditunjuk pemerintah untuk penanganan lebih lanjut,” tuturnya.
Beragam peristiwa ekonomi terjadi pada Selasa (12/5), mulai dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) perketat pengawasan terhadap pelaku perjalanan ... [513] url asal
Jakarta (ANTARA) - Beragam peristiwa ekonomi terjadi pada Selasa (12/5), mulai dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) perketat pengawasan terhadap pelaku perjalanan dari empat negara hingga Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memastikan MRT Fase 2A beroperasi pada 2027.
Berikut sejumlah berita ekonomi kemarin yang menarik dibaca kembali pada Rabu pagi ini.
1. Bandara Soetta perketat pengawasan pelaku perjalanan dari empat negara
Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, melakukan pengetatan pengawasan terhadap kedatangan pelaku perjalanan udara dari empat negara yang diantisipasi terjadinya penemuan kasus penularan Hantavirus.
"Jadi kami melakukan pengetatan pengawasan terhadap negara-negara yang sudah menemukan atau teridentifikasi ada virus Hanta," kata Kepala BBKK Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini di Tangerang, Selasa.
2. Purbaya: Insentif EV tekan impor BBM saat harga minyak global tinggi
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, insentif kendaraan listrik (electric vehicle/EV) diberikan untuk menekan impor bahan bakar minyak (BBM) di tengah harga minyak global yang diperkirakan masih tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
“Kelihatannya perang masih panjang. Artinya, konsumsi BBM kita juga akan masih tinggi dan dengan harga yang lebih tinggi. Kalau saya bisa pindahkan ke listrik (lewat insentif untuk kendaraan listrik), itu akan mengurangi impor (BBM) kita dengan signifikan,” kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Selasa.
3. Bahlil pastikan stok BBM hingga LPG di atas standar minimum nasional
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan stok energi nasional dalam kondisi aman setelah melaporkan langsung kesiapan pasokan kepada Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa.
"Saya melapor kepada Bapak Presiden terkait dengan kesiapan untuk BBM kita sampai dengan hari ini, maupun LPG, maupun crude, semua di atas standar minimum nasional," kata Bahlil.
4. Rosan: Danantara buka peluang akuisisi saham Eramet di Weda Bay
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyatakan, pihaknya terbuka dengan berbagai peluang investasi strategis di Indonesia, termasuk mengakuisisi saham perusahaan asing.
Hal ini disampaikan Rosan menanggapi isu Danantara akan mengakuisisi saham perusahaan Prancis Eramet di PT Weda Bay Nickel (WBN), Maluku Utara. Menurut dia, Danantara selalu siap untuk menjalin kerja sama strategis, termasuk melakukan aksi korporasi.
"Kita sih pada dasarnya terbuka, ya atas diskusi kemudian pembicaraan mengenai investasi yang ada di Indonesia dan kita kan Danantara ini bisa menjadi strong local partner juga, kan ya," ujar Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau progres pembangunan stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) Fase 2A Harmoni-Sawah Besar, Jakarta, Selasa, untuk memastikan operasional MRT berjalan sesuai tenggat waktu pada akhir 2027 untuk rute Bundaran HI-Monas.
"Ini adalah proyek kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah. Secara keseluruhan tadi sudah dilaporkan Pak Dirut, progres pembangunannya sudah mencapai 59 persen. Di akhir tahun 2027, HI-Monas tersambung dan sudah beroperasi," kata Wapres Gibran saat memberi keterangan di lokasi proyek tunnel MRT Harmoni-Sawah Besar, Jakarta, Selasa.
Kemenkes menyatakan WNA di Jakarta negatif hantavirus setelah kontak erat di kapal MV Hondius. Pemeriksaan cepat dilakukan, hasil negatif, namun kewaspadaan tetap diperlukan. [545] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan seorang warga negara asing (WNA) di Jakarta yang menjadi kontak erat kasus hantavirus dari kapal pesiar MV Hondius dinyatakan negatif. Pemeriksaan dilakukan setelah adanya notifikasi internasional dari International Health Regulation (IHR) Inggris pada 7 Mei 2026 malam.
Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan respons cepat langsung dilakukan begitu laporan diterima dari otoritas kesehatan internasional.
“Begitu kami menerima notifikasi pada 7 Mei pukul 21.55 WIB, kami langsung melakukan koordinasi dan keesokan harinya penyelidikan epidemiologi dilakukan. Ini penting untuk memastikan risiko penularan bisa segera dikendalikan,” ujarnya.
Kasus ini berawal dari kontak erat seorang WNA di Jakarta dengan dua kasus konfirmasi dari kapal pesiar MV Hondius. Salah satu kasus dilaporkan merupakan perempuan berusia 69 tahun yang meninggal setelah perjalanan dari St. Helena menuju Johannesburg, Afrika Selatan.
Kontak erat tersebut diketahui sempat berada dalam satu penerbangan dan satu penginapan dengan kasus kedua selama perjalanan lintas negara tersebut. Informasi ini kemudian dilaporkan melalui sistem IHR dan ditindaklanjuti oleh otoritas kesehatan.
WNA yang diperiksa merupakan laki-laki berusia 60 tahun yang tinggal di Jakarta Pusat dan bekerja di perusahaan asing. Dia tidak mengalami gejala, namun memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol serta kebiasaan vaping.
Kemenkes kemudian melakukan pemeriksaan laboratorium lengkap dari berbagai spesimen, termasuk serum, urin, saliva, usap tenggorok, dan darah lengkap. Hasil seluruh pemeriksaan menunjukkan hasil negatif hantavirus.
“Seluruh sampel yang diperiksa, baik PCR maupun spesimen lainnya, hasilnya negatif hantavirus. Ini menjadi kabar baik dari proses investigasi ini,” ujar Andi.
Dari hasil penelusuran epidemiologi, WNA tersebut memiliki riwayat perjalanan ke beberapa lokasi di Amerika Selatan sebelum naik kapal MV Hondius, termasuk Argentina dan St. Helena, hingga kemudian kembali ke Indonesia pada akhir April 2026.
Setelah notifikasi dari Inggris diterima, Kemenkes langsung melakukan isolasi, pemantauan, serta koordinasi dengan WHO, RSPI Sulianti Saroso, BBLK Jakarta, dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Pasien saat ini masih dalam pengawasan medis meski dalam kondisi stabil.
Meski hasil pemeriksaan menunjukkan negatif, Andi mengingatkan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Hal ini merujuk pada laporan global yang mencatat tingkat fatalitas kasus di kapal pesiar tersebut.
“Perlu tetap waspada karena dalam klaster global yang dilaporkan WHO, terdapat tiga kematian dari kasus di kapal pesiar tersebut dengan case fatality rate mencapai 37,5 persen,” ujarnya.
Kasus di kapal MV Hondius sendiri merupakan bagian dari klaster penyakit pernapasan akut yang kemudian teridentifikasi sebagai Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) dari strain Andes. Virus ini dikenal memiliki tingkat kematian tinggi dan dapat menular melalui paparan rodensia atau tikus.
Meski demikian, Kemenkes menegaskan bahwa hingga saat ini Indonesia belum pernah melaporkan kasus HPS. Yang tercatat hanya infeksi Hantavirus tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dalam jumlah terbatas sejak 1991.
“Di Indonesia, sampai saat ini belum ada laporan penularan HPS dari tikus ke manusia. Kasus yang ada hanya HFRS dalam jumlah terbatas,” kata dr. Andi.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah memperkuat sistem surveilans penyakit infeksi emerging, termasuk pemeriksaan di pintu masuk negara, penggunaan thermal scanner, serta aplikasi All Indonesia untuk pelaku perjalanan internasional.
Selain itu, pengawasan dilakukan oleh 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan di seluruh Indonesia serta penguatan deteksi di 21 rumah sakit rujukan nasional untuk memastikan kasus serupa dapat segera diidentifikasi.
Kemenkes juga terus melakukan pemantauan faktor risiko pada hewan pembawa penyakit, penyelidikan epidemiologi, serta pelaporan dan sistem peringatan dini untuk menjaga kesiapsiagaan nasional terhadap penyakit menular baru.
Hantavirus di Indonesia sudah lama terdeteksi dengan risiko publik rendah. IDAI mengimbau masyarakat tetap waspada, menjaga kebersihan, dan menghindari tikus. [617] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Munculnya kasus hantavirus yang kembali menjadi sorotan internasional belakangan ini mengingatkan bahwa virus tersebut sebenarnya bukan ancaman baru. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat jejak paparan hantavirus di Indonesia sudah ada sejak puluhan tahun lalu dengan risiko terhadap publik yang relatif rendah.
Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI sekaligus Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga, dr Dominicus Husada, mengatakan masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Menurut dia, hantavirus memang perlu diwaspadai, tetapi risikonya terhadap publik secara umum relatif rendah.
“Gambar yang beredar di media sosial menurut saya terlalu menakutkan. Kita tidak setakut itu terhadap hanta, tetapi tentu jangan sampai lengah,” ujarnya dalam pemaparan, Jumat (8/5/2026).
Menurut Dominicus, hantavirus bukan virus baru. Virus ini telah lama dikenal dalam dunia medis dan umumnya ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus.
Penularan paling sering terjadi lewat partikel virus dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang terhirup manusia. Risiko paparan biasanya meningkat di ruang tertutup, terutama bila ada kontaminasi dari hewan pengerat yang membawa virus.
“Hampir semua hantavirus berkaitan dengan tikus. Pada hewan itu, virus bisa menetap lama tanpa gejala, tetapi tetap dapat menular,” jelasnya.
Secara global, data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan kasus hantavirus sempat cukup tinggi sebelum pandemi COVID-19. Tren tertinggi tercatat pada 2017 dengan 4.362 kasus, disusul 2019 sebanyak 4.194 kasus.
Setelah itu, jumlah kasus turun tajam. Pada 2021 hanya tercatat 67 kasus, lalu 116 kasus pada 2022, 100 kasus pada 2023, 72 kasus pada 2024, dan 328 kasus sepanjang 2025.
Sampai minggu ke-16 tahun 2026, jumlah kasus global tercatat 59 kasus. Secara kumulatif untuk periode 2025 hingga 2026 minggu ke-16, tercatat 387 kasus terkonfirmasi di 10 negara.
Negara-negara tersebut meliputi Argentina, Chile, Bolivia, Brazil, Panama, Paraguay, Uruguay, Amerika Serikat, Taiwan, dan Indonesia. Faktor risiko utama yang terus dicatat tetap sama, yakni kontak dengan rodensia yang terinfeksi.
Di tengah sorotan global itu, Dominicus menegaskan Indonesia sebenarnya telah lama mencatat keberadaan hantavirus. Kementerian Kesehatan mencatat 23 kasus hantavirus sejak 2015 yang tersebar di sembilan provinsi.
Kasus terbanyak ditemukan di Jakarta dan Yogyakarta, masing-masing enam kasus. Sisanya tersebar di Jawa Barat, Banten, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur.
“Artinya, hantavirus bukan barang baru di Indonesia. Kita sudah pernah mencatat kasusnya, tetapi memang tidak menyebar luas,” tegasnya.
Data penelitian AFIRE pada 2013–2016 juga menunjukkan paparan hantavirus sudah ditemukan di berbagai kota besar di Indonesia. Dari 327 sampel yang diuji, terdapat 38 kasus positif dengan tingkat positivitas 11,6 persen.
Prevalensi tertinggi tercatat di Denpasar sebesar 16,3 persen. Setelah itu, Surabaya 13,6 persen, Makassar 13,5 persen, dan Semarang 13,4 persen.
Sementara itu, prevalensi di Jakarta tercatat 11,1 persen, Bandung 6,7 persen, dan yang terendah di Yogyakarta sebesar 3,2 persen.
Penelitian yang sama juga menunjukkan paparan lebih banyak ditemukan pada orang dewasa dibanding anak-anak. Pada kelompok dewasa, tingkat positivitas mencapai 13,5 persen, sedangkan anak-anak 6 persen.
Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki tercatat memiliki angka paparan lebih tinggi. Tingkat positivitas pada laki-laki mencapai 15,6 persen, sedangkan perempuan 6,9 persen.
Menurut Dominicus, temuan-temuan tersebut memperlihatkan bahwa hantavirus di Indonesia bersifat sporadis. Meski kasusnya ada, penyebarannya tidak masif seperti penyakit pernapasan menular lain.
“Risiko terhadap publik relatif rendah. Ini bukan Covid, bukan influenza. Kalau tidak kontak erat atau tidak terpapar sumber infeksinya, kemungkinan tertular juga kecil,” pungkasnya.
IDAI mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir ataupun panik berlebihan menyikapi kasus hantavirus. Kewaspadaan tetap diperlukan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari paparan hewan pengerat.
“Jadi masyarakat tidak perlu khawatir atau panik berlebihan. Tetap waspada, jaga kebersihan lingkungan, hindari kontak dengan tikus atau kotorannya, dan bila ada keluhan setelah terpapar faktor risiko segera periksa ke fasilitas kesehatan,” tutupnya.